Tags

Dulu, saya bermimpi naik sepeda, melalui jalan panjang beraspal yang membelah samudra. Kiri kanan adalah laut. Lidah-lidah air membasahi tepi jalan. Kadang menyentuh telapak kaki yang mengayun sepeda.

suatu pagi di tambak garam/dok.pribadi
suatu pagi di tambak garam/dok.pribadi

Mimpi itu terwujud tatkala menyusuri Madura yang pertama kali, saat memasuki gerbang Kabupaten Sumenep. Bus yang saya tumpangi melalui kawasan jalan basah. Gerimis menderai, kiri kanan adalah laut. Beberapa bagian air laut serasa bah, tumpah meruah jalan. Saya terpana. Tak sadar sedang memandang wilayah tambak garam sekitar Batiran.

Delapan tahun kemudian saya kembali ke tanah yang sama, jalan yang sama. Tak ada lagi deja vu. Tak ada bah yang tumpah ke tengah jalan. Tapi pemandangan tetap mempesona. Percikan air di tambak garam memantulkan pagi yang dingin, sunyi yang menyengat, dan eksotisme yang tak dapat dikisahkan. Eksotis sebuah pulau dalam keheningan.

Madura bagi saya tetaplah misteri. Semisteri nama madu dan dara yang berarti madunya dara. Konon nama ini lahir untuk melukiskan perempuan Madura pandai bermain asmara. Mungkin berkat ramuan Madura, atau perawatan lulur dan jamu Madura. Mungkin juga efek mujarab pijat Madura. Sungguh saya tak tahu.

Dulu, keliling Madura ibarat melihat kehidupan di negeri dongeng. Pulau sepanjang 160 km dan lebar 35 km ini tak ubahnya daratan kecil yang dikepung laut. Dimana-mana menjuntai pantai perawan dan bangunan bersejarah. Kultur masyarakatnya yang unik sungguh mendebarkan sekaligus membangkitkan tanya. Budaya carok, ketaatan pada kiai, jiwa menjunjung martabat, wanita dan tanah, menenung saya.

Belum lagi orangnya yang nampak santun tapi keras. Yang lelaki selalu mengenakan sarung dan peci. Yang perempuan berkerudung dengan pakaian tradisional – kebaya dan sarung atau kain panjang. Kerudung itu kadang berupa selendang, yang ditekuk-tekuk di atas kepala sebagai alas menyunggi keranjang.

bersandar di dermaga/dok.pribadi
bersandar di dermaga/dok.pribadi

Namun Madura saat itu nyaris tak tersentuh, terkubur dalam imaji kekerasan. Ingat Madura ingat Sampit. Ingat Madura ingat Nipah. Ingat Madura ingat carok sepanjang Pasar Wonokromo. Ingat Madura juga ingat para tki ilegal yang tongkangnya terbalik dalam pelayaran Johor – Tanjung Pinang.

Dalam perjalanan ke Madura yang entah ke berapa kali minggu lalu saya saksikan sebuah mata air di Desa Besuk. Saya teringat cerita Kudsi, sanak jauh, “Kami, orang Madura tak pernah menyia-nyiakan air. Dimana ada mata air di situ ada masjid. Bahkan kalau mata airnya besar, pasti ada pemandian umum. Tujuannya memberi kesempatan orang membersihkan diri sebelum beribadah.”

Saya dekati mata air Besuk. Memang ada masjid di sampingnya. Cukup besar, dan selalu terbuka pintunya, 24 jam sehari. Kembali saya teringat Aceh yang juga dipenuhi meunasah dan masjid, yang masyarakatnya khusuk mengusung sendi agama dan khanun jinayah. Ada kesamaan, hanya di Aceh masjid besar saja yang pintunya selalu terbuka.

Saya berkendara sepanjang jalur selatan. Nampak barisan rumah nelayan berderet, dengan dinding berbata putih di sekitar Pantai Camplong. Di laut lepas, jokotole bergoyang-goyang diayun ombak. Perahu tradisional berwarna cerah ini ditambatkan begitu saja di perairan dangkal, talinya dikaitkan satu-dua pohon bakau.

Hamparan pohon bakau dan nipah menghias sepanjang pantai menjelang Kota Sumenep. Sesekali pandangan terhalang oleh tempat pelelangan ikan, pasar sapi, vihara, atau aneka kerajinan ukir yang tersembunyi di Desa Karduluk.

penambangan bata puti di pantai utara/dok.pribadi
penambangan bata puti di pantai utara/dok.pribadi

Sekali saya berkendara lewat jalur utara. Karang dan pasir putih terhampar di sepanjang pantai utara Madura. Di Lombang saya menyaksikan vegetasi hutan cemara udang yang langka, tumbuh subur sepanjang pantai. Harganya yang mahal membuat penduduk beberapa desa suka hati membudidayakannya. Sebagian dijual, sebagian ditanam sepanjang pantai. Penghijauan tak hanya mengurangi abrasi, tapi juga menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar. Bayangkan, satu bibit cemara udang bisa laku Rp 50.000.

Di Slopeng saya temukan pantai yang teduh oleh gerumbulan nyiur dan pohon siwalan. Sementara garis sepanjang pantai ini kerap diselingi sekumpulan makam kuno seperti Asta Panaongan. Asta ini terletak di Pasongsongan, tepat di tepi pantai, dan selalu ramai peziarah.

Seorang nelayan menemukannya setelah terkubur selama ratusan tahun di gundukan pasir. “Nelayan itu bermimpi, istrinya yang sakit parah akan sembuh jika dia mau menggali gundukan pasir di dekat rumahnya,” cerita Mohamad, si juru kunci.

Jalur utara yang rusak berat juga menyuguhkan pemandangan miris. Pegunungan kapur yang meranggas dan terpangkas. Gunung kapur yang menganga serupa lubang besar setelah menjadi arena galian bata putih. Rupanya dari sinilah bata putih berasal. Di sekitar lokasi penambangan ini bertebaran gubuk-gubuk dari pohon nipah.

Ketika langkah kaki menjauh, samar-samar saya dengar dengung bor pemotong kapur bercampur dengan ayunan pacul penambang. Semerbak bau busuk kotoran manusia meruak, menusuk hidung. Bukit kapur tandus ini seolah menjadi saksi bisu kerasnya kehidupan di pulau eksotis ini.

Advertisements