Dihimpit Manusia Kereta

Perjalanan ke barat selalu menyisakan sunyi. Selalu begitu. Seperti perjalananku ke barat setahun lalu, di bulan September, beberapa hari paska lebaran. Namun karena sejak awal aku menyadari berjalan sendiri, jadi makhluk soliter, maka perjalanan itu tak berasa menyakitkan. Demi mengejar informasi dari seseorang yang bakal melengkapi catatan perjalananku ke timurlah, maka aku menuju barat.

Namun perjalananku ke barat tahun ini lebih banyak menyesakkan dada. Berharap penuhi undangan kawan di saat yang salah, akhirnya aku harus sendiri tanpa persiapan. Perjalanan yang kuimpikan indah dan berwarna, berubah menjadi abu-abu dan sunyi. Mirip nyanyian kematian.

Harusnya kusadari perjalanan kali ini salah mangsa. Mirip kemarau basah. Berangkat aku dari Stasiun Pasar Turi menuju Batavia, naik kereta api ekonomi Jayabaya Utara. Cuma Rp 44.000 tiketnya, namun entah kenapa kereta di hari Kamis itu penuh sesak. Jauh dari perkiraanku bahwa kereta akan kosong dan menyisakan tempat duduk. Akhirnya aku harus berdiri 15 jam di sambungan gerbong paling belakang, sambil memandang sebuah gerbong kosong melompong di bagian paling belakang terkunci rapat. Ah betapa mubazirnya. Ketika begitu banyak orang berhimpitan di gerbong, tersebar memenuhi lantai, sambungan, wc, namun ada sebuah gerbong melompong yang tak boleh orang huni.

Aku akhirnya duduk berhimpit-himpitan dengan para pejantan di lantai. Ketika hujan mengguyur dan airnya masuk ke gerbong, serentak kami berdiri selamatkan diri. Rembesan air basahi lantai tempat kami duduk, menggenang enggan mengalir. Untung hujan tidaklah lama, dan banyak kaki-kaki sukarela menyapu genangan air keluar. Setelah dialas koran dan kardus, akhirnya kami bisa duduk kembali. Terantuk-antuk melepas kantuk.

Baru kemudian kusadari sebagian besar temanku di sana adalah orang Madura. Iya, mereka menjadi pedagang asongan dan penjual makanan di Batavia. Itu kutahu dari pembicaraan telepon antara beberapa di antaranya. Ada yang mengangkat hp-nya lalu bercakap dengan majikannya, ada yang ngobrol dengan anak bininya. Yah begitulah, mereka jelata papa, dan aku bahagia bersama mereka, meski sebagian diriku dilapis pilu dan sepi akibat bertikai dengan seorang karib jelang keberangkatan.

Bersama para jelata yang tak hirau bahaya, tak takut miskin, tak cemaskan sakit fisik dalam keterbatasan, aku merasa hidupku cukup. Berbagi kertas koran dan kardus sebagai alas lantai untuk duduk dengan mereka, membuatku merasa tidak sendiri. Walau lelah, aku tak peduli. Bayangan indah Malingping, Sarwana, atau perjumpaan akrab dengan karib yang baru bertikai sungguh menggoda mata dan hati. Kupikir karibku hanya marah sementara. Siapa nyana dia tak begitu, bahwa aku harus berjalan sendiri akhirnya nanti. Mimpiku terbang terlalu tinggi. Tinggi ditiup angin hingga lenyap meninggalkanku. (bersambung)