Tags

,

Novel grafis 276 halaman ini berkisah pengalaman Didier mengikuti misi pelayanan kesehatan MSF di daerah  bergunung-gunung yang menjadi target perang antara Rusia dan Afghanistan. Kisah dimulai saat Didier meninggalkan Prancis, menuju Karachi, lalu Peshawar dan disambut rekannya MSF, Sylvie. Tim kemudian disibukkan dengan persiapan menjelang keberangkatan ke Lembah Teshkan, lalu Yaftal.

Hampir semua kegiatan sehari-hari tim, sejak masa persiapan hingga harus menempuh perjalanan berat menyusuri punggung pegunungan, diabadikan dalam foto oleh Didier. Perjalanan selama hampir sebulan, kebanyakan dilakukan pada malam hari, bersama pasukan gerilyawan penyuplai senjata, guna menghindari konvoi pasukan Rusia.

Memang komik ini tak berkisah tentang desingan peluru, hiruk-pikuknya perang. Tapi lebih berkisah tentang efek perang bagi penduduk pegunungan, desa, tentang korban-korban perang dengan luka mengerikan baik dewasa maupun anak-anak, banyak diantaranya bahkan meninggalkan cacat seumur hidup.

Kisah yang diangkat dari pengalaman perjalanan Didier, sang fotografer, sepintas nampak sangat personal dan egosentris. Namun Didier bukan jenis manusia narsis yang mengagungkan kepahlawanannya sendiri. Dia justru ingin berkisah melalui pengalamannya tentang manusia di sekitarnya, tentang daerah yang dikunjunginya, tentang banyaknya perampok, pemeras sepanjang perjalanan, juga penduduk desa yang baik hati.  Dari kisahnya kita bisa bercermin dan membaca manusia di sana. Didier nampak bertanggungjawab untuk mengabadikan momen orang-orang di sekitarnya, budaya, bahasa, dan kebiasaan orang-orang tersebut.

Sebagai anggota tim, Didier menyesuaikan diri dengan menggunakan pakaian setempat, memiliki nama lokal, memelihara janggut, hingga belajar bahasa lokal dan kebiasaan lokal. Dia detil mengamati kondisi sekitarnya, misal di awal cerita tentang bagaimana para pembeli keledai dan kuda untuk ekspedisi bernegosiasi dengan para penjual.

Sempat Didier dilanda kebimbangan ketika penat berjalan di gurun pada tengah malam, seperti yang ditulisnya dalam hal 37. “Dengan terhuyung-huyung kecapekan kami sampai juga di celah itu. Aku bertanya-tanya, buat apa aku berada di sini, dan seperti biasa pertanyaanku kujawab dengan memotret.”

Haha.. tugas fotografer adalah memotret, motret apa saja, dimana saja, tanpa metode dan tujuan jelas. Itu yang dilakukan Didier. Termasuk memotret hal-hal yang membangkitkan nilai kasih, misal kuda-kuda dan keledai-keledai yang tumbang, sekarat di sepanjang jalan.

Dia berkisah tentang kepala misi MSF, Juliet namanya, perempuan tapi selalu memakai pakaian lelaki setempat dan nampak disegani di antara lelaki Afghanistan bawahannya. Juliet suka menyikat rambut setiap bangun pagi. Tindakannya menyita perhatian seorang lelaki Afghanistan, pengurus kuda mereka. Mengapa? “Di pedesaan Afghanistan, laki-laki yang tidak berpunya, tidak memiliki istri.” Bisa Anda bayangkan, lelaki miskin terpesona pada Juliet dan mencukupi rasa cintanya cukup dengan mengamatinya menyisir rambut setiap pagi.

Suatu ketika, setiba di Poruns, Didier berpapasan dengan lelaki tua yang menggendong cucunya.  Mereka memanggilnya Baba, lelaki tua. Percakapannya dengan Robert rekannya sungguh menarik dan lucu untuk disimak. Sebuah satir tentang perang,.

“Aneh, tapi kalau tidak salah kata ‘baba’ yang digunakan orang Afghan untuk menyebut laki-laki tua juga digunakan orang-orang Rusia untuk menyebut kaum wanita tua.”

