Tags

,


Berjuta-juta dari Deli, Berjuta-juta Nasib TKI

Paska membaca buku ‘Berjuta-juta dari Deli’, saya melihat dan merasakan ada kesamaan nasib antara kuli tembakau Deli yang dikisahkan oleh Emil W Aulia dalam bukunya ini dengan para TKI/TKW (khususnya buruh dan TKI ilegal) yang sempat saya teliti di Malaysia dulu.

Ijinkan saya berbagi pemikiran ini, dan saya harap Anda bisa memberikan sedikit masukan dan kritik.

cover buku 'Berjuta-juta dari Deli'

Membaca buku ini, saya merasa perbudakan itu masih ada saat ini. Jeritan para kuli kontrak di Deli tahun 1860-an hingga jelang invasi Jepang, masih terdengar gaungnya. Hanya wujudnya berubah. Dulu para tuan besar di perkebunan tembakau pelakunya. Kini agen tenaga kerja ke luar negeri ‘yang nakal’ aktornya.

Mereka, calon buruh itu, sama-sama diiming-imingi kekayaan dan kemakmuran apabila mau bekerja di tanah seberang. Sama korbannya, pencari kerja yang miskin, bodoh, dan minim ketrampilan. Maka berduyun-duyunlah orang kampung, pedalaman, di desa-desa tertinggal, mendaftar untuk mencari kerja di tanah seberang. Dan para calo bermulut manis itu, makelar pencari kerja, para sponsor PJTKI, menuai untung dari setiap kepala calon TKW yang dikirimkannya ke agen PJTKI. Antara Rp 500.000 – Rp 1.000.000 per orang. Lumayan!

Bahkan di pelosok tanah Batak dan Karo, para makelar berkeliaran untuk merekrut calon buruh pabrik di Malaysia. Tak perlu ijazah SMA, asal bisa baca tulis. Mereka lalu dilengkapi dengan ijazah palsu, dikenai bea ringan antara Rp 500.000- Rp 1.000.000 agar bisa bekerja di pabrik. Padahal, syarat resmi setidaknya harus membayar Rp 6.000.000 dan memiliki ijazah setingkat SMA. Bagaimana bisa di-mark-up semurah ini? Gampang saja, “Nanti kita potong kau punya gaji kalau kau sudah bekerja,” jelas seorang calo.

Dan memang, ketika dia sudah menjadi buruh, tatkala hari gaji tiba, pabrik membayar gajinya ke agen, lalu agen memotong gajinya sebagai cicilan hutang, sebelum akhirnya si buruh menerima gajinya. Ironisnya, semakin keras si buruh bekerja, semakin banyak lembur yang dia ambil dengan harapan gaji yang diterimanya lebih besar, namun semakin besar pula si agen memotong gajinya. Akhirnya, lebih banyak buruh yang terjungkal dalam prostitusi terselubung demi memenuhi kebutuhan hidup. Mirip perempuan-perempuan Jawa yang dikirimkan ke Deli untuk menjadi kuli kontrak dulu.

..anak-anak perempuan berusia 12 tahun di desa-desa di Jawa, sudah tidak perawan lagi. Sebelum datang ke Deli, mereka sudah menjadi pelacur di daerah asalnya,” kata JP Kooreman, mantan Residen di Sumatra Timur, membantah brosur Du Millionen uit Deli yang ditulis Van den Brand.

Bantahan ini dibuat pada 1902, untuk mencuci tangan dari gelimang dosa perbudakan di Deli, dosa mendatangkan perempuan-perempuan Jawa yang kemudian diumpankan kepada kuli-kuli kontrak asal Cina agar menetap di Deli.

Bantahan ini dimuat pada hal 240, novel ‘Berjuta-juta dari Deli’ karya Emil W Aulia. Novel yang ditulisnya berdasarkan brosur den Brand di atas, sebuah novel sejarah yang membuat saya sejenak menyimak apa yang terjadi di masa kini, perbudakan yang diperbaharui, perdagangan manusia yang menyisakan perih yang sama, pada sebagian TKI/TKW/PRT kita di luar negeri.

Saya mengajak Anda menyimak sejenak kesamaan perjalanan kuli kontrak di Deli dengan perjalanan TKI/TKW kita.

Kesatu, mereka direkrut dari kampung-kampung miskin, daerah minus. Sasarannya jelas, orang yang dihimpit kemiskinan, ketiadaan pekerjaan. Mereka lalu diiming-imingi tentang kemakmuran di negeri jauh, entah pohon berdaun uang atau real, ringgit, dolar.

