Idenya sederhana saja. Seorang mahasiswi tanggung prihatin melihat adiknya yang saban hari memelototi  layar warna bernama tivi. Nunggu acara ‘Dahsyat’, katanya. Nunggu pentas band-band ngetren tanah air. “Kapan adikku sempat baca buku kalo beginong?” tanyanya dalam hati. Lalu pikirannya lari ke anak-anak jalanan, ke mereka yang nyaris tak mampu beli buku. Apa yang mereka lakukan ya di waktu senggang?

Tiba-tiba ide muncul dari batok kepalanya. Ia hendak membuat buku anak. Buku ini nantinya akan dibagi-bagikan gratis pada anak-anak yang tak memiliki akses membeli buku di toko buku. Oya, buku ini juga bisa dijual kepada mereka yang peduli dengan nasib anak-anak tadi. Keuntungan hasil penjualan buku akan digunakan untuk membantu anak-anak tadi.

Lalu mahasiswi menor tadi mulai mengumpulkan kawan-kawannya yang mau menyumbangkan cerita dan dongeng di buku tadi. Juga yang mau jadi  illustrator gratisan. Gayung bersambut. Banyak orang yang peduli pada idenya. Ada yang mau memodali, ada yang mau bersusah payah mengurus ini itu, hingga acara membuat buku anak yang mulai digelar Januari, akhirnya rampung Mei. Begitulah ceritanya.

—————————

Saya percaya semua kegiatan kita yang bermakna dimulai dari mimpi. Mimpi adalah kenyataan paling rahasia, begitu kata Yourcenar. Ketika kita berusaha mewujudkan mimpi yang kita yakini sepenuh hati baik, maka semesta akan membantu kita. Itu yang dikatakan Paulo Coelho dalam Alkemis dan dibuktikan dalam pembuatan buku ini.

Kini buku telah di tangan, wujud nyata sebuah mimpi. Apa isinya? Bermaknakah buat anak-anak? Enakkah gaya bertuturnya? Mampukah membangkitkan minat mereka untuk membaca? Menarikkah bentuknya bagi orangtua sehingga mendorong mereka membeli dan membacakan buat anak-anaknya? Ahahaha.. !

Buku cerita anak, apa pun jenis dan ceritanya, punya fungsi yang jelas. Mengajarkan kebaikan kepada anak. Sebuah pesan moral untuk pembentukan karakter. Juga menghibur tentunya. Dua puluh cerita dalam buku ini pun mencakup nilai itu.

Pada Anting untuk Naimah misalnya, diajarkan akan kemampuan anak untuk menerima kondisi ekonomi orangtuanya. Saya tak harus memiliki penampilan seperti mereka, kawan-kawan yang orangtuanya lebih kaya daripada orangtua saya.

Pada kisah Datuk dan Es Batu, diajarkan agar anak tidak malas, mau menggunakan tenaga dan pikirannya untuk melakukan kegiatan yang berguna.

Pada Kunjungan Peri Bulan dan Pelajaran Peri Bulan, diajarkan agar anak tak minder, kecil hati, pada kekurangan fisik dirinya.

Sedang Nday dan Mosnter Permen Karet mengungkap pentingnya kecintaan pada lingkungan, nilai tanggung jawab, yang harus diajarkan pada anak sejak kecil.

Laptop Tara dan Sena Marley adalah gambaran kehidupan anak metropolis jaman sekarang yang dikupas si pengarang dengan apik. Tentang persahabatan adik dan kakak, tentang pengaruh besar kawan dalam pergaulan.

Pensil Ajaib mengajarkan kemahiran suatu bidang diperoleh dengan kerja keras, berlatih dan berlatih, bukan karena keajaiban.

Masih banyak lagi kisah pengajaran dalam buku ini yang tak mungkin saya sebutkan satu per satu. Semua mengedepankan pesan moral bagi anak, walau ada yang dikemas dengan gaya bahasa lu gue, gaya fantasi, ala puisi, atau pun yang lugas dan sederhana.

—————————-

Sebuah syarat mutlak bagi buku anak adalah bahasanya yang sederhana, mudah dimengerti, tak berbelit, mirip gaya bertutur. Untuk itu ketika menulis buku anak, penulis mula-mula akan bertanya, target pembaca saya umur berapa?

Buku ini, kata pembuatnya, ditargetkan buat anak-anak yang duduk di bangku SD. Namun bukan tak mungkin balita kita, anak TK, sudah bisa menangkap maknanya. Ini kalau orangtua punya waktu membacakan cerita-cerita dalam buku ini ke anak-anak mereka. Tentunya dengan gaya bahasa yang disederhanakan, sehingga mudah diserap oleh anak mereka.

Kisah fantasi atau dongeng dengan tema hitam putih juga dibutuhkan untuk menarik minat anak membaca. Misal pada kisah Salsa dan Laut, atau Hujan Es Krim.

Beberapa kekurangan pada buku ini misal pengaturan letak yang kurang ‘menganak’, pemilihan font yang kurang bersahabat,  juga beberapa ilustrasi yang terkesan kaku, ukuran buku yang melebar dan kurang familiar, bisa dibenahi pada cetak ulang mendatang. Yang penting buku telah tercipta, dan sebagian kecil anak Indonesia yang kurang memiliki akses ke toko buku, bisa menikmati sebuah buku cerita. Mimpi terwujud. Peri-peri bersayap pelangi  telah terbang ke langit !

Advertisements