Tags

all along the way

spicey islands, a set on Flickr.

Juni awal waktu itu. Bersamaan dengan musim cengkeh berbunga. Semerbak harum cengkeh menebar aroma ke udara, menembus pokok-pokok di perkebunan cengkeh, bahkan meruah ke sepanjang ruas jalan. Sungguh saya beruntung, tiba di Maluku Utara kala musim cengkeh berbunga.

Orang Eropa boleh membanggakan empat musimnya. Spring, Summer, Autumn, dan Winter. Orang kepulauan rempah-rempah pun bisa berbangga hati tatkala musim cengkeh berbunga.

“Bukankah ini yang menarik kalian, wahai bangsa Eropa, menaklukkan ganas samudra demi cengkeh kami, demi pala kami, atau fuli kami?

Bukankah kekayaan kami ini, wahai bangsa Eropa, yang membuat kalian bernafsu, serakah, atas nama penyebaran agama dan nama harum bangsa, sebelum memborbardir tanah kami, membunuh penduduk kami yang melawan, lalu menguasai tanah kami selama berabad-abad, agar mencecap kemakmuran dari tetumbuhan kami?

Jadi kami harus bangga dan akan selalu bangga tatkala musim cengkeh berbunga!”

Sambil melangkah sepanjang Tarau, Kulaba, Bula, Tobololo, Sulamadaha, Takome, Bamadehe, Loto, Togafo, Taduma, hingga Dorpedu dan Rua, mulai saya mengerti mengapa tanah itu disebut kepulauan rempah-rempah. Baru saya pahami mengapa Antonio d’Abreau dan Francisco Serrao mau membahayakan armada lautnya, demi mencapai tanah ini, untuk menjadi orang pertama yang meraup rempah-rempah. Rempah yang di sini dihargai murah, laku terjual 200 kali lebih mahal di pasar Eropa sana.

Panas menyengat hari itu. Sesekali awan menutup jalan. Saya turun dari angkot tepat di kebun pala dan cengkeh. Sepanjang jalan yang saya lalui, berjejer pohon cengkeh dan pala. Buah pala yang kekuningan mengangguk-angguk seolah menyapa. Tak terbersit hasrat tuk memetiknya, walau satu dua butir.

Teringat saya nasihat tua, “Jangan petik buah pala kalau belum tua benar. Akan merusak pohon dan hasil buahnya. Petiklah kalau benar matang. Mau tahu matang tidaknya, cukup goyang-goyangkan pohon. Buah yang jatuh memang layak dipetik.”

Lepas perkebunan, saya berjalan melalui perkampungan. Amboi.. hidung pun dipenuhi harum cengkeh yang dijemur memenuhi ruas jalan, bahkan melebar ke pantai. Perkampungan seolah menjadi lautan rempah-rempah. Tak ada tempat melompong tanpa dipenuhi plastik, goni, dan tikar yang menjadi alas cengkeh, pala, atau fuli yang dijemur.

Warna mereka sungguh menggoda mata. Cengkeh muda berwarna hijau kemerahan, yang sudah kering menjelma gosong kecoklatan. Sedang fuli, kulit pala berwarna merah menyala, terkelupas dari biji pala kecoklatan.

Tak puasnya saya hirup wanginya dalam-dalam. Tak rela saya melepas sensasi bau dan indahnya begitu saja. Biar lekat dalam ingatan, membentuk kenangan abadi tentang pulau rempah-rempah di timur jauh.

Di depan sebuah rumah, saya melihat seorang gadis memisahkan biji pala dari buah dan kulitnya. Buahnya akan diolah sebagai manisan. Lalu biji dan kulitnya dijemur. Kulit pala ternyata merah, fuli namanya, dan laku dijual mahal sebagai bahan obat dan parfum.

Merahnya mengingatkan akan darah yang tumpah saat penduduk kepulauan ini mempertahankan tanahnya dari amuk serakah Portugis, Spanyol, dan Belanda. Tak puas menjadi pembeli utama, kala itu kolonial Eropa ini hendak memiliki tanah rempah-rempah pula.

Kini, tak ada lagi darah tumpah. Pemilik tanah bebas menyebar cengkeh dan pala di kebun, lalu menunggu musim panen tiba. Di bawah pohon cengkeh, mereka menebar kain, lalu menggoyang dahan-dahannya. Membiarkan bunga cengkeh jatuh. Kadang mereka memetiknya bersama pala, di dahan-dahan yang rendah.

Setelah rempah kering dijemur, mereka akan menumpuknya ke dalam karung goni. Lalu menunggu para tengkulak, utusan pedagang besar datang dari kota, menawar harga.

Banyakkah untungnya? “Cukuplah,” kata seorang ibu. Namun jangan bermimpi menjadi kaya. Bahkan ketika harga cengkeh kering melambung Rp 50.000 per kilogram, pala mencapai Rp 60.000/kg atau fuli Rp 100.000/kg, keuntungan itu tak banyak mereka rasa. Namun mereka terus menanam rempah yang sama. Karena rempah-rempah membuat mereka ada, dan pulau mereka abadi dalam kenangan sejarah.

Advertisements