Pantai selatan Jawa punya mangrove, itu sebuah kejutan. Iya. Karena dalam sejarah mana ada mangrove yang hidup langsung menghadap samudra. Sudah mati duluan dilindas gelombang dan angin laut. Kalau toh ada itu sebuah perkecualian. Sebut saja di Pantai Cilacap, mangrove bisa tumbuh karena dihadang Pulau Nusakambangan. Ada juga mangrove di Haiti dan Fiji yang notabene negara kepulauan, tapi mangrove di sana kecil-kecil alias kerdil.

Itu penjelasan Pak Ito, salah seorang pionir penanaman mangrove di Pantai Samas, Jogjakarta. Pak Ito lalu berkisah bagaimana susahnya menghidupkan mangrove di Samas. Tak sekedar ditanam, tapi juga disuntik atau diinfus dengan zat-zat yang kebetulan tak dimiliki tanah setempat. Usaha yang dilakukan alumni Biologi UGM sejak tahun 2005 itu pun berbuah. Mangrove tumbuh di selatan Jawa bagian tengah.

Hari itu minggu ketiga bulan April. Bersama kawan saya Astarina, mantan penggiat lsm lingkungan dan kini menjadi mahasiswa paska sarjana Kehutanan UGM, kami mengiringi langkah Pak Ito. Membelah kota Jogja saat panas mulai turun, menuju  kawasan Desa Baros yang menjadi kawasan penghijauan mangrove.

Setelah berputar-putar naik motor, ditambah berjalan di rawa yang airnya menutup lutut akibat pasang laut, akhirnya kami tiba di Desa Baros. Mbah Petruk, salah satu sesepuh pendukung penanam mangrove menyambut kami dengan rasa rindu yang menggunung. Rindu yang terpancar dari kedua matanya, dari senyum yang pamerkan mulut ompongnya, sampai lenguhan gembira dan pelukan erat di pundak.

Suwe  kowe ora tilik aku nduk, le,” sapanya kemudian. Istrinya segera menyongsong dengan menyuguhkan keramahan khas orang desa. Sesisir pisang hijau, air putih, dan kacang goreng, sebagai pelepas penat dan dahaga.

Menurut Pak Ito, dulu susah sekali menggerakkan penduduk setempat untuk menanam mangrove. Kerap ketika dia menyuruh orang menanam, dia harus merogoh koceknya sebagai upah. Ketika mangrove ditanam, dia yang mengawasi pertumbuhannya, melihat tumbuhan tersebut bisa tumbuh dengan baik atau mengalami gangguan.

“Awalnya semua tumbuhan yang saya tanam mati. Lalu saya mulai menganalisa kandungan unsur di dalam tanah sini, mencari tahu unsur apa saja yang dibutuhkan tanaman tapi tak ada di tanah. Setelah tahu yang saya cari, mangrove yang tumbuh saya suntik dengan unsur yang tak ada tadi,” kisahnya.

“Nyuntiknya itu susah lho, Mbak. Aku sudah diajari berkali-kali tapi tetap saja sering salah,” kata Asta yang dulu pernah aktif di lsm Relung.

Hasil usaha Pak Ito, penduduk desa, dan kawan pegiat lingkungan, kini bisa saya rasakan. Saya melihat mangrove ada di mana-mana, menjadi benteng angin dan ombak. Misalnya yang berada di muara, paska gundukan pasir dan membentuk lorong yang indah.

Selama meninjau hutan mangrove, kerap saya temukan burung-burung air, itik, juga aneka satwa hilir mudik muncul secara acak di sana. Istri Mbah Petruk malah menemukan telur itik di sela-sela mangrove. Sesekali kami berpapasan dengan bocah berseragam pramuka atau sekolah menengah. Mereka sedang mengadakan penanaman mangrove di sini.

Di bagian mangrove yang langsung menghadap laut, tepat di belakang gumuk pasir, adalah tumbuhan berakar tunjang yang tinggi. Mangrove jenis ini mampu memecah ombak sehingga bisa mengurangi dampak tsunami.

Di belakang mangrove ini, ada mangrove yang berakar lutut dengan akar lebih pendek dan rendah. Sambil berjalan, tak henti Pak Ito menerangkan aneka jenis mangrove beserta fungsinya masing-masing. “Gelandi ini bisa mengobati cacingan, sedang jenis herguira bagus sebagai pewarna dan akan subur jika disiram dengan air sabun atau soda,” jelasnya. Ya, siapa sangka mangrove memiliki banyak fungsi. Saya merasa beruntung berjalan di samping Pak Ito dan Asta hari itu.

Sesekali saya melihat anak kepiting keluar. Namun saya belum menemukan ular. Laut masih pasang. Kami tak leluasa berjalan sepanjang tepi mangrove. Sesekali saya harus meloncat ke lading jagung dan sawah penduduk. Unik juga, di belakang hutan mangrove ada tegalan, kebun pisang, jagung, bahkan sawah. Di beberapa tempat malah saya temukan pohon jati.

“Kalau air surut kita bisa menuju ke gumuk pasir itu, menikmati ombak dari sana,” tambah Pak Ito. Tapi kalo air pasang yang lumayan besar, ombak bisa mencapai ke rumah penduduk, masuk ke kebun. Selain di Samas, Pak Ito juga sempat menanam mangrove di Muara Angke, Cilacap, Pandansimo di Purworejo, bahkan sepanjang di Pacitan. Diam-diam, pengabdiannya terhadap kelestarian habitat pantai luar biasa,

Sempat saya berpapasan dengan Mbah Mugo Sunaryo. Lelaki tua itu sedang menuntun sepedanya yang membawa pompa air. Berat tentu. “Nggak capek, Mbah?” Tanya saya dengan iba.

“ya capek. Tapi kalau nggak begini, padi di sawah bisa mati karena kurang air,” jawabnya sambil bersemangat. Sawah di tepi pantai ini tadah hujan. Lewat pompa air, penduduk mengalirkan air dari sungai menuju sawah.

Usai menyantap hidangan yang disediakan pasangan Mbah Petruk, kami pun manthuk. Matahari sudah sangat terik. Panasnya membakar kulit hingga telapak kaki. “Minggu depan ke sini lagi ya,” pesan Mbah Petruk. Kami mengangguk. Sepanjang perjalanan meninggalkan desa, mata saya memandang hamparan bawang merah yang dijemur. Saya lihat Pak Ito sudah jauh memacu motornya  di depan.