Tags

,


Tulisan ini pernah dimuat di deritapattani.blogspot.com dan ary-amhir.blogspot.com. Saya tampilkan lagi sebagai pengenang dan pengingat.

Wajahnya damai, terpekur  menatap sajadah yang terhampar di depannya. Baju putihnya melambai ditiup angin yang tak henti menerpa. Hujan terus mengguyur Surabaya dari pagi hingga petang ini, menyisakan genangan air di halaman Masjid Ampel. Namun lelaki ini nampak tak peduli. Lelaki berwajah tirus dan beraksen asing nampak khusyuk berdialog dengan penciptanya.

Muhammad Al Sayid, lelaki asal Siam yang sedang berkunjung ke Surabaya. Sudah hampir sebulan dia tinggal di kota pahlawan, merebahkan diri di Masjid Ampel. Sebuah ziarah panjang, katanya. Apa yang dicarinya? “Peace,” ucapnya lirih.

Damai semakin langka didapat di kampungnya, Pattani di Siam Selatan. Pertempuran selalu meletus antara gerilyawan muslim melawan pemerintah Thailand. Korban pun berjatuhan. Namun dengungnya jarang terdengar. Pemerintah Thailand berhasil meredam ulah pemberontak ini dengan taktis.

Masih hangat di kepalaku Maret 2008 ketika  gerombolan pemberontak muslim Thailand Selatan menghentikan sebuah van padat penumpang di Yala. Mereka menembak kesembilan penumpangnya, termasuk tiga wanita dan seorang bocah sekolah, dan melukai dua lainnya. Hanya sopir van yang lepas dari eksekusi, setelah para gerilyawan mendengarnya berdoa memohon pertolongan Allah.

Masih di bulan yang sama, Pondok Islam Bamrungsart di Sabayoi, Propinsi Sangkhla, dilempari bom dan ditembaki. Tiga siswanya tewas, tujuh lainnya terluka. Tak berapa lama tiga pendeta budha di daerah yang sama juga ditembak mati.

Kejadian di atas hanya gambaran kecil kekerasan yang terus meningkat di Thailand Selatan. Thailand kini menjadi negara ketiga setelah Iraq dan Afghanistan yang tak aman dari serangan para gerilyawan. Sejak diterapkannya hukum darurat militer di tiga propinsi muslim di Thailand Selatan (Yala, Pattani, Narathiwat) Januari 2004 lalu, tak kurang 3215 korban terbunuh, baik penduduk sipil (1815 korban) dan gerilyawan muslim (1400 korban), belum termasuk 2729 orang yang terluka.

Pemerintah Thailand menuduh Barisan Revolusi Nasional dan Dewan Pembebasan Pattani berada dibalik semua penyerangan ini. Namun siapa pemimpin dan kaki tangan pelaksana operasi penyerangan ini, tak bisa diketahui pasti. Tak seperti pemberontakan dan terorisme di negara lain yang terorganisasi, jelas siapa pelakunya dan haus akan publikasi, tindak kekerasan di Thailand nyaris tak diketahui siapa pelakunya, siapa dalangnya, dan berapa jumlahnya, sehingga sulit bagi pemerintah Thailand untuk mengambil tindakan, entah lewat kekerasan atau negosiasi.

Pemberontakan terselubung ini amat berbahaya, karena memiliki target serangan yang efektif dan mampu menghancurkan kredibilitas pemerintah. Tindakan non-kompromi, keras, dan penuh tekanan yang dilakukan mantan PM Thaksin Shinawatra malah membuat Shinawatra dikudeta, dan digantikan oleh PM Surayud Chulanont. Chulanont mencoba mencari pendekatan damai dan pro-aktif  dengan para gerilyawan lewat negosiasi. Namun hasilnya justru malah meningkatkan serangan gerilyawan, baik secara kualitas maupun jumlah serangan..

Sasaran serangan para gerilyawan pun meluas. Tak lagi simbol pemerintahan Thailand seperti pos polisi dan tentara, instansi pemerintah, perkebunan, sekolah milik pemerintah, kuil dan pendeta budha, tapi sudah meluas ke perempuan, anak-anak,  sekolah muslim yang dianggap menerima bantuan dari pemerintah Thailand, serta orang-orang muslim yang dianggap bekerjasama dengan pemerintah.

Apa penyebabnya? Banyak yang menuduh hal ini disebabkan karena pemerintah tak memahami aspirasi masyarakat dan budaya Islam setempat. Tentara dan polisi dianggap kurang mendapat latihan melawan pemberontakan, belum lagi perpecahan antara militer dan polisi yang tak jua menemui titik temu. Bukan rahasia kalau polisi setempat terlibat dalam berbagai kejahatan seperti perdagangan obat bius, atau menjadi pelindung gang kejahatan, sehingga tentara sering memandang polisi sebelah mata. Represi berlebihan yang dilakukan pemerintahan Shinawatra terhadap para pemberontak di masa lalu turut menebalkan rasa anti pemerintah. (bersambung)

*gambar diambil dari sini