Tags

, ,


Katakan dengan gambar. Berdasar ingatan yang kuat, goresan tangan yang detil, serta pendengaran yang tajam, Joe Sacco mampu menampilkan peristiwa pembantaian muslim Bosnia oleh Serbia dengan apik di bukunya, Zona Aman Gorazde. Adegan mencekam, sindiran satir dan pahit, bahkan kemampuan menertawakan diri sendiri, diramunya dengan hidup dalam novel grafisnya ini.

Dimanakah Gorazde itu? Orang mungkin lebih kenal Sarajevo yang lebih sering masuk tivi kala meletus perang etnis paska pecahnya Yugoslavia bentukan Tito. Tapi Gorazde?

Gorazde adalah satu-satunya wilayah Bosnia di timur dan dikepung oleh wilayah Serbia. Karena terisolir, penduduk Gorazde sangat membutuhkan uluran tangan PBB untuk bertahan. Jalur konvoi PBB yang menghubungkan Sarajevo dan Gorazde ini kerap disebut jalur biru, berdasarkan warna helm yang dipakai tentara PBB mengawal bantuan makanan dan kesehatan ke sana. Jalur yang bersih dari muslim Bosnia, karena sudah dibersihkan oleh tentara Serbia sebelumnya.

Buku ini dibuka paska pembantaian lebih tujuh ribu muslim di Sebrenica, setelah daerah itu ditinggalkan pasukan PBB, dan NATO mengebom Serbia-Bosnia pada 30 Agustus 1995. Gencatan senjata kemudian dilakukan di seluruh Serbia. Konvoi PBB dan LSM kemanusiaan  kembali diijinkan menerobos jalur Serbia guna memberikan bantuan ke Gorazde. Para jurnalis, termasuk Joe Sacco, mulai memasuki Gorazde lewat jalur biru ini.

Joe Sacco melukiskan euforia penduduk Gorazde yang urung dibantai Serbia. Kegembiraan berlebih tatkala mereka terhubung orang luar, yang berarti harapan terus melangsungkan hidup. Juga permintaan nyinyir mereka akan barang seperti celana jeans levis 501, parfum, dan peradaban. Mereka telah terputus dengan dunia luar sejak meletusnya perang, Mei 1992.

Gorazde yang dulu daerah industri, dikelilingi pabrik dan lebih 10 ribu pekerja, kini nyaris tak ada listrik, kecuali penerangan kelap-kelip hasil putaran turbin di sungai. Sebagai bahan bakar, mereka memanfaatkan kayu, termasuk menghadapi musim dingin.

Kota yang nyaris mati, dipenuhi bangunan yang hancur karena serangan bom Serbia, dimana-mana berisi pengungsi kelaparan, warga muslim Bosnia dari daerah sekitar. Kota yang hanya menyisakan 10 dari 9000 kendaraan yang pernah ada.

Gorazde dipenuhi orang yang bosan menanti kematian, bosan mengunyah kacang sepanjang hari karena ketiadaan bahan makanan. Di tengah keterbatasan itu, mereka mencoba melakukan hal-hal kecil untuk menyalakan semangat agar terus hidup. Misalnya seperti yang dilakukan Emma dengan membaca kumpulan puisi “Flowers of Evil’ karya Baudelaire. Atau yang dilakukan Riki, tentara di garis depan yang suka mendendangkan lagu-lagu grup musik Amerika seperti Eagles atau Simon and Garfunkel.

Gorazde juga dipenuhi oleh saksi kekejaman Serbia ketika membantai muslim Bosnia. Seperti Edin dan keluarganya, pengungsi yang lolos dari pembantaian tentara Serbia yang datang dari Kopaci, Visegrad, Foca, Trnovo, dan Grebak. Mereka yang menyaksikan bagaimana kaum muslim dibantai, ditembak atau dipotong urat lehernya di tepi sungai sebelum mayatnya dijatuhkan ke Sungai Drina. Atau mereka yang menemukan kuburan massal yang berisi para lelaki yang sudah dipotong kemaluannya. Atau mereka yang menyaksikan bagaimana perempuan diperkosa, bahkan perempuan hamil muda atau yang baru melahirkan bayinya. Semua kekejaman yang di luar jangkauan imajinasi manusia ada di komik ini, digambarkan dengan gamblang, tapi bukan sadis. Berkesan miris tapi tak memuakkan atau membuat muntah.

