Nyaris senja. Kupandang sebuah candi tunggal berhias. Tubuhnya yang merah telanjang dipulir patung Buddha memutar penjuru mata angin. Meja persembahan, janur melengkung, lilin, calon obor dijepit bambu di mana-mana. Sunyi masih. Hanya beberapa orang berkaos kuning yang menyebut ‘panitia waisak 2011’ lalu lalang dengan kesibukannya. Ada juga satu dua ibu-ibu membawa anak-anaknya bermain ke sudut, menepi di pepohonan dekat kebun tebu.

Ah, tubuhku gerah. Sesiangan kuhabiskan masa meneropong kegiatan di Vihara Majapahit. Ini kali pertama upacara Tri Suci Waisak nasional digelar di Jawa Timur. Biasanya, Waisak nasional selalu berlangsung di antara Mendut-Borobudur. Sudah beberapa kali kuikuti upacara suci di sana. Begitu kolosal, diikuti belasan ribu umat. Jadi ajang hiburan  ribuan turis manca. Ingin kutahu bagaimana Waisak di Brahu. Sama kolosalkah? Atau ada yang unik.

Kubayangkan, dengan begitu banyaknya obor memutari candi, di pelataran maupun halaman jauh, acara bakal sakral dan khusuk. Brahu yang biasa gelap akan nampak temaram, magis. Roh Siwa-Buddha akan bangkit malam ini, dalam hening puja-puji para hamba.

Tapi apa nyana, ketika arak-arakan dari Vihara Majapahit memasuki halaman candi, ketika malam turun dengan sempurna, candi begitu benderang. Puluhan lampu sorot ada hampir di segala pandang. Paling banyak menghias altar utama. Menyorot para banthe yang coba tampil dalam kesederhanaan.

Memanglah ada belasan kamera video coba merekam acara, atau puluhan lensa fotografer hendak membidik titik sasar. Sasaran utama apalagi kalau bukan kepala plontos bhiksu, yang hendak mereka gambarkan sebagai wajah suci di antara para pendosa, umat. Bidikan yang kerap keterlaluan dan tak manusiawi. Seolah banthe itu patung, dan lensa-lensa kamera mirip mulut harimau yang siap menerkam mereka bulat-bulat. Huh!

Aku urung maju rekam acara. Kupilih tempat di sudut, ke bagian candi yang lebih lengang. Duduk paling belakang. Pelototi raut-raut umat yang datang. Seorang bapak dan putranya mendekatiku. Dari pakaian hitam-hitam yang dikenakannya, kutahu dia orang Bali.

“Datang dari Bali ya, Pak?”

“Saya memang orang Bali. Tapi orang Bali yang tinggal di Surabaya,” jelasnya tertawa.

Bersama 60 orang Bali lainnya, mereka datang untuk mengikuti perayaan Waisak.

“Ada juga orang Bali yang beragama Buddha ya, Pak?”

Bapak itu tertawa. Begitu tololkah pertanyaanku? Setahuku lebih 90 persen orang Bali penganut Hindu. Tapi ini…

“Candi Brahu kan candi Siwa-Buddha!”

Entah apa maksud penjelasan bapak tadi, tak urung membuatku berpikir, dan berpikir, mundur ke masa jauh.

Sinkretisme  Hindu dan Buddha di nusantara terjadi masa pemerintahan Majapahit. Kalau Buddha diwariskan oleh generasi Sailendra, maka Siwa banyak dianut oleh raja-raja Mataram kuno.

Keberadaan Candi Brahu sendiri masih menimbulkan kontroversi. Konon, candi seluas 22,5 mx18 m dengan tinggi 20 m ini dibangun pada abad ke-15. Candi ini merupakan tempat pembakaran jasad raja-raja Brawijaya, mulai Brawijaya I-V. Kesimpulan ini diambil dari nama Brahu yang berarti wanaru atau warahu atau abu.

Ketika malam meninggi, saat doa menggema, purnama pun malu-malu muncul dari selatan. Meninggi dan meninggi. Kuning kemerahan. Bahu candi pun memerah oleh lampu sorot. Bulir-bulir keringat menetes dari kening para bhiksu yang berdoa. Hening. Doa. Puja. Puji. Om Vajra Dupe A  hum.

Brahu yang sederhana menjadi merah. Kuning. Emas. Sederhana tapi hidup. Hidup tapi bersenyawa. Menerbangkan abu-abu dharma. Mengikut ajaran Sang Buddha. Ke arah angin meniup.

Advertisements