Tags

Aiiih.. habis juga buku setebal lebih 1200 halaman ini kulalap. Episode kedua membaca Musashi usai sudah, 17 hari yang bikin mata sempoyongan. Episode pertama, kulakukan belasan tahun lalu, saat duduk di sekolah menengah. Temanku, alm. Agung Setiawan alias si Mbah meminjamiku buku ini, kalau nggak salah hingga jilid ke-5. Mungkin karena sudah begitu lama, ingatan yang tergurat di otakku tak kokoh lagi. Aku cuma ingat bagian Musashi yang melompat ke air terjun lelaki perempuan, atau sedikit tentang saat Musashi ngacir di Yanagimachi, tinggal di rumah pelacur Yoshino Dayu. Lainnya, mirip lupa hahaha.

saya yang moto

Membaca ulang mirip menyusun mozaik kembali, menemukan ingatan yang mengusam oleh waktu. Tak ingin kubahas isi buku ini secara detil, karena kuyakin nyaris tak ada orang yang belum baca kisah Musashi atau menonton film-nya. Musashi gitu lho! 😀

Membaca ulang membuatku terpingkal. Terpingkal dengan penggambaran Eiji Yoshikawa yang luar biasa kejamnya. Sebagai contoh, tokoh-tokoh di dalam novelnya digambarkannya sudah putus urat sakitnya semua. Si Baiken, ahli rantai bola yang jarinya terpotong kala duel dengan Jotaro, masih bisa lari dan mengejar Otsu tanpa rasa sakit. Atau musuh Musashi yang kocar-kacir, masih bisa lari dan melapor majikan walau terluka parah tanpa mengeluh. Andai di kehidupan nyata semua manusia begitu anti sakit, tentu dunia kita bukan dunia yang cengeng. Hahaha..

Lagi aku terpingkal karena walau anti sakit, tokoh-tokoh di buku ini begitu gampang menangis. Iori yang berumur 14 tahun sebentar-sebentar menangis jika ingat gurunya. Juga Jotaro yang menangis karena marah dengan orang lain. Atau Otsu yang selalu menangis teringat cintanya kepada Musashi. Bahkan Matahachi pun menangis jika teringat kepada ibunya. Semua orang begitu gampang menangis walau mereka samurai. Menangis sekaligus anti sakit. Suatu paradoks yang luar biasa absurdnya.

Ah, mungkin aku yang mengada-ada dengan ocehanku. Namun ada dua hal yang bisa kupelajari ulang paska membaca buku ini. Jangan melakukan sesuatu yang nantinya akan kau sesali. Dan, jalan pedang itu bukan untuk membunuh dan jadi jagoan, tapi menegakkan keadilan dan kemakmuran di bumi. Ahahaha… semoga memang begitu.

Advertisements