Di pekuburan, aku melihat sebuah kehidupan. Kehidupan yang digerakkan oleh mereka yang mati. Ini raya terbesar di negeriku, ied mubarak. Ribuan bahkan mungkin jutaan orang akan membanjiri makam keluarga, semacam ziarah. Tanah baka pun akan ramai dalam beberapa hari.

Di hari ini, tanah baka kotaku kelimpahan orang. Tak hanya keluarga si mati, namun juga yang mengeduk hidup dari yang mati. Pengemis berderet penuhi sisi jalan ke arah kubur. Ibarat sebuah benteng, mereka menjulur-julurkan tangan. Menengadah. Mengangsur mangkuk berkah. Lelaki. Perempuan. Tua. Muda. Berbaju lusuh. Ada juga yang seperti baru. Sehat. Berkursi roda. Kepala tercukur rapi. Pelontos. Juga berkutu.

penjual bunga tabur

Penjaja kembang pun menaikkan harga sesuka hati. Dua tangkup kembang kubur dihargai lima ribu sahaja! Air yang diambil dari dua ember buat membasahi makam seharga lima ribu juga! Tak ada yang menolak. Tak bisa. Itu harga lebaran. Tarif istimewa.

Ada kotak amal jariyah teronggok di jalan masuk. Buat mushola katanya. Entah mushola dimana, bernama apa, ramai tak yang sembahyang di sana. Entahlah. Bukan urusanku. Tak jauh dari situ dua perempuan sedap melahap nasi dalam mangkok dan piring. Semayur dan kemulup. Dipadu mujair goreng. Amboi.. jadi ikut lapar.

mengharap belas rejeki

Lalu merangsek ke pekuburan, di antara kijing-kijing penanda dan orang berdoa, berdiri tak jauh di sana, segerombolan orang liar. Mata menjalang, siap menyergap para pendoa yang usai. Memohon sedekah, uang rokok, ongkos membersihkan rumput, atau sekedar menyiram tanah. Tak cukup seribu dua ribu, bisa sepuluh dua puluh ribu untuk satu gerombolan. Mereka biasa disebut, korak Ngagel!

Lepas dari kejaran korak, pendoa masih menghadapi serbuan anak-anak yang lagi-lagi, julurkan tangan, memohon belas kasih, ketika tinggalkan tanah kubur. Wajah memelas, suara setengah memaksa, mirip peringatan bagi negeri ini, dimana peminta bisa hidup dari yang mati, ketika negara tak penuhi pasal ‘anak miskin dan orang terlantar dipelihara oleh negara’. Kalau negara jelas-jelas tak bisa mengayomi mereka, biarlah tugas itu diambil alih yang mati. Makhluk baka, rupanya lebih digdaya. Haha..!

Advertisements