Malam telah larut. Latihan bersama baru saja bubar. Mas Abu, pelatih kami, sedang menggiring peserta latihan menuju pondok sederhana yang tersebar di Pantai Parangkusumo. Dibanding jumlah peserta yang mencapai lima ratusan, jumlah pondok gedhek, bambu, di sini jelas tak mencukupi. Satu pondok dengan dua tiga kamar untuk dua puluh orang. Wow, empet-empetan mirip kandang kelinci.

“Kemana kita Ry?” Hairy dan Zet berjalan mengikutiku yang sedang ucul, melarikan diri.

“Jalan aja ah, ke Parangtritis,” ajakku. Parangkusumo-Parangtritis sekitar 2-3 km, bisa ditempuh kurang dari satu jam bila menyusur pasir.

“Masih kuat kamu? Ini sudah tengah malam. Latihan besok mulai jam 5 pagi,” Zet nampak khawatir.

“Justru aku yang khawatir sama kamu. Cowok kok gemulai,” balasku sambil tertawa.

“Okeh.. jalan. Kita ajak Nugraheni sekalian,” Hairy memanggil putri ibu kosku yang ayu itu.

Nugra masih SMA, dititipkan ibunya ke aku selama ikut latihan di Parangkusumo ini. Sementara Hairy dan Zet kuliah di kedokteran hewan. Aku sendiri ngendon di Sekip sebelum pindah ke Grafika.

Berempat kami berjalan beriring di pasir. Tertatih-tatih karena langkah mulai memberat. Sejak pukul tiga sore kami sudah mulai latihan. Nonstop. Cuma disela makan malam dan shalat. Latihan ilmu bela diri pernafasan lagi ngetren di Jogja. Banyak peminatnya. Mulai murid SMA, mahasiswa, sampai para manula.

Gerah tubuhku. Untung angin pantai lagi kencang-kencangnya bertiup. Kuingat,sore tadi nggak mandi. Rugi. Habis mandi, latihan lagi, keringatan lagi. Apalagi buat aku yang hobi gulung-gulung di pasir. Baru jalan satu dua jurus, sudah lari menghampiri ombak. Tubuhku pun klebus, kuyup, macam wedhus kehujanan. Susah juga jadi orang ‘peka’ sekaligus pekok.

Kami menyisir pasir bagian bawah, sambil mainan ombak. Jalan jadi terasa lebih ringan. Pasir yang basah lebih mudah dilalui. Apalagi kami nyeker, telanjang kaki. Mulanya suasana begitu sepi. Tak banyak orang yang lalu-lalang. Hanya satu dua tenda digelar oleh anak-anak yang camping.

“Cihuuuy.. swiit.. swiit,” Hairy mulai bersuit-suit riang.

“Ada apa?” tanyaku ingin tahu.

“Lihat dua mbak-mbak itu, melambaikan tangan ke arah kita,” siulnya riang. Dua puluh meter di depan kami, dua perempuan dengan roknya yang berkibar-kibar dihembus angin sedang melambaikan tangan ke arah Hairy.

Rupanya kami sudah memasuki kawasan Parangtritis. Pantas suasana mulai ramai. Apalagi malam minggu. Di sana-sini ada pasangan mojok. Pacaran. Ada pula yang main trek-trekkan motor. Bising. Untung nggak ada panggung terbuka yang menjyajikan pentas musik dangdut atau organ tunggal. Mungkin mereka tahu pantai  itu tempat yang romantis untuk pacaran atau indehoy. Bukan buat jojo-jiji.

“Ry dan Nugra jalan di belakang, biar aku dan Zet di depan,” perintah Hairy tiba-tiba. Aku tahu maksud nakalnya. Kutarik Nugraheni berjalan menyamping, menjauhi dua makhluk burket itu.

“Mas..  mau ditemani nggak,” sayup-sayup suara dua perempuan berkumandang. Menggoda. Mereka mendekati dua kawan premanku.

“Nggak.. Mbak, kita mau jalan-jalan saja, kok,” Hairy menolak ramah. Sementara Zet tersipu. Tapi kuyakin wajahnya pasti memerah.

“Ayo kita temani aja. Sepi yeee.. Mas, dari tadi belum dapat pelanggan.”,lagi-lagi suara mereka mendesah. Memaksa.

Kulihat dua kawanku nampak kikuk, salah tingkah. “Wah.. saya sudah bawa teman, Mbak. Itu..,” Hairy menunjuk ke arah kami. Membuat dua perempuan itu berlalu. Kecewa. Sambil ngedumel. Sementara Hairy cuma garuk-garuk kepala.

Ngakak kami melihat ulahnya. Tawa panjang yang baru berhenti setelah disumpal jagung bakar dan teh panas. Hairy, sohib berambut panjang ikal ini memang agak gila. Anak asli Lombok yang besar di Jogja ini tak pernah melewatkan kesempatan ngisengi orang, termasuk mbak-mbak tadi. Rupanya malam ini dia kena batunya.

Begitu jagung bakar tuntas dimakan, Zet mengajak pulang. Jarum jam sudah menunjukkan lebih pukul dua. “Kita mesti istirahat sebentar sebelum latihan nanti,” alasannya.

“Oke, tapi kita jalan sambil survey,” usulku.

‘Aku juga Ry, survey koran,” tambah Hairy.

“Survey tisu-lah, tisunya ciblak,” aku nggak mau kalah.

“Apalagi ini,” Zet menahan senyum. Walau kurang setuju, tak urung dia ikut kami jalan. Menyisir gunungan pasir yang diselang-selingi batu atau semak-semak.

Di antara batu atau semak-semak itu kami melongok, mencari-cari. Ya, kami mencari koran yang setengah basah atau tisu yang terbuang di sela-sela batu. Bekas-bekas orang yang baru ML. Bukan rahasia lagi kalau sepanjang Paris dan Parmo (singkatan Parangtritis dan Parangkusumo) sering dijadikan tempat ML gelap buat yang ogah merogoh kocek untuk sewa losmen.

Setiap kali menemukan tisu atau kertas koran bekas, salah satu di antara kami akan berteriak. “Hooi.. ada tisu. Masih basah !” atau “Korannya ada bercak-bercaknya.” Lalu kami bakar. Begitu terus sampai  Parmo.  Belasan tisu dan koran bekas kami razia malam itu hingga sampai pintu penginapan.

Advertisements