Dawai Biola di Taman Sunyi

Stasiun Jatinegara jelang tujuh pagi. Aku terduduk di situ, di tepi orang lalu lalang. Tunggu teman. Aku mengantuk. Tak hirau sekitar, aku tidur. Sejenak. Sebelum kawanku muncul, lalu kami sarapan soto dan menghentak menuju sebuah taman.

Dulu, bertahun lalu kerap kulalui taman itu. Pernah sekali aku lapor polisi di taman itu paska dompetku dicopet. KTP, ATM, SIM, dan surat pentingku hilang. Sedih sekali rasanya malam itu. Ibukota memang lebih kejam ketimbang ibu tiri. Setahun aku bekerja di Batavia, dua kali kecopetan. Sejak saat itu aku mirip enggan punya dompet.

Tapi pagi ini, ketika matahari tak sangar amat, Taman Suropati ibarat surga dadakan. Kami mulanya mau tuju kota tua. Gerah dan padatnya bus kota membuatku segera turun di tengah jalan, berteduh di taman ini. Sejenak kami tuntaskan kantuk dan obrol tak perlu, tatap hijau dedaun dan pokok menjulang, lalu datanglah dua anak muda. Satu bawa biola satu lagi bas betot besar. Sesekali kulihat satu dua muda-mudi berjalan sambil nenteng tas biola di punggungnya. Alangkah romantisnya. Kami pun terdiam, ikuti alunan dawai. Lupa sejenak tikai sengit dengan karibku. Otak menyegar. Lalu kami tuju kota tua, naik bajai ke stasiun Gondangdia, baru ganti kereta api ke kota.

Aku buta musik, tak kenal nada. Asal genjreng gitar aku bisa. Tapi pahami note mirip mengenal ujung kuku sendiri aku tak bisa. Jadi aku turut saja apa kata kawan. Kutapaki sejuknya krl ber-AC dengan kantuk dan galau. Ini Batavia boo! Hooi, aku sudah membatavia lagi buat yang keempat kali paska kepulanganku dari Malaysia dulu. Dan mungkin aku akan bertemu karibku. Namun ia sedang tak mau diganggu.

Aku suka Tchaikovsky tapi tak sempat tergila-gila dengan gay super jenius itu. Aku suka gesekan dawainya yang melengking aneh, seolah lukiskan galau hatinya seumur hidup. Aku ingat karibku yang kerap bikinku galau. Hubungan kami aneh, absurd, nyaris tak berkata suara. Hanya huruf-huruf yang sering menipu, sembunyikan pilu dan sunyi tanpa peduli. Language is design to hide feelings or the truth. Aku percaya itu.

Stasiun kota. Kutapaki kaki tanpa jarak. Berdua kami tergoda atap bangunan yang nyaris runtuh. Berlobang, bercabik, menyaring cahaya dari semua sisi.

ย 

โ€œKalau mau, kita bisa naik ke atas dengan membayar sedikit uang,โ€ ujar temanku. Sayang aku tak berhasrat, terlalu lelah.

Jadi kami hanya berjalan ke sana ke sini. Kumainkan lensa kamera di tanganku, dia mainkan video merk sony di tangannya. Kadang kutancap atap rongkah, kadang dia buru meriam yang tak bernyawa. Banyak atraksi, banyak yang bisa diungkap, kota tua hari ini agak ramah. Mentari tak menyengat, kami pun berjingkat. Mirip penari balet yang diiringi swan lake-nya si Pyotr Ilych Tchaikovsky tadi.

Jelang makan siang, lelah sudah tak tertahankan lagi. Sudah saatnya kunjungi teman lama, pikirku. Sekedar bersapa dan makan siang di rumahnya, cukuplah. Beranjangsana. Kuajak kawanku. Dia tak menolak. Berjumpa tokoh idola, katanya, yang sempat berkolaborasi di dunia maya sungguh menyenangkan. Maka pergilah kami ke Kebun Jeruk, ganti busway dua kali, dan dua kali pula ingatan soal bakutikai itu sempat singgah.

Kawanku Kebun Jeruk ini mirip tokoh klasik abad pertengahan. Baik rautnya maupun kehidupannya. Tak pernah lepas dari unsur sephia dan nila. Bertemu dengannya ibarat menimba sebuah sumur. Kau harus lemparkan ember kuat-kuat menghujam permukaan air, agar penuh air ditampung. Kalau tidak, kau mesti mainkan tali berkali-kali mirip membacok pokok, agar ember penuh. Setelah itu baru kau tarik talinya, dan angkat ember itu.

Begitulah kawanku. Kami makan siang di rumahnya, santap penganan yang dia bawa dari bakery-nya, dan minum sirop yang aku lupa apa namanya. Sayang, kawan mudaku pulang duluan. Ada janji dengan pacarnya, katanya. Maka aku tinggal sementara dengan kawan lamaku, ngobrol dengan anaknya yang super aneh cantiknya, lalu menunggu kawan lama satunya menjemput usai pulang kantor. Berdua dengan kawan emo melankolisku, kami ibarat la belle sans regret-nya sting. Ah, kenapa aku ikut-ikutan mellow? Apa ini pengaruh darinya? (bersambung)

Advertisements