Mati Sendiri di Kereta

Ada lubang dalam kisahku, tatkala ku tiba di Sarwana hingga akhirnya terdampar di Rangkasbitung. Perjalanan di antaranya tak mampu kukisahkan. Bukan hanya karena lembar perjalananku hilang, namun ada kepahitan menganga di sana. Seperti kata teman, biarlah yang pahit kita telan sendiri, anggap saja minum jamu.

dua anak memandang lesu di kampung nelayan. tak banyak harap buat masa depan mereka kecuali menjadi nelayan seperti bapaknya

Singkat kisah, di Sarwana aku diterkam dua anjing di pantai. Lalu menginap di sebuah bungalow milik pasangan Indo-Australia, mister dan misis Thursday, esoknya menikmati keindahan karang yang berdisafora dengan ombak laut, berbincang dengan Nunung –mantan TKW yang dua kali bekerja di Arab – dan mengambil pelajaran dari kisahnya. Lalu aku menuju Rangkasbitung, dengan tujuan ke Baduy.

aku percaya batu dan pasir pun bisa lagukan sepi dan kesedihan, iringi derau angin dan lirih senandung bibir. sepi, nyenyat, menggantung di biru langit, sebelum dipantul air laut.

Aku sempat bermalam di Rangkas, sebelum menuju Jakarta dengan kereta api Rangkasjaya. Perjalananku berakhir di Stasiun Tanah Abang siang itu, menyebrang ke Stasiun Senen dengan ojek, lalu menuju kota buaya dengan kereta api Gumarang. Kereta berhenti agak lama di Semarang, karena ada seorang penumpang meninggal mendadak di dalam kereta. Seorang lelaki tua, yang bepergian sendirian saja.

hikayat saija dan adinda terus hidup dalam masyarakat lebak sekarang, diabadikan pada nama-nama sekolah. 'kita tak pernah melupakan sejarah, apalagi yang pahit menggerus lidah. namun sejarah tak harus membuat kita dendam membabi buta."

Tak bisa kubayangkan seorang lelaki tua meninggal sendirian di dalam kereta. Tanpa kerabat, tanpa anak, tanpa istri atau saudara. Aku tak bisa memandang kepanikan di gerbong itu, kepedihan yang melanda keluarganya tatkala mendengar kematiannya yang sendiri, atau perasaan penumpang yang duduk sebangku dengannya. Aku tak bisa menangis, namun juga tak mampu bersuara saat itu. Sementara penumpang lain merepet, ngomel, karena kereta terlambat sekitar sejam.

hanya sebuah jembatan, penghubung ke karangteraje. jembatan yang basah kala hujan mengguyur tanah. jembatan yang membuatku memaki tukang ojek pemalas. jembatan si saksi bisu berton-ton batu bara muda diangkut ke bandung dan batavia.

Aku tak mampu menggambarkan semua itu dengan kata, terlalu gelap dan pahit tuk diungkap. Jadi biarlah sedikit gambar di bawah ini mewakili perasaanku. Kuharap sunyiku, getirku, nyeriku, dan indahnya lukisan sepi, tak anda alami dalam perjalanan anda ke barat nantinya. Cukup kutelan sendiri. Maka, dengan ini, kuakhiri kisahku tentang barat yang sunyi.  Aku mau menepi. (tamat)

Advertisements