“Pasti itu sebabnya terjadi konflik.”

Lain waktu Didier mengisahkan MSF menerima pasien yang pertama, wanita tua pengidap kanker ganas di kakinya. Walau tak punya peluang hidup, MSF tetap mengoperasinya, seperti pada banyak operasi yang mereka tangani. Menurut  mereka, beda rasanya mati setelah mendapat pengobatan dengan mati tanpa diobati. Dan penduduk setempat berterimakasih sambil berkata, “Kalian mempersiapkan dia untuk bertemu Allah. Terimakasih.”

Suatu kali, Sylvie –salah seorang perawat MSF- berkisah kepada Didier bahwa dirinya pernah menyerahkan anak yang sudah meninggal kepada ibunya, dan si ibu menyelipkan saputangan berisi beberapa butir kenari sebagai ganti sambil berkata, “Terimakasih, berkat kau dia siap bertemu Allah.”

Soal kebaikan sukarelawan MSF, kerap orang Afghan berkata, “Sayang sekali kau bukan muslim. Kita akan pergi ke surga yang berbeda.”

Adalagi humanis naif mirip ini, ketika tim MSF selesai mengoperasi dan membuang mata kanan seorang pemuda yang tercocoh senapannya sendiri. Begitu siuman, si pemuda memandang ayahnya, lalu berkata kepada tim dokter, “Kau sudah menyediakan teh buat ayahku?”

Lalu pemuda itu meminta orang mengambilkan senapannya. Dia ingin menguji, apakah masih bisa membidik dengan mata kirinya yang masih utuh. Terakhir, pemuda itu mengeluh, “Aku akan sulit sekali mencari istri dan menikah.”

Dari kisah tentang pemuda itu, kita tahu bahwa dia sangat berbakti kepada ayahnya. Bahkan di saat menderita pun yang dipikirkannya kesejahteraan ayahnya. Kita juga tahu bahwa keinginannya membela tanah airnya begitu kuat. Cita-citanya menjadi pejuang. Tentang yang ketiga, mendapatkan istri di desa-desa Afghanistan amatlah susah kalau lelaki itu miskin atau cacat.

Didier juga menceritakan tabiat orang Afghan yang jarang dikisahkan orang lain. Misalnya tentang betapa sayangnya lelaki Afghan dengan anak-anaknya. Sebentar-sebentar dia akan merapatkan selimut anaknya, topi anaknya, untuk menjamin si anak tidak kedinginan. Atau perempuan Afghan pedesaan walau tertutup, tapi juga merdeka. Lewat Juliet kita bisa tahu tentang seorang perempuan yang memohon suaminya mengambil istri lagi. Kenapa? Untuk menemaninya ketika ditinggal bepergian oleh suaminya. Dia rupanya kesepian.

Dalam sebuah buku teori membuat komik pernah saya baca, jangan membuat teks melebihi 135 huruf. Jujur, komik ini banyak dipenuhi narasi dan percakapan panjang. Sering dalam sebuah narasi mirip alinea dalam sebuah tulisan. Namun ini adalah novel grafis dengan format ‘tak biasa’, sebuah alternatif. Di sini, kata Emmanuel Guibert, penulis sekaligus penggambar dalam komik ini, agar pengalaman Didier bisa dilihat dan dinikmati pembaca dengan penuh minat.

Emmanuel juga ingin agar suara Didier didengar, dan tugasnya adalah mengisi celah antara foto-foto Didier dan ceritanya dengan gambar-gambar yang dibuatnya. Tak semua yang dialami fotografer bisa dia tunjukkan dalam foto, maka bercerita salah satunya, termasuk bercerita dilengkapi gambar. Dan tugas juru gambar seperti Emmanuel adalah menggambarkan apa yang diceritakan, merangkainya dengan foto-foto yang ada, sehingga menjadi sebuah kisah yang memikat.

Ketika membaca lembar demi lembar komik ini, saya susah berhenti. Sangat menarik, tak hanya gambar dan foto, tapi juga narasi pengantar maupun dialog di antaranya. Didier seorang pengamat yang detil, cerdas, jeli, dan suka menertawakan diri sendiri. Walau menjadi sentral cerita, dia tak narsis maupun egois. Memandang misi kemanusiaan dari mata Didier sungguh indah, karena dia pun seorang pengasih, penyayang sesama, dan pembenci perang.

