Amro dan Brote bersahabat baik sejak kecil. Ketika dewasa, Amro menjadi saudagar yang kaya raya. Uangnya memenuhi bank dan diinvestasikan dimana-mana. Sedang Brote hidup bersahja dengan tanah luas warisan leluhurnya.

Suatu ketika Brote berniat meminjam uang ke Amro, dengan tujuan membangun perkebunan coklat di tanahnya.

“Oke,” kata Amro, “kupinjami kau 100 juta, tapi bunganya 10 persen setahun.”

Brote yang tak memiliki daya, menerima perjanjian itu begitu saja. Kelak usaha perkebunan Brote tak sesukses yang diharapkannya. Brote hanya mampu mencicil hutangnya 1 juta per bulan. Si Amro tak peduli, toh uangnya melimpah.

Selang 10 tahun kemudian, hutang si Brote belum juga lunas. Si Amro merasa kasihan. “Oke, kubebaskan kau dari sisa hutangmu, tapi dengan syarat kau tanami tanahmu di sepanjang aliran sungai dengan pohon mangga dan rambutan. Kelak kalau pohonmu berbuah, aku minta separo darinya. Aku juga akan menggunakan sungaimu untuk memberi minum sapi-sapiku yang kehausan.”

Brote gembira sekali dengan keputusan si Amro. Dalam hati dia memuji kebaikan hati Amro, dan berdoa bagi kemakmurannya.

Si Brote lupa, selama 10 tahun dia sudah mengeluarkan  120 juta buat membayar si Amro, dan yang 100 juta darinya adalah bunga hutangnya.

Ah, jadi ingat hutang luar negeri tanah airku dan konvensi yang dibuat negara-negara maju untuk membebaskan hutang Indonesia, dengan syarat harus menghutankan kembali sebagian wilayah Indonesia. Paru-paru dunia sebetulnya buat siapa?   Yang penting kan sudah punya paru-paru di dada.

*gambar diambil dari sini