Tags

, ,


Ini komik politis. Tidak cair seperti yang tentang Bosnia Timur itu. Belum-belum seorang kawan sudah mewanti-wanti. Politis, apalah itu. Kalau semua yang berkaitan dengan konflik politik dunia disebut politis, maka hampir semua karya Joe Sacco adalah politis. Kalau komik atau buku yang ditulis dengan maksud tertentu disebut politis, maka saya kira, semua buku atau komik adalah politis. Bahkan yang masuk jenis ecek-ecek sekalipun.

Yang bisa saya tangkap paska membaca buku ini, jauh sebelum Sacco menceburkan diri secara langsung dalam wilayah pendudukan Israel di Palestina, dia menyadari satu hal: berita tentang Palestina mirip sepiring nasi yang disajikan dalam makanan kita sehari-hari. Begitu sering. Menjadi  biasa. Membuat yang membaca atau mendengar jadi mirip tak peduli. Mati hati.

cover buku terbitan Dar! Mizan

Kita bisa mengira-ngira apa isi berita itu. Bentrokan senjata antara tentara Israel dan gerilyawan Hammas, penembakan tentara Israel kepada bocah pelempar batu, protes warga Palestina yang terusir, dan lainnya. Selalu begitu, dari waktu ke waktu, selama lebih 3 dasawarsa. Tak ada perkembangan.

Paska peledakan menara kembar WTC di Amerika Serikat, muncul gambaran umum di dunia barat. Bahwa gerilyawan Palestina itu mirip teroris. Sementara zionisme Israel yang cerdas nyaris tak tersentuh. Bermodal itu semua, Sacco datang ke Palestina. Dengan pandangan skeptis, dia mulai menggali. Mewawancarai orang pendudukan, korban kekerasan tentara Israel. Awalnya ditemani Saburo, fotografer asal Jepang yang kagok berbahasa Inggris. Lalu diguidi Sameh, pekerja sosial asli Palestina yang hidup dari uang tabungan.

Joe Sacco sadar dia memburu berita yang sama. Berita yang mungkin tak membawa perubahan nasib bagi rakyat Palestina atau perbaikan pada konflik antara Israel- Palestina. Ini juga yang ditanyakan perempuan tua Palestina kepada Joe Sacco.

Selama 50 tahun orang menulis tentang kami. Sejak intifadah, jurnalis seluruh dunia datang. Palestina penuh jurnalis. Awalnya, kami menyambut mereka. Kami tunjukkan segalanya. Tapi, apa manfaatnya bagi Palestina? Apa yang berubah?

Dan Sacco tak mampu menjawabnya. Dan perempuan itu mengganjarnya dengan secangkir teh manis, tanda keramahan orang Palestina.

Kata ‘damai’ dan penyelesaian konflik yang memuaskan kedua pihak –Israel dan Palestina- nampaknya hal yang utopis.

salah satu kamp pengungsi, Ramallah

Zionisme Israel berangkat dari kepercayaan Yahudi untuk mengambil tanah yang dijanjikan. Inggris menjanjikan tanah, negeri itu, kepada Yahudi Inggris pada 1917. Maka ditetapkan negeri Israel pada 1948. Sejak itu dimulailah propaganda untuk mendatangkan orang Yahudi dari penjuru dunia, tuk diam, tinggal, dan bekerja di Israel. Pada saat yang sama mereka mengusir orang Arab yang telah berabad-abad tinggal di sana dengan segala cara, termasuk tindakan licik dan keras. Semua tindakan yang dilegalkan negara barat, Inggris dan Amerika, misalnya.

Pers, juga dunia, selaksa menghadapi tembok yang tak bisa ditembus, tembok ciptaan ‘Tuhan’ Israel. Bahkan Amerika yang kemudian memprotes kekerasan ini pun dibuat mirip kucing tak berdaya. Maka yang bisa orang lakukan, entah itu NGO, badan bentukan PBB, maupun pengacara lokal, adalah sekedar agar rakyat Palestina bisa bernafas, memperpanjang hidup.

Skeptisisme ini rupanya disadari benar oleh Joe Sacco dalam lawatannya selama dua bulan ke wilayah pendudukan Israel di Palestina pada musim dingin 1991-1992. Skeptisisme yang dituangkan kental dalam gambar-gambar yang dihasilkannya dalam buku ini. Gambar keras, kasar, satir, dan tanpa mercy.

Ada beberapa hal yang bisa saya tangkap lewat gambaran Sacco, yang mungkin tak saya dapat pada media lain. Misal, kisah tentang Penjara Amsar III. Di penjara yang nampak menakutkan ini ternyata ada manajemen rapi bagi para tahanan Palestina. Bahkan, di sini pernah ada tahanan profesor dari Universitas Bezeit, yang kemudian meneruskan acara mengajar kepada murid-muridnya yang kebetulan di sel yang sama. Penjara jadi alat untuk kaderisasi dan mendidik orang muda Palestina.

Kisah lain tentang siksaan berat yang dialami seorang perempuan tangguh. Mulai dipaksa berdiri dalam peti mati tertutup selama beberapa hari, lalu diikat dan didudukkan tegak dalam ruang penuh kotoran manusia, dan berbagai intimidasi lainnya. Si perempuan bertahan meski baru mengalami biopsi liver. Akhirnya agen penjara Shin Bet pun membebaskannya.

Satu fakta yang menarik, adalah rakyat Palestina menganggap Saddam Hussein itu pahlawan, karena berani memisil Israel. Alasannya? “Ketika orang akan tenggelam, apapun diraih agar bisa mengapung, termasuk serpihan kayu.”

Meskipun banyak warga Israel menyadari kebijakan negaranya yang salah, namun mereka pun menutup mata. Karena menganggap, tanah Israel sudah menjadi hak mereka. Mereka mengaku ingin juga damai. Tapi damai yang bagaimana? Seorang warga Israel mengakui ‘yang penting, adakah dua bangsa bisa hidup berdampingan dan sederajat’?

Adakah? Paska begitu banyaknya kekerasan dan darah yang tumpah? Mampukah menemukan muara pada mereka yang terusir dengan yang merasa berhak akan tanah Tuhan? Adakah perubahan yang dibuat Sacco paska komiknya ‘Palestina’ terbit selain ganjaran American Book Award pada 1996 ? Entahlah, pembaca yang bisa menjawab, pembaca yang tergerus hatinya. Saya rasa selain simpati, tak ada upaya ‘menjadi’. Selamat membaca!