Girilaya ah.. Namamu mengingatkanku pada sebuah jalan lurus di kotaku, yang tembus menuju tempat paling seksi di dunia ala mataku, Dolly. Namamu juga mengetuk memori tentang sebuah dusun di Imogiri, dimana para perempuannya terampil menjentikkan jemari, menyapukan malam panas ke selembar kain, membentuk alunan lagu batik tulis.

Kawan saya, seorang antropolog muda yang gelisah, ternyata pecinta makam tua dan sulit diduga maunya. Suatu hari ketika saya minta diantar ke kampung Girilaya pagi sekali, dia justru muncul tengah hari. Banyak alasan dibuatnya. Ada tamu mendadak datang ke rumahnya, tidak tidur semalaman karena harus memotong bambu. “Ah, memotong bambu kok malam-malam,” pikir saya, “aneh sekali!”

Ketika akhirnya meninggalkan kota Jogja menuju Imogiri, kami berempat –saya, kawan saya yang antropolog, dan dua kawan lain- siap digongso matahari. Panas, menyengat, dan nyaris tak berangin. Setelah hampir satu jam menyisir jalan tepi kota, sampailah kami di sebuah persimpangan dipenuhi papan nama di pinggirnya.

Selamat Datang di Sentra Kerajinan Batik Giriloyo

Dusun Batik Tulis “Giriloyo”, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Jogjakarta 55782

Tak jauh dari situ, nampak plank besar yang menunjukkan kawasan wisata seni Giriloyo. Ada sentra kerajinan batik tulis, bambu, dan tatah sungging. Ada tempat-tempat gurah yang juga menjual teh, jahe, dan kapsul gurah. Tak ketinggalan pesareyan agung Giriloyo. “Banyak banget yang bisa dikunjungi,” pikir saya terkagum-kagum.

Semasa mahasiswa dan masih tinggal di Jogja, pernah saya dan seorang teman mengunjungi salah satu pusat gurah. Teman saya hendak menyembuhkan sinusitis yang dideritanya. Pada masa itu, rasanya jauh sekali kami bermotor, blasukan ke jalan desa dan sawah-sawah menghijau. Ketika teman saya sedang digurah, saya mesti menunggu sekitar satu jam. Pulangnya, tak henti-hentinya air menetes dari lubang hidungnya sementara kami berkendara.

Itu masa lalu. Kini kami ikuti arah kawan antropolog yang berkendara di depan. Seperti saya bilang, dia aneh. Bukannya langsung menuju sentra batik tulis, malah membelokkan motornya ke kawasan makam Cirebon. Setelah memarkir motor, memandang kulit kayu yang dijemur bakal teh gurah, kami mendaki tangga, menuju makam.

Makam Cirebon

Bangunan pertama yang kami jumpai adalah sebuah masjid yang sedang dalam perbaikan, beserta pendoponya yang luas. Sejenak berkenalan dengan juru kunci, mendinginkan pantat ke lantai pendopo yang anyes, kami mulai mengelilingi masjid yang cukup poranda itu. Memandang pemukul bedug dari kayu yang umurnya… wow, mungkin lebih seratus  tahun. Di kayu tersebut terukir “  KPBL 1856-1926 “ juga tanda mirip cakra atau matahari. Apa maksudnya ya? Ada yang tahu? Beri saya informasi, soalnya si juru kunci tak tahu maknanya ketika saya tanya.

Ika kawan saya, iseng mengambil kayu pemukul bedug dan mencoba menabuhnya. Sekedar bunyi, bukan suara membahana. Pandangan saya lalu berpindah ke tumpukan cangkir di meja. Cangkir-cangkir kotor pastinya, tapi itu cangkir antik. Kuno. Tergambar dari ornamen bunga pada dindingnya yang cantik. Begitu khas Cina.

Masih kurang puas, kami memasuki dalam masjid. Kayu-kayu penyanggah masjid masih kayu lama, juga gendang besar, mimbar buat kutbah Jumat. Saya masuki bilik shalat buat kaum perempuan. Ada beberapa gadis di sana. Sedang shalat Dzuhur. Setelah menyelesaikan salat Dzuhur, kami putuskan naik ke atas. Sowan ke makam Kanjeng Sunan Cirebon atau Panembahan Girilaya.

Sepanjang perjalanan, Pak Har yang menjadi juru kunci, menerangkan seluk-beluk makam ini. Banyak detilnya. Panjang ceritanya. Mirip kisah mitos-mitos di setiap makam raja-raja Jawa. Saya sekejap menyimak, sekejap percaya, sekejap tak percaya. Sebetulnya kami tak benar-benar menyimak kisah Pak Har. Teman saya yang antropolog justru  menertawakan dengan matanya.

“Cerita yang diulang-ulang, mirip anak sekolah yang menghafalkan pelajaran.” Dua kawan lain justru khusuk memperhatikan sebuah ulat yang menyelubungi tubuhnya dengan kepompong. Aih, jadi ingat wabah ulat bulu.

Dari semua rangkaian kisah si juru kunci, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa ini makam tertua, yang dibangun sekitar abad ke-15 oleh Sultan Agung. Sunan Cirebon adalah sekutu dan sahabat seperjuangan Sultan Agung.

