Tags


Berbagi itu nikmat. Karena menuju ke keseimbangan. Tak pandang agama, ras, etnis, bahasa, dan seribu macam perbedaan. Dasarnya hanya cinta kasih dan ketulusan. Maka ketika Tzu Chi Surabaya berbagi sembako kepada sekitar 1500 pegawai dinas kebersihan pemkot, yang terulur pun wajah ceria. Acara yang dimulai pukul 4 petang dan rampung hampir dua jam kemudian ini berlangsung tertib, lancar, tanpa ada kericuhan, rebutan, atau insiden.

sembako yang hendak dibagikan

Ketika hendak datang ke acara ini, belum-belum seorang kawan sudah berkomentar miris. “Ah, paling nanti ribut. Ada yang luka, ada yang mati.” Hahaha.. yang begitu itu hanya terjadi jika tak ada persiapan dan disiplin. Kenyataannya,semua diantisipasi secara apik oleh panitia.

menunggu dalam duduk

Sembako yang tidak seberapa diwadahi baskom plastik warna hitam. Bukan kardus atau tas kresek. Kenapa? Karena baskomnya bisa dimanfaatkan, bukannya menyampah. Ide yang bagus. Sambil menunggu giliran, yang antri diberi makanan buat berbuka. Sebuah masjid tak jauh dari sana disiapkan buat beribadah.

tertib antri

“Ini bukan kami lakukan buat mengabar agama kami. Ini murni, semata atas landasan cinta kasih,” tutur panitia menepis pandangan miring.

Kenapa dipilih pegawai kebersihan? Selain terukur, jarang yang menghargai tugas mereka. Yah, mereka identik dengan sampah yang lebih 3 juta kubik di kota pahlawan ini. Bayangkan, betapa berat tugas mereka.

berat ya pak? hehehe..

Belakangan di Surabaya saya melihat pembauran begitu lebur, hilangkan etnisitas, hilangkan rasial, kurangi kesenjangan kaya-miskin, dengan media mirip berbagi. Tak ada yang salah dengan berbagi. Tak perlu tudingan miring dan menyengat. Selimuti diri dengan cinta kasih kepada sesama.

Salam cinta kasih,