‘Dirampok’ Tukang Ojek

Barat itu sunyi. Terlebih jika kau susuri dari selatan. Iya, selatan. Sepanjang Bogor tuju Pelabuhan Ratu, lalu ke arah Bayah, Sarwana, Malingping, atau lanjut ke Rangkas Bitung. Aku berani berkisah karena pernah melaluinya. Perjalanan sunyi nan aneh. Bahkan kelebat sinar bulan pun enggan singgah menjenguk.

Malam itu, begitu turun dari Gunung Bunder, aku tidur tak nyenyak di rumah kawan atlit selam. Aku suka kehangatan hatinya, kebaikannya yang tak pudar dimakan waktu, atau kesuksesan karirnya. Dia masih seperti yang kukenal di awal tahun 2000-an. Tak berubah mirip pot kristal cina-cinaan ibuku. Bentuknya begitu-begitu saja, seperti dulu.

Jelang subuh kawan selamku mengantarku ke terminal Baronangsia. Bus jurusan Pelabuhan Ratu tujuanku. Bus Subuh itu ternyata berjalan mirip ular keket. Bukan karena macet, tapi sibuk jaring penumpang. Aku tidak sedang tergesa. Kantuk menidurkanku sekejap sekilas. Sesekali kuterjaga, saat bus lalui Kiara Dua, Sukabumi, atau planet Sunda entahlah.

“Kalau kau berangkat awal, akan dapat angkutan pertama menuju Bayah,” begitu petunjuk kawan mayaku yang pernah membayah. Nasihatnya benar kuikuti selama perjalanan kali ini. Bukan takut tersesat, tapi tak ingin kesulitan angkutan. Tahulah kau, ada beberapa bagian di Jawa yang susah transportasi umumnya. Bayah salah satunya.

Belum pukul sembilan sampai ku di Pelabuhan Ratu. Benar, seorang pemuda menyambutku, menungguiku menuju kamar kecil, sebelum mengajak ke colt yang disupirinya menuju Bayah. Ah, tentram hatiku. Lupa aku akan lilitan lapar karena sepagian tak makan. Pisang bakar dilabur coklat semalam lumayan membungkam ususku.

Sepanjang perjalanan enggan kutidur. Ini pertama kaliku membarat. Pemandangannya mirip desa-desa di Madura. Iya. Rumah sederhana, pepohonan, sawah, kambing. Kecuali mungkin bahasanya. Di sini bermukim orang Sunda, nenggeulis yang putih, cantik, bersih. Sempat kubaca plank nama bertuliskan, “Mak Erot, siap sedia melayani anda”. Ah, aku jadi teringat teman mayaku Budi Anduk. Hehe

Aku punya teman mapala, mirip kakak angkatan. Dia fotografer luar biasa. Hitam putih favoritnya. Kerap kulihat foto-foto indahnya tentang lanskap Malingping, Sarwana. Dia menganjurkanku singgah di Sarwana. “Kalau sampai di pertigaan Bayah-Sarwana, berhentilah. Lalu naik ojek ke Sarwana. Banyak penginapan di sana,” begitu pesan pendeknya di ponselku.

Namun aku tak hirau pesannya. Pertigaan tuju Sarwana kulalui. Aku terus melaju tuju Bayah. Nasehat teman membayahku untuk mampir di warung Mama Kunti di Karang Taraje pun tak kuhirau. Konon, Karang Taraje pusat mangkal prostitusi warungan.

Begitu colt berhenti di terminal Bayah, yang kutuju sebuah warung makan sederhana. Yang kupesan masih indomie yang termurah dan segelas kecil kopi. Sembari makan kutanya teteh penjaga warung perihal angkot ke Malingping.

Malingping jauh, masih 30 kilo lagi. Naek ojek aja, sewa setengah hari,” sarannya.

Tanpa pikir panjang, kuikuti sarannya. Apalagi teteh penjaga warung langsung menghubungi ojek kenalannya. ‘Siapa tahu dapat harga murah,’ begitu pikirku.

Delapan puluh rebu Teh, nggak bisa kurang. Teteh bisa pake saya sampai jam lima. Pulang dari  Malingping nanti saya antar ke Sarwana,” tukas tukang ojek. Tak bisa ditawar, apalagi dibantah. ‘Anjing!’ teriak otakku, lontarkan pisuhan pertama. Bahkan di Halmahera dan Morotai, sewa tukang ojek lebih murah. Lima puluh ribu untuk setengah hari.

Lebih pukul satu kami melaju menuju Malingping. Konon begitu katanya. Beberapa kali aku minta berhenti di tepi jalan untuk mengambil gambar. Tentang pengepul batubara muda yang siap dimasukkan ke truk untuk diangkut ke Bandung dan Jakarta. Tentang sawah-sawah menghijau di pinggir laut. Tentang pantai dan ombak yang memecah karang. Sempat juga kami tertahan lama oleh hujan yang tiba-tiba mencurah. Tukang ojek alpa bawa jas hujan.

Tak terasa kulalui Cibobas, Pulau Manuk, hingga tukang ojek membawaku ke tempat lelang ikan  di Muara Binuangen. Di banyak tempat aku berhenti dan motret. Di tempat pelelangan ikan kusempatkan ngobrol dengan nelayan, tanya ini-itu. Mirip peneliti saja, tapi jauh dari tampang jurnalis.

Selalu. Setiap kali aku berhenti agak lama, si tukang ojek mulai gelisah. Di tempat-tempat sebelumnya, paling lama aku berhenti lima menit. Di Muara Binuangen lebih setengah jam. Ingin kuajak dia minum. Namun wajah masamnya membuatku bergegas. Ternyata, dia tak membawaku sampai Malingping.

Tak ada apa-apa di Malingping, Teh. Setelah ini balik aja. Saya antar ke Sarwana,” bujuknya.

Okelah, pikirku. Toh aku sudah dapat banyak gambar. Masih pukul tiga. Belum dua jam perjalanan. Selama pulang menuju Malingping, aku minta berhenti di beberapa tempat yang sempat kulewatkan. Sekedar bicara dengan beberapa orang, cari data. Kuacuhkan wajah si kampret ojek yang geram.

Akhirnya kami menuju Sarwana. Aku minta diantar ke pantai. Belum ingin mencari penginapan. Hari masih terang. Ketika kubayar upahnya, tukang ojek itu marah-marah.

Cukup sekali ini saya dapat penumpang seperti Teteh. Tak punya perikemanusiaan, tak peduli saya haus atau lapar. Tak mau ngajak saya minum dan makan. Teh, saya sering antar orang teve liputan ke Lampung, kemana-mana. Dibayar mahal, dikasih makan sampai kenyang.” Lama juga dia nyerocos. Tapi tak kupedulikan. Telingaku terlanjur tuli. Hanya mulutku yang sempat mengumpat. Anjing!