Kekejaman Serbia, menurut kisah Joe Sacco, berasal dari dendam sejarah, ketika di masa perang dunia kedua orang-orang Serbia pernah mengalami penindasan dan pembantaian oleh kaum Ustasha.

Ada beberapa hal yang membuatku salut dan terperangah paska membaca komik ini. Bahkan harus berhenti sejenak, mengambil nafas, sebelum melanjutkan membaca bagian berikutnya.

Satu, penggambaran Sacco yang begitu detil, mulai arsitektur Gorazde, bekas pecahan bom, mortir, kondisi kota, juga mimik kesaksian orang-orang. Ketika dia menggambarkan kekejaman perang, Sacco memblok latar halaman komik dengan warna hitam. Seolah menegaskan kesuraman. Ketika menggambarkan kejadian sehari-hari, latar pun berwarnah putih.

Dua, Sacco piawai merangkai teks, lebih mirip seorang penulis atau jurnalis ketimbang komikus. Mungkin karena latar pendidikan dan pekerjaan awalnya yang memang jurnalis. Teksnya juga lucu, humor noir atau lebih mirip satir. Sacco benar-benar piawai menertawakan diri sendiri.

Misalnya, pada adegan Riki yang memuja Amerika. Bukan saja karena dia suka menyanyikan lagu-lagu grup musik asal Amerika, namun juga karena Amerika telah menyelamatkan Gorazde lewat pemboman NATO.

“Seharusnya, aku dilahirkan di Amerika.

Jiwaku di barat.

Aku ingin melihat semua kota di Amerika.

New York, Los Angeles”

“Kalau kau mau, kau bisa berangkat ke Amerika besok pagi.”

“You’re full of shit!”

Atau cara Sacco menggambarkan bagaimana tentara Bosnia di Gorazde, dokter dan perawat, dibayar dengan rokok merk Drina, nama sungai yang mengalir di kota itu. Secara berolok-olok dia mengatakan, andai Gorazde harus ditukar dengan daerah Serbia lain dalam perjanjian damai, maka orang Bosnia harus mengubah nama rokok mereka.

Tiga, Saccoo mencoba melukiskan peristiwa dalam bukunya dengan seimbang, tanpa tuduhan atau menghakimi. Semua digambarkannya berdasarkan pengakuan saksi yang diwawancarainya.

Misalnya dalam bagian ‘Bisakah kau hidup bersama orang Serbia lagi?’ dia melukiskan masing-masing orang dengan pendapatnya. Ada yang tak bisa hidup dengan orang Serbia karena sebagian besar keluarganya dibantai oleh tentara Serbia. Ada yang penuh curiga dan berburuk sangka dengan orang Serbia, ada yang mau menerima kehadiran orang Serbia sebagai tetangga asal tak terlibat konflik, ada yang bilang tak semua Chetnik jahat, ada juga yang baik.

Sacco juga menemui orang Serbia yang bertahan tinggal di Gorazde. Dari 5600 orang Serbia, paska perang tinggal menyisakan beberapa puluh saja. Misalnya Veljko, lelaki tua yang menganggap dirinya nasionalis, tapi orang Yugoslavia. Dia sadar akan dendam sejarah yang mendasari penyerangan Serbia atas muslim Bosnia, dendam yang tidak pada tempatnya.

Empat, menurutku ‘Zona Aman Gorazde’ merupakan buku sejarah yang bagus. Dia mampu menceritakan sejarah perang, kekejihan, penderitaan, sekaligus pelajaran dari sebuah perang etnis dengan detil, baik, ringan, tanpa membuat pembacanya menjadi beringas. Jadi bagus juga dibaca buat anak-anak.

Tak heran kalau mantan jurnalis, penganut aliran komik satir yang dilahirkan di Malta tapi tinggal di Amerika ini mendapat penghargaan Eisner Award kategori novel grafis asli terbaik pada 2001 atas karyanya ini. Semoga setelah ini aku sempat membaca karya Saccoo yang lain, yang penuh nilai kemanusiaan dalam kisah-kisahnya. Yang jelas, tak kalah dengan kisah Gen Si Kaki Ayam.

*novel grafis ini diterbitkan Dar! mizan tahun 2000. Thanks to c2o library yang meminjamkan buku ini😀