Tags

,

Ketika numpang di rumah teman di kota gudeg, tak sengaja saya temukan dan baca buku ini. ‘Tan Swie Hian Fables’ judulnya, bilingual bahasanya, berisi fabel-fabel Tan Swie Hian, yang ditulisnya berkat perenungan panjang akan hidup.

Fabel,menurut Tan Swie Hian, adalah ketika semua bisa bicara. Tak hanya binatang, manusia, tapi juga benda-benda. Apa yang kan mereka katakan, atau bisikkan, begitu kira-kira yang ada di benak Tan Swie Hian, sebelum enggoreskan fabelnya.

Tak hanya goreskan kata, Tan Swie Hian juga membuat beberapa lukisan dan patung dari fabel-fabel tersebut. Bahkan beberapa fabelnya telah digubah menjadi tarian dan musik.

bodhisatwa

Fabel bagi penyair, katanya, adalah syair akal budi, sehingga butuh samadi, mengumpulkan dan satukan segenap rasa, sebelum melahirkannya.

Berikut saya rangkumkan 10 dari 101 fabel yang ditulis-terjemahkan dalam bukunya itu.

1.Dharma Pelangi

Di rimba belantara, sang penjelajah berkata kepada cahaya putih yang agung. “Aku tidak bisa menatapmu.”

Cahaya itu segera menjelma delapan pelangi.

2.Kota

Sebatang pohon, dengan sedikit daun tersisa, terbungkus oleh debu.

3.Sendiri Bersama yang Lain

“Jika kamu tidak membantu ibu di rumah, angkat tanganmu!” perintah guru semut.

Semut hitam kecil mengangkat tangannya.

“Aku satu-satunya di kelas ini yang tidak membantu ibu di rumah!” kata semut kecil hitam itu kepada ibunya.

Si ibu lalu memegang tangan anaknya.

4.Pemujaan Gila

Di klenteng itu, seorang remaja lemah mental berjalan biku-biku antara kerumunan peziarah yang berdoa untuk rezeki, kemakmuran, dan umur panjang. Begitu ia menemukan satu patung dewa, ia lalu bersujud dengan sepenuh hati dan jiwa di depannya. Ia meninggalkan klenteng dengan tawa riang selesai memuja semuanya.

5.Berhentilah Memetik Bunga

A: “Kamu mampu melihat semua benda dan semua makhluk. Kenapa kamu tidak memanggil juru kunci untuk membuka cadangan emas dan dewa amerta untuk memperpanjang usiamu?”

B: “Mengapa kamu harus memetik bunga saat kamu melihat sekuntum bunga?”

6.Tanda Lahir

Di masa perang, sang ibu mencekik bayi perempuannya yang baru lahir. Usai perang, ia melahirkan bayi lelaki dengan titik merah di kedua sisi lehernya.

7.Lahirnya Wangi

Ketika lelaki buta memasuki kedai teh, gulungan lembayung muda di dedaunan teh, geranium tersembunyi di bawah tutup teko, kemenyan di tirai pintu, dupa di bawah meja, serta rosemary, limau, dan sari jeruk yang penyendiri, semuanya bergegas keluar dan mencakup satu sama lain menciptakan sebuah wangi segar, lahir kembali melalui tuangan air panas ke dalam cangkir yang buta.

8.Pikiran yang Pulang

Hujan lebat itu bergegas masuk ke dalam danau.

9.Bodhisatwa

Dalam diam, ia merasa sedih untuk mereka.

10.Dokar yang Ringan

Beban di atas punggung anak sapi itu tidak berkurang. Namun, sejak ia mencapai jalan yang halu, ia tersenyum lagi dan lagi sambil terus melaju.

Catatan.

Tan Swie Hian adalah seniman serba bisa. Dia otodidak, penyair, pelukis, pemahat, juga membuat seni instalasi seperti yang terdapat di museumnya. Lahir di Indonesia 1943, kini dia menetap di Singapura.

Buku ini diterbitkan Babadalas, Jogjakarta, setelah diterjemahkan oleh Teguh Hari, Wendratama, dan Elizabeth D. Inandiak.
 

Advertisements