Ini mirip pengulangan. Saya melihat buku Kit Runner di Malaysia sekitar tahun 2006. Saya tengok harganya 45 ringgit, lebih 120 ribu rupiah. Karena saya anggap mahal, maka novel karya Khaled Hosseini ini saya baca di tempat, mirip curi-curi kesempatan. Tiap kali datang ke toko buku Popular di Pacific, Sebrang Prai, buku ini dulu yang saya satroni. Mirip pacar pertama.

Ketika pulang ke Indonesia, saya lihat sudah ada dua novel terjemahan karya dokter dan aktivis UNHCR ini. Selain Kit Runner, juga A Thousand Splendid Stars. Namun saya urung baca, ingin cari yang asli, edisi bahasa Inggris. Bukan karena sok, namun bahasa Khaled amat mengalir dan sederhana, nuansa sastranya sangat khas dalam bahasa Inggris. Sayang kalau dilewatkan begitu saja. Bukankah sastra lebih jernih dinikmati dalam bahasa aslinya, dan kalau kita paham bahasa itu, mengapa tidak?

Khaled sangat suka mengangkat masa-masa hitam Afghanistan lewat mata anak-anak. Mirip Marjanne Satrapi yang mengangkat masa-masa hitam Iran. Dalam Kit Runner, khalid berkisah tentang persahabatan Amir dan Hassan, yang seorang berasal dari suku mayoritas Pashtun, yang lain suku minoritas Hazara. Yang satu sunny, yang lain syi’ah yang alim. Yang satu tuan, yang lain anak pembantu. Yang keduanya ternyata bersaudara se ayah, tanpa mereka ketahui.

Ah, saya terpukau dengan penggambaran Khaled, tentang kebebasan seorang anak, melewati batas-batas yang diciptakan manusia, dalam layang-layang yang terbang. Saya cinta karya Khaled, terutama karena endingnyai yang luar biasa. Tak terkatakan. Tak terlukiskan. Namun kuat melecung  hati dan pikiran, bahkan setelah lama lewat.

Kemampuan Khaled menceritakan hal-hal kecil dengan apik dan detil, hidup dan memikat, membuat setiap bab meninggalkan tanya dan keingintahuan besar. Setiap kisah dituturkannya sepenuh hati, dengan ‘rasa’ yang meluap, menghayat, hidup, dan menghujam meriah.

I ran. A grown man running with a swarm of screaming children. But I didn’t care. I ran with the wind blowing in my face, and a smile as wide as the Valley of Panjsher on my lips.

I ran.

Saya jadi ingat sebuah novel karya Arundhati Roy, The God of Small Thing. Roy juga mengangkat masalah kasta ini dengan apik, feminin, lewat kehidupan sehari-hari, lewat kisah cinta yang terlarang, lewat mata si kembar, Rahel dan Esha.

Berbeda dengan bahasa Khaled yang simple, bahasa Roy di awal buku agak berbelit, susah. Mesti berkali-kali bolak-balik kamus. Kebetulan waktu itu, tahun 1999, buku Roy belum diterjemahkan. Versi aslinya saya dapatkan hasil nitip teman yang tugas ke luar negeri. (Kalau dipikir, banyak teman memang banyak rejeki hehe..).

Mungkin karena Roy sudah menjadikan Inggris sebagai bahasa ibu sejak masih balita. Sedang Khaled baru menggunakan Inggris sebagai bahasa sehari-hari setelah berumur 15 tahun, hijrah dengan orangtuanya ke Amerika.

Who was he?

Who could he have been?

The God of Loss.

The God of Small Things.

The God of Goose Bumps and Sudden Smiles.

He could do only one thing at a time.

If he touched her, he couldn’t talk to her, if he loved her he couldn’t leave, if he spoke he couldn’t listen, if he fought he couldn’t win.

Saya hendak beranjak ke Indonesia, suatu negara yang etnisitasnya begitu beragam, dan agama yang hidup bervariasi. Saya ingat pembantaian Cikeusik, ingat perang agama Islam-Kristen di Maluku, ingat semua penyelesaian masalah itu adalah ‘pendinginan’, bukan benar-benar selesai.

Ketika pulang dari Sulawesi Tengah tahun 2001, dalam sebuah van yang memuat 7 penumpang menuju Makassar, saya sempat bergidik. Lima penumpang di van berkisah tentang kebenciannya kepada orang Jawa akibat pembangunan di Jawa yang pesat, sementara kampung mereka masih terbelakang. Begitu berapi-api. Saya sempat mengkeret. Bisa-bisa kalau mereka tahu saya dari Jawa, bisa dipotong leher saya dan dilempar ke tepi jalan.

Kebencian antar suku di Indonesia tetaplah tinggi, walau tak selalu muncul ke permukaan. Penyebab utamanya, pembangunan yang terpusat di Jawa, bahkan 80% perputaran ekonomi terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Sedang luar Jawa yang menyumbang sumber daya alam semisal kayu, tambang, minyak, nyaris terabaikan. Hasil pertanian mereka pun dibeli murah, sementara mereka harus mendatangkan barang-barang asal Jawa dengan harga berkali lipat.

Konflik-konflik kecil seperti ini, kurang diangkat pengarang dan menjadi tema karyanya. Mungkin karena mayoritas penulis tinggal di Jawa, atau di kota sebuah pulau, yang fasilitasnya memadai. Andai ada penulis yang tinggal di pelosok, yang tiap hari hidup harus berimprovisasi, yang harus bergelut dengan masalah etnis, ekonomi, budaya, dan lainnya, tentu kehidupan sastra kita bisa lebih semarak.

Saya jadi ingat Gerson Poyk, Romo Mangun Wijaya, yang getol mengangkat masalah beginian dalam karya-karyanya. Etnisitas, konflik akan perbedaan, kadang menjadi tema yang menarik, asal diangkat dengan proporsional dan berdasarkan kejadian nyata. Bukan dengan tujuan untuk memecah belah, tapi membangun dan menguatkan.

Novel dengan tema begini membuat kita punya catatan sejarah yang lain. Sejarah yang bukan diukir oleh elit pemegang kekuasaan dan orang atas, tapi sejarah yang tertuang indah dalam kisah. Sejarah yang bisa menang booker prize, atau menjadi best seller dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Sejarah yang mendunia dan mirip kisah universal.

Advertisements