Cinta pertamaku jatuh pada kopi, ketika bapak menuang sesendok kecil kopi dari cangkirnya ke mulutku di suatu pagi. Waktu itu umurku belum genap tiga tahun. Sejak itu aku selalu jadi orang pertama yang mencecap kopi bapak.

“Jangan banyak-banyak,” begitu selalu kata bapakku, “nanti kembung.”

Kelak kutahu kopi memang bisa bikin kembung jika diminum dengan perut kosong. Kafein musuh utama penderita sakit lambung. Kelak juga kutahu perutku ini perut orang miskin. Selalu bermasalah jika diisi kopi instan, maunya kopi tubruk yang hitam dan murah, tapi manis.

Ketika SD, masa liburan selalu kuhabiskan menemani simbah kulakan kopi di Pasar Ndradah. Mbah Kung suka memilih kopi berbiji tebal dan utuh. Di rumah, kopi itu lalu disangrai Mbah Uti, diayak halus, hingga menjadi seduhan kami sore hari.

Kopi kerap kujadikan pengganti gula-gula di masa kecil. Itu karena aku suka kelaparan di malam hari, dan tak punya cukup uang saku membeli permen. Jadi kucampur saja satu sendok teh bubuk kopi dengan satu sendok teh gula. Kuaduk-aduk, lalu kutaruh di telapak tangan, sebelum kusesap dengan rakus. Kawanku malah suka mengudap biji kopi yang disangrai ibunya. Dia meremus biji kopi itu begitu saja, mirip mengunyah kacang. “Enak sih,” katanya.

Ketika SMP, aku menjadi pecandu berat kopi. Bukan lagi satu-dua gelas kopi sehari yang kuminum, tapi satu askan. Benar-benar nggilani. Setelah aku gampang tremor, kebiasaan ngopi kukurangi. Kini cukup satu-dua gelas kopi sehari. Harus yang tubruk. Untuk membantu buang air besar. Apalagi aku sempat mengidap kanker. Menurut buku karangan Dr Dale yang kubaca, penderita kanker bergolongan darah A, harus minum 1-2 gelas kopi sehari untuk memudahkan membuang racun tubuh. Kopi jadi menu utama paska nasi dan sayur.

Kadang kubertanya, darimana aroma kopi yang memabukkan itu. Ketika menuju Kampung Todo di Manggarai, Flores, kutahu, wangi kopi diwarisi sejak menjadi bunga. Benar. Ketika naik bahu truk terbuka menuju Todo, kiri-kananku hutan kopi yang sedang berbunga. Harumnya mengangkasa, meniupkan anak rambut di kepala dan harapan di suatu masa.

Kopi Todo super yummy. Itu menurut lidahku. Ketika pulang, aku dioleh-olehi penduduk kampung kopi yang dibungkus koran. Benar. Hanya koran tua, tanpa plastik atau tas kresek. Di desa atas gunung yang terisolir seperti itu, sungguh susah menemukan plastik apalagi kresek. Ketika sampai di rumah, kopi itu kuseduh dan rasanya mirip bercampur coklat. Ah.. jadi rindu ingin ke sana lagi.

Di Todo ada kebiasaan tiap kali bertamu ke rumah penduduk harus minum kopi yang mereka suguhkan. Jadi kalau kau kebetulan orang asing, lalu bertamu ke delapan rumah sehari, maka harus minum delapan gelas kopi. Bisa kau bayangkan betapa berat kepalamu setelah itu, dan kembung perutmu. Namun aku sangat menikmatinya. Keramahan mereka mirip aroma dan rasa kopinya. Khas. Tak tertandingi.

Suatu hari ketika di Bogor, seorang kawan menjamuku ke sebuah kafe. Di sekitar Bogor Square kurasa. “Kau pilih kopi kesukaanmu, kopi luwak nih enak,” katanya.

Kulihat harga kopi itu, 65 ribu, hanya untuk secangkir kopi, rasanya mahal sekali. Otak miskinku pun mulai protes. Kopi semahal apapun rasanya pasti begitu-begitu saja. Yang membuat mahal karena susah mendapatkannya, besar ongkos penanaman, pemeliharaan, dan rumit pengolahan paska panennya. Maka kupilih coklat alate, yang busanya segunung, dan tak selalu bisa kunikmati setiap hari. Ah, dua puluh ribu segelas besar, sebanding dengan nikmatnya.

Ada kawanku yang suka memamerkan sedang ngopi kemana, minum kopi apa, harganya berapa. Dengan bangganya dia bilang baru minum kopi anu yang secangkirnya 80 ribu atau kopi inu yang segelasnya 70 ribu. Haha.. percayalah aku tak iri. Andai diberi kesempatan sama pun kupilih yang dua ribu lima ratus rupiah segelas.

Ini bukan soal kopi yang segelas mahalnya selangit lebih hebat ketimbang kopi murah. Bukan. Kau tahu berapa petani kopi menerima duit dari sekilo kopi kering yang dihasilkannya? Andai dia melihatmu sekarang memamerkan kopi yang mungkin dihasilkannya dengan harga semahal itu, apa dia bangga? Besar hati? Kuragukan. Karena rupiah yang diterimanya tak sampai seperempat yang kau bayar buat secangkir kopinya.

Aku kerap kebingungan jika mendapat kiriman biji kopi kering. Tak ada wajan batuku tuk menyangrai. Namun satu kawanku mengajarkan  mengguna gorengan popcorn tuk sangrai biji kopi. “Lebih merata masaknya,” katanya. Ahahaha.. rasanya harus beli alat baru nih, selain coffee maker. Teknologi telah menghilangkan alat-alat tradisional pemasak kopi bubuk. Uh… sedihnya.

Ada lagi kawan yang pandai meramu kopi. Dia campur kopi dengan serbuk kayu manis, cengkeh, coklat atau tepung jagung. Rasanya? lumayan nikmat, apalagi jika kopi itu terlalu keras menghantam lambung.

Ada sebuah tempat ngopi asyik di Surabaya. Ngopi ala proletar. Di tepi Kalimas, di Ketabang Kali. Kita cukup nglekar di tepi kali, beralas tikar, lalu pesan kopi dari warung kopi di seberang jalan. Sepanjang kali, banyak rombong makanan, seperti sego sambelan, nasi goreng, mie goreng, dan lainnya.

Aku suka tempat ini karena pemandangannya ala suarga yang dilukiskan Qur’an. Ada sungai mengalir, dengan pemandangan air sungai yang memantulkan pendar-pendar cahaya lampu, berwarna-warni sepanjang aliran sungai. Suasananya sunyi, nyaman, walau para muda kongkow di situ. Jarang ada pengamen, bukan wilayah komersil, dan kopinya yang murah, segelas kecil cuma dua ribu lima ratus. Tapi jangan under estimate, biar murah, sangat tokcer. Karena ampas kopinya seperempat gelas sendiri. Hahaha… Tak percaya? Silakan coba!