Mengumpat Eksklusivisme Mangrove

Aku punya kawan, mirip maya. Tapi kami kerap bertegur sapa via ym, fesbuk, smsan, japri, email, bahkan telpon-telponan. Kerap tegurannya kuanggap lamis, penuh basa-basi, jadi dia kuabaikan saja. Namun dalam perjalanan ke barat kali ini, iseng kubuat janji dengannya untuk motret bersama. Benar. Dia tukang foto yang handal. Geologis yang hobi masuk gua dan jeprat-jepret.

Begitu kawanku yang wartawan majalah mobil-mobilan menjemput malam itu, kami lalu berembug hendak motret kemana keesokan harinya. Tak lupa mengajak teman maya geologis itu (anehnya aku tak menganggapnya maya, aku merasa sudah sangat kenal). Kawasan hutan mangrove jadi pilihanku. Ya, Batavia tak banyak menawarkan alternatif liburan pelemas otak. Selain Kota Tua dan Sunda Kelapa, apalagi? Aku pilih hutan mangrove karena mau membandingkannya dengan mangrove di Jawa bagian lain. Ya, pasti masing-masing memiliki keunikan. Itu mula pikirku.

Pagi, lepas sarapan lontong sayur, kami berempat –teman fotografer lamis itu mengajak kawan Jogjanya- bergerak menembus belantara Jakarta. Kawasan hutan mangrove, Muara Angke tujuannya. Benar itu hari Sabtu, namun jalanan ibukota tak jua bebas dari macet, pengendara ugal-ugalan, dan sedikit panas. Jalanan yang membuat stres, bukannya  menenangkan. Kondisi begini membuatku rindu akan kopi ganja yang menenangkan, dan merangsang semburan inspirasi keluar.

Hampir satu jam mengendara, motor kami memasuki areal Suaka Margasatwa Muara Angke. Konon, ini suaka margasatwa terkecil di Indonesia, karena hanya ditumbuhi 30 jenis mangrove-mangrovan, 92 jenis margasatwa mulai burung air, biawak, hingga monyet ekor panjang.

Ramai orang ketika kami datang. Mirip ada acara digelar di sana. Sayang, kami alpa urus ijin masuk. Jadi tak bisa tengok kawasan hutan yang nampak asri dan dalam pembinaan itu. Untung sudah jeprat-jepret di sedikit bagian.

Tak patah arang, kami pun tuju Taman Wisata Alam Angke, Kapuk. Nyaris nyasar karena terpesona barak-barak bangunan mirip kongsi ala Malaysia pada pembangunan gedung Tzu Chi Centre. Ah, jadi ingat vihara buddha di tempat jauh. Ketika akhirnya kutemukan pintu masuk, ada sedikit heran dan tanya tersisa. Tempat itu begitu sepi, nyaris tak ada pengunjung.

Lalu kudengar tanya antara kawan wartawan mobil-mobilan dan satpam yang jaga,

Satpam : Berapa orang?

Kawan : empat!

Satpam : Kalau begitu empat puluh ribu. (sambil mengangsurkan empat lembar tiket masuk)

Satpam : Bawa kamera nggak?

Kawan : Kalau bawa kenapa?

Satpam : Mesti bayar lima ratus ribu?

Kawan : Kok mahal amat? Kayak pre wedding aja

Satpam : Iya, aturannya memang segitu

Kawan : Kalau kamera poket biasa masak segitu?

Satpam : Sama segitu, kalau tidak percaya mari saya tunjukkan aturannya di kantor

Kawan : Kalau kamera HP?

Satpam : Nah.. itu nggak apa-apa

Kawan : Kalau begitu saya pakai HP saja.

Kami yang berada di belakangnya, segera merapatkan barisan. Amunisi lengkap berupa kamera kami tutup rapat. Seolah kami orang udik yang mencoba bersenang-senang di hutan kota. Merem teknologi, apalagi potret memotret.

Menguap sudah nafsu mengeksplorasi tempat itu. Kami melangkah gontai, mirip enggan memasuki kawasan mangrove ‘terdidik’ itu. Kusebut terdidik karena sangat-amat artifisial. Iya, mirip kolam buatan. Di sana sini ada jalan batu yang tertata rapi. Di kiri kami ada semacam barisan pondok kayu dengan disain unik. Belum lagi rumah-rumahan mirip gedung pertunjukan, menara pandang, jembatan bambu, dan toilet bersama. Pokoknya berasa bukan di hutan, kalau sekilas pandang. Toh itu tak membuat mataku takjub berbinar atau berasa nyaman. Karena tetap saja hutan mangrove yang terik kalau siang dan banyak nyamuknya jika malam menjelang.

“Siapa ya yang mau foto pre-wedding di tempat ini?” tanya teman wartawan mobil-mobilan.

“Kalau mengambil foto harus bayar mahal, lalu bagaimana tempat ini bisa dipublikasikan bebas keluar? Masak harus selalu mengundang wartawan? Bukannya sekarang era orang bebas membuat blog dan menuliskan apa saja, termasuk tempat wisata?” Tak henti aku mengeluh.

Sembari berjalan gontai mengelilingi sebagian kecil areal taman wisata artifisial itu, sesekali aku mencuri foto dengan kamera di tas. Namun alangkah wagunya, karena satpam ada dimana-mana. Seolah dipasang ala kamera CCTV di alam bebas. Olala..

Di areal 99,82 ha mangrove ibukota ini aku menggelegak. Tak kagumi tempat, namun lebih mirip umpatan. Terngiang kisah kawan, Pak Ito, yang pernah menggarap wilayah ini. Katanya mangrove di seputaran Angke pernah sengaja dirusak, agar bisa dibeli murah oleh pihak investor. Setelah terbeli, maka investor ‘pura-pura’ melakukan penanaman mangrove kembali, demi menarik pengunjung. Hah.. ‘no comment’-lah. Hahaha

Siang itu kami tak berhasrat berjalan. Semangat belajar dan menikmati alam pupus oleh tarif mahal ala ‘pre wedding’. Hanya sebentar menerobos pondok-pondok kayu kecil yang tenyata beberapa gerendel pintunya rompal. Lalu menuju menara pandang beton yang ternyata tak boleh dinaiki karena salah konstruksi, lalu menyeberang jembatan kayu.

Hahaha.. kami terkikik memikirkan betapa mahalnya investasi di daerah mangrove ini, namun betapa rendah kualitas beberapa bangunannya. Kayu mencuat, hiasan pelir pintu mengelupas, jembatan salah konstruksi, ditambah mahalnya tarif inap di sini.

“Hei.. ini Jakarta Bung, apapun bisa dimainkan. Demi image, demi gengsi, demi pretensi!” Teriak otakku.

Olala.. pikirku, pantas aku tak betah di ibukota. Aku perkedilkan gengsi, aku tak peduli brand atau image, apalagi brand sebuah mangrove yang diusung dengan alasan komersialisasi dan dibungkus demi peduli lingkungan, hutan, alam, dan taik kucing lainnya. Hahaha.. mangrove ekslusif ini seolah menyadarkan aku akan nilai sebuah bangsa, sebuah identitas negara yang lebih setengah abad lamanya. Amboooi..! Nyaris aku lupa.