Kedua, untuk menarik minat mereka, diberikan semacam persekot, uang saku, dan dimungkinkan dengan segala cara. Kuli Deli diberi persekot yang nantinya akan dipotong dari gaji mereka. Sama dengan para TKW yang diberi uang saku ketika berada di penampungan. TKW atau buruh dipermudah keberangkatannya ke luar negeri dengan berbagai cara, pemalsuan umur, status, ijazah, dan dokumen lainnya.

Bahkan pernah saya bersama seorang calon buruh yang tes kesehatannya ‘fail’ karena ditemukan bercak-bercak di paru-parunya. Dia kemudian dialihkan dari buruh pabrik elektronik ke pabrik konfeksi. Kerjanya, menyortir pakaian bekas yang akan dikirimkan ke negara dunia ketiga seperti Indonesia. Vietnam, Kamboja, Burma, dan lainnya. Si agen tenaga kerja tak berpikir beberapa bulan kemudian si TKI akan dikirim balik ke Indonesia, karena dia pun ‘fail’ ketika melakukan tes kesehatan di Malaysia.

Ketiga, mereka sudah tidak dimanusiakan sejak masa perekrutan. Dalam buku ‘Berjuta-juta dari Deli’ dikisahkan perlakuan kasar pada kuli kontrak begitu mereka dikumpulkan di Semarang, dinaikkan kereta api, bahkan sampai di kapal. Yang perempuan dan nampak muda, cantik, jadi sasaran empuk perkosaan. Yang lelaki jadi sasaran penjarahan oleh para kelasi. Yang melawan, dipukuli bahkan dibuang ke laut.

Sebelum berangkat ke Malaysia, saya dan beberapa teman menjalani serangkaian tes kesehatan di sebuah klinik kesehatan di dekat Pasar Jumat, Jakarta. Kami yang ratusan orang itu dikumpulkan jadi satu dalam sebuah ruangan. Lalu per-dua puluh orang kami dipanggil, menjalani tes darah dan kencing. Dua perawat mengambil darah 10 orang, sedang 10 CTKW dipaksa masuk dua kamar mandi yang harus terbuka pintunya, kencing beramai-ramai di situ.

Hanya ada satu ember dan satu gayung untuk membersihkan diri paska kencing, antri bagi 5 orang. Perawat akan ngamuk dan memaki kasar kalau pintu kami tutup. “Ayo kencing saja di situ, cepat! Jangan banyak aksi. Cuma TKW saja banyak lagak!

Seorang kawan, yang kebetulan berjilbab dan cukup alim, berlinang airmata begitu keluar dari kamar mandi. “Malu sekali aku diperlakukan mirip anjing begini,” keluhnya.

Namun itu belum berakhir. Keesokan harinya, kami berdua puluh dimasukkan dalam kamar periksa dokter. Dokternya memang perempuan. Kami lalu disuruh melepas semua pakaian, kecuali celana dalam, beramai-ramai. Lalu satu persatu meloncat ke ranjang yang disediakan untuk diperiksa. Ah, betapa memalukan. Ditelanjangi ramai-ramai. Nampak benar mana yang bertubuh bagus dan mana yang sudah kisut. Benar-benar memalukan.

Kondisi seperti ini tak pernah kami alami ketika berada di negara yang kami tuju, khususnya Malaysia. Di bandara, saya terpilih sebagai salah satu TKI yang diperiksa dokter setempat. Perlakuan dokter lelaki itu sangat manusiawi. Saya dipersilakan ke toilet untuk mengambil air kencing, lalu diambil darahnya.

Kelak, setiap tahun saya juga menjalani pemeriksaan kesehatan yang diadakan pabrik untuk memperbarui visa kerja dan kontrak. Dan, perlakuan mereka jauh lebih manusiawi ketimbang di negeri sendiri. Saya tidak tahu bagaimana kawan TKW di Arab menjalani pemeriksaan kesehatan di negara tujuan. Namun berikut pengakuan Nunung, mantan TKW yang sudah dua kali bekerja di  Arab Saudi. Nunung saya jumpai sedang menjaga warung makannya di Pantai Sarwana, Jawa Barat bagian selatan.

“Sesampai di bandara, kami diperiksa polisi perempuan Arab. Kami ditelanjangi, tak boleh menyembunyikan apapun. Handphone disita, dan akan dikembalikan ketika pulang ke Indonesia nanti. Barangsiapa yang ketahuan menyembunyikan HP, maka Hpnya akan disita dan tak akan dikembalikan saat pulang ke Indonesia nanti. Selain HP, kami dilarang memakai perhiasan.”

Mendengar kisahnya, saya jadi paham mengapa TKW di Arab yang dianiaya susah untuk mengadu. Tak ada HP, tak tahu arah, dan hidup nyaris tanpa pergaulan dengan dunia luar. (bersambung)