Tags


Mereka hidup dari mengumpulkan usnea di belantara Argopuro. Tak hirau harus menakik cabang dan ranting pohon pinus yang tinggi, atau diterpa angin dan udara dingin pegunungan, yang penting karung penuh ‘kantung udara’. Karena berkah gunung yang melimpah ini lebih menguntungkan dari hasil panen di ladang.

Perjumpaan kami terjadi secara kebetulan. Kala itu saya dan seorang teman dalam perjalanan menuju puncak Gunung Argopuro dari arah Desa Bremi. Dalam kelelahan setelah tiga malam nyaris tak bertemu manusia, kami begitu gembira melihat tiga lelaki beristirahat  di padang savanah yang lapang, ditingkapi pohon dan aroma bunga eidelweis. Tiga pikulan  karung tergeletak tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Mereka pasti baru mengambil belerang,” kata saya penuh keyakinan, teringat para pengambil belerang di pegunungan Ijen. Setelah sejenak bertegur sapa,  tahulah bahwa saya keliru. Rupanya mereka baru ‘memanen’ usnea di gunung.

argo1
perambah usnea sedang bercengkerama/foto: ary hana

Satu tanaman seribu manfaat

Usnea alias lumut janggut, rasuk angin, kayu angin, atau kantung udara tumbuh melimpah di pegunungan berapi –baik yang masih aktif atau sudah mati— yang kawahnya masih  mengeluarkan gas belerang. Di Argopuro, usnea banyak dijumpai di kawasan hutan pinus, sekitar 5-15 km menjelang puncak. Jenis epifit ini tumbuh menempel pada cabang dan ranting pohon pinus yang tua dan tinggi. Bentuknya berjurai mirip janggut kakek-kakek dan berwarna hijau pucat keputihan. Itu sebabnya biasa dinamakan lumut jenggot.

Ketika nenek masih hidup, beliau sering memesan ‘kantung udara’ ini kepada penjual jamu langganan. Kata nenek, setelah dicampur dengan madu dan ramuan tertentu, godokan usnea manjur untuk mengobati sakit batuk dan infeksi saluran pernafasan yang sering menyerang nenek. Beberapa jamu merek terkenal seperti Sidomuncul menggunakan ramuan ini dalam salah satu produknya. Di Pasar Bringhardjo Jogjakarta bahkan usnea merupakan bahan jamu andalan setelah kunir putih, jahe merah, dan teh mahkota dewa.

Menurut Dr Mumu Sutrisna, peneliti laboratorium teknologi II ITB seperti dikutip dari Republika, usnea mengandung asam urat yang menjadi bahan dasar obat antibiotika. Sedang Jessica Godino, herbalis AS dalam bukunya Red Moon Herbs menyatakan kalau usnea mampu memperbaiki dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu tonik usnea ampuh mengobati berbagai macam penyakit seperti infeksi saluran pernafasan, sinusitis, bronchitis, pneumonia, batuk, flu, infeksi saluran kencing, ginjal, keputihan, herpes hingga hiv.

Jessica lalu memberi resep tonik buatannya. Mula-mula usnea dimasukkan ke dalam askan, direndam dalam vodka 100% selama 6 minggu. Sari usnea yang tercampur ke dalam vodka kemudian disimpan di dalam botol dan siap diminum jika sewaktu-waktu terserang penyakit di atas. Tentu saja dengan takaran tertentu.

Di negara maju seperti Finlandia, Swedia, dan Jerman, kata Mumu, usnea sudah dikembangkan sebagai bahan antibiotik modern. Sayangnya, tambah ekolog alumni sebuah universitas di Perancis ini, pemerintah belum benar-benar melirik komoditi potensial ini. Padahal, Indonesia merupakan sumber usnea yang berlimpah.

Gantungan hidup

Lain pemerintah lain ketiga perambah usnea asal Desa Baderan yang saya jumpai. Mereka mengaku sudah beberapa tahun mengambil usnea dari bumi Argopuro. Supriyadi misalnya,  dua kali sebulan menjelajah gunung terpanjang di Jawa ini khusus untuk memanen lumut jenggot. Dia butuh 4-5 hari untuk memenuhi kedua karungnya dengan usnea. “Hasilnya lumayan, bisa untuk gantungan hidup,”  tuturnya, diiyakan dua temannya, Edi dan anaknya.

