Tags

,

the operation

cataracts, a set on Flickr.

Seberkas Sinar pada Mata Kehidupan

Saya baru sempat bertandang di hari kedua, karena efek insomnia parah yang membuat saya kesulitan meliput kegiatan di terang hari. Begitu memasuki RS Brawijaya milik Kodam V siang itu, tempat pendaftaran pasien sudah mulai sepi. Kawan saya Heri Tedjo hanya menertawakan ‘penyakit kronis’ saya, lalu mengajak berkeliling.

Sabtu itu, ada sekitar 125 orang yang dioperasi katarak dari 135 yang direncanakan. Sehari sebelumnya ada 99 orang. Khusus hari itu, penderita katarak datang dari Kabupaten Pamekasan, Madura. Mereka berangkat dengan bus jam 8 malam sebelumnya, menginap di RS Haji, lalu pagi itu menjalani screening test sebelum operasi.

Antrian panjang di ruang jelang operasi, kegalauan pasien yang hendak menjalani operasi, atau mereka yang gusar karena tekanan darahnya tinggi sehingga diharuskan meminum obat penurun tensi dulu sebelum operasi, tergambar jelas di sana.

Karena saya diundang tim dokumentasi Tzu Chi, maka leluasa saya keluar masuk, menjawil siapa saja untuk meminta sedikit informasi, atau memotret apapun yang saya suka, termasuk memotret waktu operasi. Sayang di hari ketiga baksos, 17 Juli, saya urung datang karena anak adik meninggal dimakan demam berdarah. Foto yang saya kumpulkan pun kurang lengkap, foto membuka perban paska operasi dan kegirangan pasien yang bisa melihat seberkas cahaya kembali, untuk memulai mata kehidupannya.

Setiap menit ada seribu penderita katarak baru

Ini pernyataan menarik yang dilontarkan dr Ruth Oka Anggriani, ketua tim dokter Tzu Chi Jakarta. Pernyataan yang diambilnya dari report WHO tentang katarak di Indonesia. Sungguh mencengangkan dan membuat miris hati. Separah itukah?

Dalam Kompas online edisi 6 Juni 2011 disebutkan ada lebih dua juta kebutaan di Indonesia yang disebabkan oleh katarak. Dan, diprediksi penderita katarak di Indonesia bertambah lebih 240.000 setiap tahun. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penderita katarak tertinggi se-Asia Tenggara. Setinggi itukah? Apa penyebabnya. Segera pertanyaan ini berkelebat di benak saya.

Katarak dan global warming

Katarak adalah sejenis kerusakan pada mata yang membuat lensa mata berserabut dan rabun. Lensa menjadi keruh dan cahaya tak bisa menembusnya. Paling gampang mengenali gejala katarak, kalau pandangan mata kita berasa berbenang-benang, berjerami. Nah.. nah!

Biasanya katarak terjadi pada usia tua, misalnya manula 60 tahun ke atas. Namun pada beberapa kasus ditemukan juga katarak pada anak-anak, umumnya karena faktor keturunan, penyakit diabetes, atau pasokan gizi buruk selama masa kehamilan.

Belakangan, menurut dokter Ruth, ada pergeseran umur pada penderita katarak degeneratif. Tak lagi serang mbah-mbah umur 60-an ke atas, tapi juga mereka yang berumur 40-an tahun. Wah, sudah menyerang usia produktif, kenapa bisa begitu?

Banyak hal yang dituding menjadi penyebabnya. Bisa karena penyakit diabetes melitus, bisa karena trauma di mata, atau merokok. Namun yang utama adalah paparan sinar matahari yang berlebihan akibat global warming,. Juga polusi udara macam debu dan asap.

Tak heran jika penderita katarak banyak ditemukan di daerah pesisir. Bisa jadi mereka nelayan, buruh bangunan, petani, atau penggarap tambak garam. Karena kondisi ekonomi mereka umumnya ‘pas-pasan’, maka jarang yang mendapatkan pengobatan medis seperti operasi. Bea operasi katarak tergolong mahal, berkisar antara Rp 9-10 juta per mata. Akhirnya banyak penderita katarak yang berakhir pada kebutaan.

Peran masyarakat

Beruntung banyak anggota masyarakat yang peduli terhadap penderitaan masyarakat miskin, termasuk penderita katarak yang banyak tersebar di Indonesia. Diantaranya Yayasan Tzu Chi ini. Dalam waktu tertentu mereka melakukan semacam baksos, dengan melakukan operasi katarak gratis bagi masyarakat yang kurang mampu. Selain itu ada RS Tzu Chi yang mengoperasi katarak dengan bea sekitar Rp 5-6 juta, separo bea normal.

Soal tingginya penderita katarak, seorang relawan Tzu Chi berkisah. “Setiap kali hendak melakukan baksos operasi gratis, permintaan tentang katarak selalu tinggi. Beda dengan bibir sumbing atau hernia.”

Yah, dengan operasi gratis semacam ini, kaum yang ‘berpunya’, entah itu harta atau keahlian, mampu memberi seberkas sinar pada yang nyaris buta. Sinar pada ‘mata’ dan pada ‘mata kehidupan’ mereka.

Salam,

Advertisements