Ada saat-saat dimana Didier tak mampu memotret dan hanya menangis sambil duduk di sudut ruangan. Misalnya saat melihat seorang gadis cilik yang lumpuh, gara-gara ada pecahan granat sebesar biji beras menembus tulang belakangnya. Atau saat dia melukiskan mengapa Robert dan beberapa anggota MSF selalu kembali ke Afghanistan, ke desa-desa yang pernah mereka kunjungi. Karena penduduk desa itu dengan suka hati menyuguhi mereka roti, bahkan ketika persediaan gandum mereka habis dan penduduk desa harus berpuasa tak menyantap roti selama sebulan. Kebaikan hati penduduk inilah yang mengetuk sukarelawan MSF untuk terus datang dan melayani kesehatan mereka.

Jujur, awal membaca buku ini, ingatan saya beterbangan pada awal 2000-an, saat mata saya terbelalak memandang foto-foto sepak terjang Medicine Sans Frontiere di majalah Paris Match. Majalah terbitan Prancis itu memaparkan keberanian sukarelawan organisasi kemanusiaan asal Prancis dalam memberikan layanan medis di wilayah perang Afrika dan Timur Tengah. Sempat saya menyesal mengapa tak ambil kuliah jurusan kedokteran, agar bisa membantu sesame seperti MSF itu.

Beberapa waktu lalu saya membaca ulang novel karya Khaled Hosseini berjudul ‘Kit Runner dan A Thousand Splendid Suns’ jadi saya emiliki sedikit gambaran tentang perang di Afganistan, rezim apa saja yang berkuasa dan menyebabkan pertumpahan darah, bagaimana kondisi Kandahar, Peshawar, atau Islamabad saat itu. Gambaran yang membeku dalam debu-debu darah dan kepedihan perang.

Ketika mulai meniklmati lembar demi lembar buku ‘Sang Fotografer’, saya bertannya kepada dua kawan, fotografer kawakan penyuka foto hitam putih tentang buku ini. Apa kata mereka? “Itu buku yang jelek. Foto-fotonya buruk, dan nulisnya seperti majalah Kuncung!”

Saya sempat terbahak mendengar pendapat mereka. Setahu saya yang awam dalam hal foto-memfoto, hanya segelintir, mungkin kurang dari sepuluh, dari ribuan foto yang bisa dimuat di sebuah majalah atau suratkabar bertaraf internasional. Hal ini juga dialami Didier Lefevre, tokoh utama buku ini. Dari sekitar 4000 foto yang dibuatnya, hanya 6 foto yang dimuat harian Liberation pada 27 Desember 1986. Padahal, dia harus tiga bulan lebih mengikuti konvoi MSF di Afghanistan. Belum lagi penyakit furunkolosis kronis yang dideritanya sebagai oleh-oleh dari sana, telah membuatnya kehilangan 14 gigi di tahun berikutnya. Jadi menurut saya, foto-foto di dalam buku ini tetap ‘layak’ tampil dan bercerita banyak. Mungkin karena saking banyaknya, hingga kita kurang detil mengamati setiap foto.

Didier sendiri delapan kali mengunjungi Afghanistan sejak misinya yang pertama 1986 hingga tahun 2006. Dia akhirnya meninggal pada 2007 karena serangan jantung. Selain Afghanistan, Didier juga memotret Kosovo, AIDS di Malawi dan Kamboja, hingga pertanian di negeri bekas Eropa Timur. Membaca karya Didier ini, kita akan mendapat banyak. Tak sekedar foto-foto yang dinilai ‘bagus’ atau ‘jelek’, tapi juga sisi kemanusiaan di balik penderitaan manusia. Jadi sama sekali tak rugi, malah merasa kaya. Thanks to c2o atas pinjaman bukunya 😀

*Buku ini diterbitkan oleh Gramedia, Februari 2011. Edisi aslinya, Voyages en Afghanistan, diterbitkan oleh Ouest-France pada 2002.

Advertisements