Sebuah kisah lama, semoga memberi pencerahan buat yang miskin tapi tidak dibodohkan kemiskinan.

Indonesia itu negara miskin yang nggak berpihak kepada orang miskin. Program-program kemiskinan yang dilakukan pemerintah kepada rakyatnya hanyalah kamuflase, karena proyek kemiskinan itu ternyata alat untuk segelintir orang agar mempunyai pekerjaan, dan segelintirnya lagi menjadi kaya dengan mendapat sortiran potongan dana. Jadi proyek kemiskinan pun berjalan di tempat dengan kecepatan yang konstan, sedang kemiskinan mengalami percepatan, sehingga rakyat miskin semakin banyak.

Hal ini sangat dipahami oleh keluarga Marni dan Marim, sepasang suami istri mantan tki yang kini tinggal di pelosok Jawa. Hidup sebagai penjual sayur di pasar dengan untung pas-pasan -pas buat makan, pas untuk membeli gas elpiji, dan pas buat membetulkan rumah sederhana- membuat Marni memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya begitu anaknya nanti lahir. Sementara suaminya yang tukang ojek mulanya menolak rencana itu.

“Bagaimana anakku bisa menjadi dokter atau insinyur kalau tak sekolah, Adik?” tanya Marim kepada istrinya dengan nada sedih.

“Nggak usah muluk-muluk Bang. Mau dapat duit darimana untuk membayar sekolah atau kuliah, untuk makan sehari-hari saja pas-pasan,” bantah istrinya.

“Tapi aku tak mau anakku bodoh,” kata Marim.

“Percayalah Abang, anakmu nggak bakalan bodoh walau nggak sekolah. Dia bisa hidup normal, bisa membaca, menulis, berhitung, pokoknya nggak menjadi beban kita nantinya,” Marni mencoba meyakinkan suaminya.

“Lho, gimana caranya Adik? Nggak sekolah tapi pintar, nggak nganggur, nggak membebani kita?” Marim masih tak percaya.

“Pokoknya percayakan kepadaku saja. Jelek-jelek istrimu ini dulu pernah kuliah juga, walau cuma sampai semester lima,” kata Marni penuh percaya diri.

Marim pun pasrah. Dia tahu istrinya memang lebih pintar, kadang punya wawasan yang tak biasa sehingga dianggap tetangganya aneh. Heran juga Marim kok bisa-bisanya istrinya dulu jadi tki. Tapi kalau nggak jadi tki mungkin dia nggak akan pernah berjumpa dengan istrinya, lalu berjodoh dan menikah.

Begitulah, sejak anaknya lahir Marni mengasuh sendiri anaknya. Dia hanya memberi bayinya ASI, bukan susu sapi yang mahal. Ketika anaknya sudah pandai merangkak, dia mengajari anaknya berbicara, menyanyi, sama seperti ibu-ibu lainnya.

Ketika anaknya bertambah besar, Marni mengajari anaknya berbagai ketrampilan, menggambar, menulis, membaca, juga berhitung. Dia bercita-cita akan mengajari semua pengetahuan buat anaknya, istilahnya home schooling menurut Kak Seto.

Marni tak mengajari anaknya pengetahuan yang muluk-muluk, seperti presiden amerika siapa, bagaimana revolusi amerika terjadi, dan lain-lain. Dia hanya memperkenalkan kisah kepahlawanan Pangeran Diponegoro, betapa gagahnya Bung Tomo waktu mengobarkan semangat arek-arek Surabaya melawan sekutu. Karena dia keturunan Jawa, Marni sedikit tahu tentang kisah pewayangan, ramayana, mahabharata, atau astinapura. Dia mengisahkan kepahlawanan mereka lewat mulutnya, menjelang anaknya tidur di malam hari.

Marni tak hanya sibuk mengajar anaknya dengan cerita sejarah, tapi juga mengajarinya berkebun. Lewat berkebun dia mengajarkan anaknya tentang biologi, tanaman herbal, ekologi, membaca musim. Sang anak menjadi faham tentang semua tanaman yang ditanamnya, apa nama latinnya, bagaimana menananmnya, apa saja gunanya.

Marni juga membebaskan anaknya untuk berkawan dengan anak-anak tetangga. Dia tahu anaknya harus cukup bersosialisasi agar tidak minder dan tertutup. Sering anaknya yang mulai besar itu merengek, bertanya, “Ibu kenapa aku tidak sekolah?”

Lalu Marni menjawab, “Percayalah anakku, walau engkau tidak sekolah, tapi kau lebih pintar dari anak sebayamu. Lagipula ibu tak punya cukup uang.”

Benar juga. Ketika cukup umur untuk lulus SD, Marni mendaftarkan anaknya untuk ikut ujian paket A, ujian yang setara lulusan SD. Lalu ujian paket B, C, sehingga anaknya setara dengan tamatan SMA ketika umurnya 17 tahun.

Seorang tetangga yang cukup terpelajar menanyai Marni mengapa tak menyekolahkan anaknya secara formal. Marni hanya menjawab singkat, “Aku tak punya cukup uang. Lagipula semua bahan pelajaran itu sudah ada di otakku sejak lama dan akan berkarat jika tak kugunakan untuk mengajar anak-anakku.”

Begitulah, akhirnya anak Marni punya ijazah setara SMA juga. Bahkan jika mau kuliah, dia bisa melanjutkan ke Universitas Terbuka. Kini si anak rajin membantu orang tuanya berkebun, bahkan sudah berhasil mengembangkan usaha pupuk organik.