Tags

,

Postingan ini pernah saya muat 2 tahun lalu. Kembali saya tampilkan untuk menyegarkan ingatan, agar kita tidak selalu menggerutui kemerdekaan, tapi bersyukur karenanya. Jika Anda merasa belum merdeka, sebaiknya instropeksi. Mungkin ada yang salah dengan pemikiran dan pandangan Anda tentang kemerdekaan, atau selama ini Anda mengisi kemerdekaan dengan tindakan yang tidak merdeka. Entah itu mencuri hak orang lain, tak mau antri, lebih mementingkan diri sendiri, sehingga menimbulkan friksi dalam kehidupan. Friksi yang besar berupa kemiskinan, kesenjangan sosial, tindakan anarki. Yang lain, silakan pikirkan sendiri.

17 Agustus 2008, dimanakah aku?

Di sebuah pabrik yang bernama Flextronics sdn bhd, di Penang, Semenanjung Malaysia. Aku mendapat giliran kerja malam hari, dari pukul enam petang hingga delapan pagi.

15 Agustus 2008, kawanku Dayani membagi-bagikan kertas kecil replika bendera merah putih kepada semua pekerja Indonesia di modulku. Kertas itu kami tempelkan di jas kerja warna putih, pada dada sebelah kiri. Day juga membagikan replika merah putih berbentuk lingkaran yang kami tempel pada gantungan badge yang kami sampirkan di lengan jas.

16 Agustus 2008, pabrik milik Amerika Serikat itu menjadi lautan merah putih. semua pekerja asal Indonesia memenuhi dirinya dengan atribut merah putih. Jilbab berwarna merah atau putih, dipadu dengan celana panjang warna putih atau merah. kadang mereka mengenakan baju kurung warna merah. Rambut-rambut panjang dihiasi dengan pita warna merah putih. sepanjang hari pabrik yang berisi orang Melayu, India, Nepal dan Indonesia itu didominasi oleh pekik merdeka.

“Merdeka,” kata pekerja Nepal ketika bersimpangan dengan pekerja Indonesia.

“Merdeka ya,” kata supervisor kami, Tamil Selvan, yang berdarah India itu, ketika memulai meeting di depan anak buahnya yang mayoritas orang Indonesia.

“Boleh aku minta kertasnya satu Day?” tanya kawanku Zahid, anak Melayu, meminta replika merah putih itu kepada Dayani. Zahid lalu memasang replika merah putih itu di badgenya, berjalan bangga, memecah pandangan aneh pekerja Indonesia. Apakah Zahid telah berubah menjadi warga Indonesia??

Pekik Merdeka juga kami dengar tatkala berbaris mengakhiri pagi, 17 Agustus, di mesin scan out untuk pulang ke asrama. Bahkan sopir bus yang mengantar kami pulang ke asrama sempat mengucapkan selamat, “Merdeka ya..merdeka.” Kami memang tak bisa mengikuti acara peringatan kemerdekaan di konsulat Jendral Penang, atau menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi apakah kami bukan nasinalis? apakah kami bukan pemilik resmi bumi Indonesia juga? Sayup-sayup dalam hati kami lantunkan lagu “Indonesia Raya” disambung “Rayuan Pulau Kelapa”, sebelum mata terpejam karena lelah setelah 14 jam bekerja.

*tulisan ini kubuat ketika banyak orang mempertanyakan makna kemerdekaan di tanah air. percayalah, nasionalisme, identitas indonesia lebih tertumbu dan terasa kala kita jadi minoritas di luar negeri. merdeka!

Advertisements