Tags

,


Cinta sejati Marquis de Sade bukan pada sastra atau istrinya, Renee de Montreuil, tapi pada coklat. Tak percaya?

Selama 32 tahun masa hidup yang dihabiskannya di penjara-penjara Prancis dan rumah sakit jiwa, tak henti semua surat-surat yang ditulisnya selalu menyebut coklat.

bixes of ground chocolate and mocha coffee

cocoa butter suppositories

cream chocolate

half pounds of chocolate pastilles

large chocolate biscuits

vanilla pastilles au chocolate

chocolate en tablets au ordiner

Bahkan dalam surat yang dikirimkannye kepada istrinya pada 9 Mei 1779, Sade menuliskan :

“.. aku mohon sepotong kue dengan lapisan gula di atasnya, tapi harus coklat dan hitam di dalamnya adalah coklat, seperti kotoran setan yang berwarna hitam dari asap, dan lapisan gulanya juga sama hitamnya… “

Coklat bagi sade ibarat hasrat yang tak tertahankan, cinta yang tak mengenal bentuk, entah itu berwujud krim, kue, es krim, biscuit, atau apapun.

Hitam coklat mungkin juga melukiskan hasrat kelamnya akan kesakitan, penyiksaan, darah, seks menyimpang seperti yang dituliskannya dalam  karya-karyanya maupun dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah sadomasokis memang selalu dikaitkan dengan namanya. Sado, sadis diambil dari namanya sade, masokis dari Leopold von Sacher Masoch. (trimakasih mbak lintang atas koreksiknya).

Baca saja karyanya, The 120 Days of  Sodom, Sade melukiskan 600 gairah seks tak wajar, mulai sadistis ringan hingga yang berakhir dengan kematian. Tak hanya menulis, dia juga mempraktekkannya. Dia menyiksa seorang pelacur bernama Rose Keller, sebelumnya Jeanne Testard. Bahkan belakangan dia menyiksa sampai mati seorang pelacur anak-anak sehingga dikenaik hukuman mati. Namun dia berhasil meloloskan diri.

Saking brutalnya perilaku seksualnya sehingga polisi setempat melarang rumah bordil untuk mengirimkan pelacur buat pesta seks di istananya Kastil La Coste.

Seorang pemujanya, mengatakan apa yang dilakukan Donatien Alphonse Francois Marquis de Sade ini wajar menurut jamannya. Di awal abad ke-18, 1 dari perempuan di Paris adalah pelacur, dan lebih 40 ribu penduduknya homoseksual. Sade pun jarang dikenai sanksi hukum, kecuali ketika perbuatannya diketahui umum.

Beberapa orang menganggap karyanya jenius. Menurut mereka, Sade mengajak orang hidup jujur mengikuti sifat bawaan mereka, terlepas dari sanksi moral dan aturan sosial. Baginya moral itu bukan pakaian, bukan hukum yang dibuat manusia untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah.

Beberapa negara gerah dengan buku dan film yang diadaptasi dari karyanya. Inggris misalnya, baru mengijinkan film-film tentang Sade diputar di negeri itu paska 1983. Sebagai sebuah pembelajaran. Karena banyak Sade-Sade lain di masa kini, tak selalu berkaitan dengan kelainan seksual, tapi juga pembinasahan etnis tertentu. Misalnya pembinasahan Suku Kurdistan di Turki, Suku Hazara di Afganistan, atau yang dilakukan Serbia di Kosovo. Sama kejamnya, sama parahnya.

oya, soal kecenderungan Sade pada seks yang menyimpang, dia punya alasan.

 “Yes, I am a libertine, I admit it freely. I have dreamed of doing everything that it is possible to dream of in that line. But I have certainly not done all the things I have dreamt of and never shall. Libertine I may be, but I am not a criminal, I am not a murderer.”

Masih menganggap dia jenius? Tanyalah pada coklat!