Tags

,


Enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 6 Agustus 1945 tepat 08.15 pagi, bom atom pertama (dari jenis Uranium) dijatuhkan di Hiroshima, menimbulkan efek kemanusiaan yang dahsyat. Setidaknya 100.000 orang meninggal, 100.000 lagi terluka dan cacat seumur hidup. Sekitar 45.000 yang kelihatannya selamat tak terluka pun tak lebih baik nasibnya. Kehilangan rumah, keluarga, ancaman efek radiasi bom nuklir itu hingga 2-3 generasi ke depan. Tak ada yang baik dari kejatuhan bom atom ini, kecuali penyerahan Jepang atas sekutu, penghentian perang, dan kekejaman Jepang di belahan Asia Timur Raya. Tak ada yang indah dari perang, tak ada yang bahagia dengan hausnya kekuasaan yang menghalalkan sebuah negara menjajah negara lain.

Berikut saya ambilkan petilan-petilan dari buku karya John Hersey, ‘Hiroshima, Ketika Bom Dijatuhkan’ seperti yang terjemahannya diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Saya fokuskan pada kisah paska dijatuhkannya bom atom karena saya anggap bagian ini menarik, memiliki nilai ilmiah, dan semoga kita bisa belajar darinya. Review lengkap buku ini bisa dibaca pada tulisan kawan di sini. Sedang versi ebooknya bisa di-download di sini.

Laporan jurnalis asal Amerika ini pertama dimuat di The New Yorker Agustus tahun 1946, dan terpilih sebagai karya jurnalisme ‘features’ Amerika terbaik sepanjang abad ke-20.

cover buku 'hiroshima'

Inilah kali pertama Nona Sasaki berkesempatan melihat reruntuhan kota Hiroshima. Terakhir kali ia melewati jalan-jalan kota itu, ia sedang tidak sadarkan diri. Meskipun sebelumnya ia sudah mendengar cerita tentang puing-puing dan reruntuhan itu, apa yang disaksikannya tetap membuatnya sangat ketakutan dan heran. Ada sesuatu yang membuatnya merinding. Di atas segala puing-puing itu, di sepanjang tepi sungai, di antara atap dan genting timah, merambat pada batang-batang pohon yang gosong, terhampar selimut hijau yang segar, jelas, subur, dan optimis. Kehijauan ini bahkan tumbuh dari pondasi rumah-rumah yang hancur. Rerumputan itu juga sudah menutupi abu kebakaran. Dan di antara segala reruntuhan itu, muncul bunga liar yang tumbuh subur.

Bom ini tidak merusak organ bawah tanag setiap tanaman, tetapi justru mempercepat pertumbuhannya. Di mana-mana tumbuh tanaman blueberry dan spanish bayonets (tanaman tinggi, berkayu, dan berbunga putih), goosefoot (rumpun Cheponodium), morning glory (tanaman merambat dengan bunga seperti terompet berwarna biru), dan day lilies. Tumbuh pula tanaman kacang-kacang berambut, krokot, dan clotbur. Tidak ketinggalan tanaman semak seperti wijen, rumput panic grass (rumpun panicum), dan seruni. Terpusat di bagian lingkaran pusat ledakan, sickle senna tumbuh dengan kecepatan yang mengagumkan. Tanaman-tanaman ini tidak hanya tumbuh di antara sisa-sisa tanaman lama yang mati, tapi juga tumbuh di tempat baru, di antara batu bata, dan di sela-sela retakan aspal. Seakan-akan sejumlah besar bibit sickle senna telah dijatuhkan bersamaan dengan bom itu.

'panic grass', si rumput emoh radiasi itu

Apa yang membuat tanaman di atas lolos dari radiasi bom atom yang kaya akan neutron, partikel beta, dan sinar gama itu? Apa yang membuat tanaman itu bertahan, bahkan nyaris tak merasakan dampak maha dahsyatnya bom bersuhu 6000 derajad celcius itu? Apakah tanaman itu menyerap radiasi di sekitarnya, atau justru menolak radiasi? Bagaimana mungkin mereka tumbuh subur, bak gulma, di awan dan udara yang mematikan karena penuh zat radioaktif? Saya masih bertanya-tanya dan mencoba menemukan jawabannya hingga saat ini. (mesti buka diktat kuliah lagi, padahal 99% diktat sudah masuk depo kertas daur ulang L ).

 ..Ini adalah reaksi langsung akibat bombardemen terhadap tubuh pada saat bom meledak. Bombardemen ini dilakukan oleh neutron, partikel beta, dan sinar gamma. Orang-orang yang terlihat tidak terluka, tapi meninggal secara misterius dalam waktu berapa jam atau hari pertama  pengeboman adalah korban tahap pertama ini.