Ketika menuju makam Panembahan Giriloyo, ketiga teman saya bubar dengan alasan entah apa. Takut dimintai sumbangan oleh juru kunci mungkin, hehe.. Saya mengikuti langkah juru kunci masuk ke makam, bersila di atas tikar yang digelarnya. Ada tungku kecil dan sisa dupa di kiri saya. Ada orang semedikah di sini? Oh..

“Mbak silakan berdoa kepada Yang Maha Esa, memohon agar keinginan Mbak dikabulkan. Bukan berdoa kepada makam, lho,” guraunya halus. Takut saya jadi musyrik mungkin. Hahaha.. Sekilas saya dengar tadi kalau perawakan Sunan Cirebon dulu tinggi besar, gagah, dan putih.

Eeeh.. baru saja saya duduk, selesai melafalkan Al Fatihah, tiba-tiba muncul sosok tinggi putih di kanan saya. Hawa sekitar saya menjadi semriwing, namun bersahabat. “Saya senang kamu main ke sini,” tegurnya, lewat bahasa yang menembus langsung ke otak saya.

Apa yang kamu minta? Aku bisa memberinya. Minta bukumu laku? Minta kaya? Bisa jalan kemana pun kamu suka? Aku bisa memberikan semuanya! “ Tawarannya sungguh menarik hati. Sayang dia makhluk kasat mata.

Saya menolak. ”Saya nggak minta apa-apa. Sudah cukup apa yang saya miliki. Terimakasih,” balas saya dengan membatin. Sombong.

Ya sudah, justru karena nggak minta, kamu akan dapatkan apa yang kau mau. Yang hati-hati dalam menjalani hidup. Tak semua manusia baik dan tulus.” Itu nasehat terakhirnya sebelum menghilang. Saya mengangguk, memandangnya dengan ujung mata kanan. Juru kunci masih terpaku di tempatnya.

Lepas meninggalkan tempat itu, benar saja si juru kunci menagih uang sedekah. Tak mau menunggu sampai kami tiba di bawah ia. “Di sini saja Mbak, malu dilihat orang kalau di bawah nanti,” lirih dia berkata. Saya angsurkan selembar uang berwarna hijau lumut. Semoga cukup buat berempat.

Ketika akhirnya sampai di masjid kembali, saya lihat ibu-ibu bekerja bakti, mengangkat batu dan pasir, buat membangun pagar masjid. Kenapa ibu-ibu? Mana bapak-bapaknya? Sebelumnya tadi, sempat saya dengar jurukunci berbicara dalam bahasa Jawa dengan pengeras suara, memohon warga berkumpul di masjid. Warga yang mayoritas pengrajin batik tulis itu dimintanya menghentikan pekerjaan membatik mereka, berhenti sebentar dari mencari uang untuk bekerja bakti di masjid.

Kampung Batik Tulis

Lagi-lagi kawan saya antropolog punya selera aneh. Dia menuntun kami menuju kampung batik yang letaknya paling ujung, ke rumah Mbak Amiroh kenalannya. Kami mesti memacu motor naik ke ujung bukit, sebelum memasuki halaman yang tak begitu luas. Dua perempuan sedang membatik di halaman yang mirip parkiran motor itu. Di sampingnya anak-anak kecil bermain atau mengawasi dari atas bayang.

Sejenak berbincang dengan Mbak Amiroh dan teman-temannya, kami lalu menuju ke rumahnya yang juga berfungsi sebagai galeri. Di sudut ruang tamu berjajar kain batik tulis yang sudah jadi. Aneka ragam corak dan motifnya. Harganya pun beragam, antara Rp 250.000 sampai Rp 400.000. Ada juga yang Rp 150.000, tapi motifnya sangat sederhana, mirip lurik.

Kawan antropolog rupanya kesengsem dengan batik berwarna tua bermotif unik. Campuran antara udang-udangan dan bunga-bungaan. Harganya Rp 250.000. Sedang Ika tertarik dengan batik bermotif kotak-kotak warna merah. Coraknya memang beda, sangat modern dan ‘eye catching’. Kalau dibuat busana kesannya metropolis tapi batik. Ahahaha..

Mbak Amiroh menerangkan kalau batik Girilaya lumayan dikenal kini. Ada saja orang datang untuk membeli batiknya, terutama di akhir pekan. Biasanya mereka menuju koperasi di bawah. “Pantas, harganya pun tak ada yang murah. Beda dengan batik Madura langganan saya di Bangkalan,” pikir saya. Selain kain batik, dijual juga tempat HP, tas cangklong, kaos, dan syal. Saya lebih tertarik dengan kaos berlukis batik, walau berukuran gombrong. Terjangkau kantong sih!

Sejenak saya melihat anak Mbak Amiroh yang bungsu, masih SD, sudah mulai membatik. Hanya batik di kain perca saja, penghias tas cangklong yang dijual ibunya. Keyakinan saya bahwa ketrampilan membatik diajarkan secara turun-temurun ada benarnya.

Bisa jadi, mayoritas perempuan di Girilaya bisa membatik. Karena anak-anak melihat ibunya setiap hari berlepotan dengan malam panas, membuat pola, hingga mewarnai pola. Setiap hari. Dari amben tempat bermain mereka. Tak salah jika kampung di sini mengidentifikasikan diri sebagai ‘Desa Wisata Seni, Batik Tulis’, bukan kompleks lokalisasi ala Dolly.