Dari dua karung usnea seberat 24 kg itu Supri mampu meraup Rp 732.000, atau sekilo usnea dihargai Rp 30.500. “Pengepulnya kepala desa kami, Pak Girman,” tambah Supri. Namun dia tak mengetahui akan digunakan sebagai apa usnea yang terkumpul tadi. “Katanya sih untuk ekspor, tapi saya tak tahu dijual ke negara mana,” kata Edi dalam logat madura yang kental .

Dibanding pekerjaan mereka sebagai petani, hasil dari merambah usnea dua kali sebulan ini amat lumayan. “Sebagian uang saya tabung dalam bentuk kambing, sebagian untuk membeli pupuk dan makan sehari-hari,” aku Edi. Berbekal beras, ikan asin, dan sedikit keberanian, Edi dan kawannya berangkat memetik usnea.

argo2
pemandangan belantara argopuro/foto: ary hana

Namun ‘memanen’ usnea bukan pekerjaan mudah, justru penuh bahaya. Tak jarang Edi dan Supri harus mendaki cabang dan ranting cemara yang tinggi, agar bisa memetik usnea. Pohon yang mereka pilih biasanya pinus yang sudah tua, karena menjadi lahan yang subur bagi jenis lumut ini untuk tumbuh. Jika tidak berhati-hati, dahan bisa patah dan Edi pun terjatuh. Seringkali jika usnea di dataran mulai menipis, Edi menggapai lereng yang curam, dengan jurang menganga di kiri-kanannya. Untungnya usnea gampang hidup, beberapa minggu setelah dipanen, tanaman bandel ini mulai bertunas dan melebat. Pokoknya, dimana ada batang pinus yang asam karena mengandung gas asam sulfida, di situ usnea tumbuh subur. Jadi, tanaman satu ini memang sumber daya alam yang tiada habisnya, seperti kata DR Mumu.

Legenda Dewi Rengganis

Khasiat usnea mungkin berkaitan dengan legenda Dewi Rengganis yang sakti. Konon, salah satu selir raja majapahit ini mendirikan istana yang megah, lengkap dengan pengawal dan dayang-dayang di Puncak Rengganis, salah satu puncak Gunung Argopuro. Putri pertapa sakti ini mengayomi dan melindungi penghuni hutan, seperti aneka binatang, dan memelihara tetumbuhan di sana. Beberapa tumbuhan yang dilindunginya berkhasiat sebagai obat, penyembuh binatang yang terluka. Entah benar entah tidak, legenda ini terus hidup dalam masyarakat desa di sekitar lereng gunung. Apalagi di bawah Puncak Rengganis ditemukan semacam pundan berundak –tempat pemujaan dari jaman prasejarah—yang semakin menguatkan legenda ini.

Legenda ini pula yang membuat pengunjung gunung enggan mengganggu binatang di belantara Argopuro. Dibanding gunung lain di Jawa, hutan di Argopuro masih lebat dan singup. Aneka binatang seperti babi hutan, rusa, menjangan, kucing hitam, merak, dan ayam hutan berkeliaran bebas dan mudah dijumpai. Tak ada yang mengusik mereka, tak juga pemetik usnea dan selada air yang kerap merambah gunung ini. Begitu mencium bau manusia, binatang ini langsung terbirit bersembunyi. Tanda bahwa mereka masih liar. Kondisi ini tak banyak berubah kisah dalam catatan harian Junghuhn, warga eropa yang pertama kali mengunjungi  deretan Pegunungan Iyang ini di tahun 1844. Junghuhn begitu kepincut sampai menuliskan semua pengalamannya dengan detil dan mempublikasikannya.

Kehidupan Argopuro sekarang tentu tak seliar jaman itu. Namun sungai Kolbu yang dipenuhi selada air di Cikasur tetaplah jernih, mengundang aneka satwa untuk singgah minum. Bahkan, banyak penduduk desa Baderan yang datang sekedar memanen selada air. “Kami hanya mengambil selada, untuk sayur. Bukan berburu binatang,” alasan Baharudin, salah satu pemetik selada yang kami jumpai dalam perjalanan pulang.

Sore itu, saat menghabiskan waktu bersama di Cisentor, para perambah usnea nampak sabar menunggu masaknya nasi dalam periuk sederhana. Bau gorengan ikan asin membuat perut melilit minta diisi. “Hanya makanan sederhana,” tambah Supri. “Besok pagi kami pulang, sudah tiga hari di sini. Dua minggu lagi kami kembali.” Saya mengangguk. Dua minggu waktu yang cukup buat usnea untuk tumbuh, bernafas, melebat, dan akhirnya siap dipanen. Ah,  semoga berkah alam yang satu ini tetap lestari.

(dimuat di majalah familia, 2004)