 Korban yang meninggal akibat radiasi tahap pertama berjumlah 95% dari keseluruhan jumlah orang yang berada dalam radius 800m dari pusat ledakan. Ribuan lainnya tewas pada jarak yang lebih jauh. Walaupun sebagian besar korban tewas ini juga menderita luka bakar dan dampak ledakan lainnya, para dokter menyadari bahwa mereka telah menyerap cukup banyak radiasi untuk membunuh mereka. Sinar-sinar ini menghancurkan sel-sel tubuh karena membuat nukleus (inti sel) berhenti berkembang dan merusak dinding sel. Banyak korban yang tidak langsung tewasakan terserang rasa pening, sakit kepala, diare, malaise (perasaan tidak sehat), dan demam selama berhari-hari. Para dokter belum bisa memutuskan apakah gejala-gejala ini merupakan akibat radiasi atau goncangan syaraf.

 

'sickle senna', yang tumbuh dengan kecepatan mengagumkan paska pemboman

Tahap kedua terjadi 10 atau 15 hari setelah pengeboman. Gejala awalnya adalah rontoknya rambut. Selanjutnya, muncul penyakit diare dan demam yang suhunya mencapai 41 derajad celcius. Kira-kira 25 sampai 30 hari setelah ledakan, timbul kerusakan darah: gusi berdarah, jumlah sel darah putih turun secara drastis, dan petechiae timbul di seluruh kulit dan mucous membrane. Penurunan jumlah sel darah putih secara drastis membuat kemampuan pasien untuk menahan infeksi berkurang. Karena itu, luka terbuka biasanya sukar disembuhkan. Selain itu, banyak korban yang menderita radang tenggorokan dan mulut. Dua gejala kunci yang menjadi dasar perkiraan para dokter ini adalah demam dan turunnya jumlah sel darah putih. Jika demam tetap tinggi selama berhari-hari, kesempatan pasien untuk sembuh sangat kecil. Jumlah sel darah putih selalu turun hingga di bawah 4.000. Jika jumlah sel darah putih seorang pasien turun hingga di bawah seribu, kemungkinannya untuk hidup sangat kecil. Pada akhir tahap kedua, jika pasien dapat bertahan, anemia atau penurunan jumlah sel darah merah, juga akan menyerang.

Tahap ketiga adalah reaksi yang timbul ketika tubuh berusaha mengembalikan kondisi tubuhnya. Sebagai contoh, jumlah sel darah putih akan melonjak hingga di atas normal. Pada tahap ini, banyak pasien yang mati akibat komplikasi, misalnya karena infeksi dalam rongga dada. Sebagian besar luka bakar akan sembuh dengan meninggalkan bekas luka bakar berwarna merah jambu yang dikenal sebagai tumor keloid. Durasi penyakit ini bervariasi, tergantung pada keadaan fisik seseorang dan jumlah radiasi yang diterimanya. Beberapa pasien sembuh dalam waktu seminggu, sementara pasien lainnya baru sembuh setelah berbulan-bulan.

Ketika gejala-gejala ini muncul, jelas terlihat bahwa gejala ini mirip dengan overdosis sinar-X. Karena itu, para dokter mendasarkan terapi mereka pada penyakit ini. Mereka memberikan pengobatan berupa ekstrak hati, transfusi darah, dan vitamin, terutama B1, pada para pasien. Kurangnya obat-obatan dan peralatan medis menghambat kerja mereka. namun para dokter Skutu yang datang setelah Jepang menyerah menemukan bahwa plasma darah dan penisilin sangat efektif.

Secara jangka panjang, kerusakan darah adalah penyebab utama penyakit ini. Karena itu, sejumlah dokter Jepang merumuskan sebuah teori yang menjelaskan penyebab sakit yang tertunda ini. Menurut mereka, mungkin sinar gamma yang memasuki tubuh pada saat ledakan membuat fosfor yang ada dalam tulang korban menjadi bersifat radioaktif. Fosfor ini akan mengeluarkan partikel beta. Partikel ini tidak dapat menembus jauh ke dalam daging, tetapi dapat memasuki sum-sum tulang dan merusaknya secara bertahap. Sum-sum merupakan tempat diproduksinya darah.

Apa pun penyebabnya, penyakit ini sangat unik. Tidak semua pasien menunjukkan seluruh gejala utama. Dalam batas-batas tertentu, orang-orang yang menderita luka bakar akan cukup terlindung dari penyakit akibat radiasi. Sementara itu, mereka yang terbaring diam selama berhari-hari atau bahkan berjam-jam setelah pengeboman akan lebih mudah terkena penyakit dibandingkan dengan mereka yang aktif bergerak. Rambut cenderung rontok, kemampuan untuk berpikir menjadi menurun, dan proses reproduksi akan terganggu untuk sementara waktu. Para laki-laki menjadi mandul dan para perempuan mengalami keguguran serta berhenti menstruasi.

Saya sangat tertarik dengan bagian dampak radiasi bagi kesehatan di atas. Mungkin karena pernah mempelajari tentang teknik nuklir. Namun gejala-gejala radiasi di atas sangat umum guna mendeteksi radiasi lain akibat terlepasnya zat-zat radioaktif dengan jumlah besar ke udara, misalnya bocornya PLTN Fukushima baru-baru ini.

Nampaknya, kita bisa belajar banyak dari laporan jurnalistik Hersey jika mau. Belajarlah dari sejarah, kata orang bijak, meski sejarah itu nampak seperti masa lalu yang berdebu dan mengaburkan pandangan.

Salam,