ke barat ke barat aku menuju, bertemu denganmu adalah harap lalu. ke barat ke barat aku tlah sampai, seret kaki dengan langkah gontai.

Mangrove bikin ku kecewa. Namun aku enggan larut. Senja, bersama kawan mobil-mobilan dan geologis tukang jepret, kuhabiskan hari di Kopitiam, berjumpa kawan aktivis LSM internasional. Mirip reuni, ketawa-ketiwi, bahagia bertutur tentang dunia di ambang akhir.

Kenyang perut sementara dari warkop kami menuju Ancol. Pandangi senja, makan angin laut, menatapi orang-orang metropolitan yang penuhi pantai artifisial dari ujung ke ujung. Sepertiku mereka tentu haus alam, dahaga damai, hingga harus memutari penjuru arus padat merayap menuju tempat yang disebut laut. Iya, laut yang tenang dengan ombak beriak.

Sejenak tenangkan pikir, kami pun berburu malam. Sudah kubulatkan niat hendak membogor esok. Jumpa kawan lama. Entah kemana setelah ini aku tak peduli. Terlanjur langkahkan kaki ke barat.

Dulu, semasa aktif di mapala kampus, aku punya kawan. Hitam manis dia. Tinggi kurus. Jarang bercakap. Namun sekali dia kubuat geli hingga terbahak. Saat kusebut ‘betapa menggiurkannya lipstik warna hijau bagi seekor kambing‘. Kini kami hendak bersua.

Dari kamar kos kawan kunaiki busway menuju terminal bus, lalu berganti arah ke Bogor. Sempat terbersit keinginan mampir sejenak, sekedar melunakkan marahmu, tapi kurasa sia-sia. Kau pasti tak berkenan.

Β 

Siang kusampai Buitenzorg, tuju Bogor Square. Si hijau kambing menunggu, dia masih seperti dulu. Kurus, tinggi, hitam. Dia menraktirku makan siomay, lalu segera kami berpisah. Ada pengajian kantor, katanya. Untung kawanku atlet renang dan selam telah menjemput. Ah, ternyata enak juga punya banyak teman dari masa lalu. Setidaknya ke barat kali ini tak terlalu sunyi.

“Kemana kita kali ini?” tanya kawanku.

“Motret, muter-muter,” aku asal jawab.

Maka jelang senja kami tuju Gunung Bunder. Begitu dia menyebutnya. Sebuah tempat yang belum pernah dia sambangi, dan dengar kabarnya dari konon kata temannya.

Tak peduli, kami terus bermotor. Tukik jalanan Bogor yang macet. Sesekali berhenti, tanya kiri-kanan, takut nyasar. Lebih satu jam kami melaju, hingga senja mulai turun. Tak terasa, motor mendaki bukit. Terus mendaki. Hingga kami masuki kawasan hutan, dengan sebuah papan nama bertuliskan, “Selamat Datang di Kawasan Taman Nasional Halimun“.

“Nggak salah?” aku terperanjat. Antara bingung dan senang. Ternyata Gunung Bunder itu di TN Halimun.

Memandang sekitar yang menggelap, aku mulai keder. ‘Angker nggak ya tempat ini?‘ Sebuah tanya yang segera pudar begitu berpapasan dengan deretan pengendara motor. Panjang. Anak-anak muda.

Ah, suasana di sini mengingatkanku akan jalur Bebeng pra Merapi meletus November tahun lalu. Mirip di sini. Warung kopi dan indomie di kanan-kiri jalan. Suasana yang asri. Cemara tinggi. Jurang. Hutan. Kicau burung dan derik serangga. Ahaha.. rupanya Tuhan ingin menghiburku, mengembalikan Merapi yang hilang, dalam perjalanan sepiku.

Aroma cemara basah bangunkan cuping hidungku, bangkitkan kenangan lalu tentang lereng Merapi, persahabatan antar anak gunung, dan paseduluran dengan penduduk sekitar. Banyak di antara kawanku, penduduk lereng Merapi, yang berpulang lebih dulu.

“Kita berhenti sebentar,” seruku kepada kawan atlit selam.

“Mau motret sunset?” tanyanya sambil menepikan motor. Aku tak berucap.

Sunset dimana-mana sama saja, pikirku. Sekedar peristiwa tenggelamnya matahari di langit barat, akibat perputaran bumi. Sepanjang umurmu sunset akan terus berlangsung, begitu-begitu saja. Manusia saja yang terlalu melebih-lebihkan, membuatnya sebagai peristiwa spektakuler, unforgotten moment.

Manusia kerap hanya menyadari ujung dan pangkal, kurang menghayati proses waktu. Maunya niat lalu ‘Blaar!‘ tercapai tujuan. Aku tak ingin gaduh dengan pikiranku sendiri. Segera kubidik langit merah. Mengenang lalu, mengenangmu, mengenang janji hanya sebuah kata, yang bisa berganti makna kapan saja.

Ketika kutinggalkan Gunung Bunder sejam kemudian, bau pucuk cemara basah masih lekat di cuping hidung. Kutahu cemara tak pernah berdusta, tak seperti mulut manusia yang manis renyah, dan kerap berkilah.

Advertisements