Tags


“Kau harus baca buku ini, bagus. Menciptakan genre buku traveling lain paska the naked traveler-nya Trinity,” begitu saran kawan yang memang penyuka traveling. Ketika saya toleh, harga buku saat itu di luar anggaran saya, hampir seratus ribu. Jadi niat baca saya urungkan hingga dapat kesempatan meminjam buku di c2o library dengan harga sewa sepersepuluh harga aslinya :D.

Buku ini mengungkap kisah perjalanan Agustinus Wibowo -si penulis yang juga jurnalis- ketika menyambangi negara-negara di Asia Tengah, paska perpisahannya dengan Uni Sovyet. Ada lima negara yang dikunjunginya, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Lima negara yang berdampingan, dibatasi pegunungan, lembah, Sungai Amu Darya, juga negara tetangga sekaligus musuh bebuyutan, Afghanistan.

Sesuai judulnya, Garis Batas, Agustinus ingin menekankan makna perbatasan bagi bangsa-bangsa yang terkotak-kotak di dalamnya. Betapa batas negara telah memiskinkan penduduknya, membuat rakyatnya merana, terkepung euforia tentang kebebasan dan kemerdekaan, atau terjebak dalam surga semu utopia. Batas di sini bisa berarti daerah perbatasan, suku, bangsa, agama, garis politik, bahasa, budaya, dan lainnya. Batas yang ditentukan manusia sendiri, yang akhirnya menjebak manusia ke dalam nasib yang kerap tak berpihak kepadanya.

Ada beberapa hal yang ingin saya ungkapkan paska membaca buku ini, sebagai pendapat pribadi tentunya.

Satu, buku ini memang menarik, tidak seperti buku traveling biasa yang memaparkan ‘keliling negeri anu dengan dua juta’, atau mengekspos keindahan sebuah negeri lengkap dengan tempat wisata nan elok, hotel murah, tempat makan enak, dsb. Jauh, ini bukan buku semacam ini, dan memang tidak ditujukan sebagai buku panduan wisata atau ajang pamer yang kerap menipu agar laku begitu.

Garis Batas lebih mirip buku sastra, yang memaparkan getir, buram, muram, dan gelapnya negeri-negeri yang dikunjungi Agustinus paska mereka memerdekakan diri dari Uni Sovyet. Pandangan penulis begitu kuat melekat pada setiap pengamatannya selama perjalanan.

Dua, buku ini cukup lengkap dan dalam dengan data, entah itu data sejarah masa lalu, sejarah munculnya nama ibukota, negara, pemimpin, politik masa lalu, agama, dan sebagainya. Nampak penulisnya tak sekedar melaporkan pandangan mata negeri yang dikunjunginya, tapi juga menggali lebih jauh sebelum menuliskan negeri-negeri itu. Itu sebabnya buku ini bisa dijadikan salah satu sumber kajian politik, sosial, atau ekonomi paska pemisahan dengan Uni Sovyet.

Tiga, saya menangkap nuansa yang ditampilkan buku ini sangat suram dan muram. Nyaris tak ada keceriaan dan humor, apalagi optimisme. Ketika membaca bagian tentang Tajikistan dan Kirgizstan, saya jadi bertanya-tanya kenapa yang melulu ditampilkan kisah kurang makan, kemiskinan, bau busuk, mahalnya harga, pengangguran, orang-orang yang menderita, korupsi. Hal buram begitu mendominasi cerita.

Begitu juga saat membaca bagian Kazakhstan yang dilukiskannya negeri kaya tapi mahal dengan gap antara si kaya miskin begitu besar, atau si Turkmenistan yang menjamin kesejahteraan sosial wajahnya sekaligus mengisolasi warganya. Saya sempat bertanya, apa tak ada sedikit optimisme, kebijaksanaan, di balik bangkitnya negeri-negeri yang baru merdeka ini. Yah, paling tidak Agustinus bisa menggambarkan kisah beberapa orang yang penuh harapan, atau berserah diri dengan penderitaan tanpa kehilangan semangat dan idealisme.

Baru ketika membaca Uzbekistan, saya melihat warna-warni dalam tulisan Agustinus. Tentang budaya, masyarakatnya, permasalahan sosial (tak semata politik), dan warna kehidupan. Termasuk saya mulai menikmati foto-foto yang ditampilkan Agustinus, karena fotonya mulai lari ke corak ‘khas’-nya sebuah negeri, bukan bermakna buram dan politis!

Empat, secara tidak langsung buku ini menggiring pembacanya untuk mengamini apa yang ditulis penulisnya. Mengamini buramnya kondisi sosial politik di sana, kehidupan ekonomi di sana, dengan lagi-lagi penekanan kepada garis batas. Buku ni lebih mirip opini penulisnya, karena setiap alinea, sub bab yang ditulis penulisnya, yang dia gambarkan, selalu juga diikuti oleh pandangan penulisnya tentang ‘garis batas’ itu, tentang ‘buram’ itu. Hal ini membatasi pembacanya untuk bebas berimajinasi, apalagi mendengar kisah humor dan konyol yang menertawakan kondisi buram, agar kisah lebih hidup dan meriah.

Walau bukan genre yang sama, saya ingin membandingkan dengan novel grafis Joe Sacco yang menggambarkan Gorazde, di Bosnia Timur. Dalam narasi maupun gambarnya, Sacco tak menghakimi apa yang terjadi. Jelas penduduk Gorazde kondisinya tak lebih baik dibanding lima negeri yang dituliskan Agustinus Wibowo, namun pembaca masih bisa menemukan keriangan, humor satir yang bikin terbahak, optimisme mereka yang bertahan hidup dalam buku ini. Kisah sedih atau buram kan tidak harus selalu ditekan dengan tinta hitam dan tangis.

Lima alias terakhir, paska membaca buku ini, sebagai penyuka jalan, cuma satu negara yang ingin saya kunjungi, Uzbekistan. Kenapa? Karena berdasar gambaran dalam buku ini hanya Uzbekistan yang berwarna, menarik, ramah dengan turis, dan lainnya. Tapi andai ditanya apakah saya mau mengunjungi Afghanistan atau Gorazde paska membaca karya Khaled Khosseini dan Joe Sacco, dengan antusias saya jawab mau (asal ada rejeki). Kenapa? Karena saya merasa negeri-negeri itu penuh warna berkat kepiawaian penulisnya melukiskan kondisi negeri tadi. Tak selalu buram dan muram, tapi juga eksotis, indah, magis, dan memikat.

Saya sempat menuai protes ketika memaparkan lima pendapat saya di atas. “Jelas itu bukan buku traveling,” kata kawan, “itu buku sastra!” tangkisnya. Toh, meski buku sastra, Agustinus mempromokan bukunya di antara para traveler, para backpacker, jadi tetaplah si pembaca yang umumnya petualang, penyuka jalan, ingin mendapat gambaran yang fair, balance, tentang sisi baik buruknya negeri-negeri yang dikunjunginya. Atau mungkin juga pengalaman Agustinus tak ada yang baik? Semua buram?

Mungkin juga tujuan Agustinus menulis buku ini untuk berbagi, bukan membuat orang penasaran, ingin tahu, lalu mengunjungi negeri-negeri yang pernah dikunjunginya. Mungkin juga ia hanya ingin bilang, jangan pergi ke sana, karena dipenuhi garis batas!

Salam,