Tags


Hari pertama adalah teman,

Hari berikutnya jadi saudara.

                – pepatah  Afghanistan

Sebuah ungkapan yang pas untuk mengungkapkan betapa ramahnya orang Afghan. Seperti kata Nancy Dupree, “Orang Afghan adalah manusia yang paling ramah di dunia.” Kata yang muncul setelah kekagumannya melihat seorang kakek yang kepayahan masih mendoakan kesehatan untuknya.

Namun masihkan orang Afghan ramah paska perang mencabik-cabik negeri itu? Tanyalah pada Agustinus Wibowo, yang memulai petualangannya ke Afghan tahun 2003, lalu mengulanginya tiga tahun kemudian, sebelum menghasilkan bukunya yang pertama, “Selimut Debu”.

Buku yang menghipnotis sejak halaman awal hingga akhir ini, berkisah tentang petualangan Agustinus ke wilayah-wilayah Afghan. Mulai dari lembah Bamiyan, Wakhan, Ghor, Herat, Mazar-e-Sharif, dan masih banyak lagi. Tentu bukan perjalanan ala turis biasa yang nyaman, enak, tinggal di hotel, jalan senang ke sana sini menikmati pemandangan dan budaya sekitar. Bukan. Tapi perjalanan yang menuntut gut, keberanian, jiwa petualangan, serta ketabahan. Lebih mirip a blind traveler, karena ketika perjalanan dimulai, tak tahu kita apa yang bakal terjadi di depan. Hanya hati dipenuhi tekad dan niat untuk belajar pada setiap perjalanan.

Dalam petualangannya, Agustinus melebur langsung dengan penduduk sekitar, tinggal di rumah orang-orang yang baru dikenalnya, hidup ala hippies. Kadang dia tidur di shamovar –kedai teh yang membiarkan pengunjungnya tidur gratis- dan bergaul langsung dengan mereka. Hubungan terbuka yang dilakukannya tentu mengandung konsekuensi, jika kebetulan yang dikenalnya baik, ada keramahan dan nilai-nilai hidup yang didapatnya. Namun jika sebaliknya, uang dalam dompetnya pun melayang, beberapa kali menjadi obyek pelecehan seksual kaum bachabazi alias playboy alias orang yang suka bermain dengan bocah lelaki.

Ada beberapa poin dalam buku setebal 461 halaman ini yang saya anggap menarik. Pertama tentang topeng lembaga internasional yang membanjiri Afghan paska konflik berkepanjangan di negeri itu. Dana bantuan miliaran dolar yang dikucurkan badan dunia ternyata lebih banyak jatuh ke tangan para ekspatriat buat gaji, fasilitas, dan bea keamanan mereka ketimbang dinikmati langsung oleh rakyat Afghan. Tak heran, masih banyak anak jalanan dan pengemis di jalanan Kabul dan kota besar, perempuan Afghan masih bersembunyi, listrik dan kesehatan menjadi kemewahan. Ternyata ada segelintir orang asing dan NGO yang menikmati kemewahan dengan menjual proposal penderitaan orang Afghan. Sungguh ironis!

Poin kedua tentang burqa alias purdah, hijab, atau chadar. Bagi sebagian perempuan Afghan, burqa mirip zona aman, tempat mereka meniadakan identitas di wilayah umum. Zona yang melindungi keberadaan dan keselamatan mereka. Burqa menjadi hal yang diwajibkan pada perempuan semasa pemerintahan rejim Taliban. Pemakai burqa terutama Orang Pashtun. Dalam budaya mereka, perempuan wajib dilindungi, dicukupi kebutuhannya. Membicarakan keluarganya yang perempuan di depan orang asing, memamekan wajah ibu dan istrinya, haram hukumnya.

Sementara bagi orang-orang Hazara di Bamiyan misalnya, Burqa tidaklah wajib. “Itu bukan budaya kami. Kami membiarkan perempuan kami bekerja di luar, memamerkan wajah dan kekuatannya kepada umum.” Jadi kenapa ada wajib burqa? Sungguh menarik mengutip kata-kata jurnalis teman Agustinus di sini, “Awalnya burqa adalah sebuah kultur. Setelah agama datang, kultur bercampur dengan agama. Agama kemudian menjadi justifikasi kultur.”

Lewat burqa, kita diajak Agustinus menjelajah etnisitas di Afghanistan. Apa itu aliran Syiah, Sunni, atau Ismaili. Siapa itu Hazara, Pashtun, Tajik, atau Uzbek. Mengapa orang Pashtun lebih suka mengungsi ke Peshawar, Pakistan, sementara orang Hazara ke Iran? Dan di atas perbedaan bangsa-bangsa pembentuk Afghanistan sekarang, menarik mengulang ucapan seorang Shah aliran Ismaili, “Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanuiaan.

Melewatkan bagian ini saya seolah diajak mengulang kembali novel Khalid Hossaini, Kit Runner, tentang persaingan Orang Pashtun dan Hazara di masa pra dan paska Taliban. Kedua pengarang mengisahkan hal yang sama, meski tak saling kenal. Itu memang kebenaran di Afghanistan.

Poin ketiga tentang budaya bachabazi, yaitu kegemaran lelaki Afghan akan bocah lelaki. Di sini kita biasa mengucapkan playboy di sini kepada lelaki yang suka main perempuan, gonta-ganti pacar perempuan. Di Afghan kata ini ditujukan kepada lelaki yang suka main bocah. Tak selalu berakhir dengan cinta atau hubungan homoseksual. Tapi kadang hanya berupa lelaki kaya yang suka mengumpulkan bocah lelaki yang dihias ala perempuan. Mereka disuruh menari. Kadang memang berakhir dengan hubungan seksual, dengan si bocah sebagai obyek.

Agustinus menggambarkan bachabazi begitu menawan, mungkin karena pengalaman traumatisnya yang sempat nyaris jadi korban. Kultur ini bisa jadi muncul karena perempuan di negeri debu itu sangat mahal. Hanya orang mampu saja yang bisa membayar mahar seorang perempuan untuk dijadikan istri. Soal ini membuat saya teringat novel grafis ‘Photographer’ karya Didier. Dalam salah satu adegan, Juliette –pimpinan misi Medicine Sans Frontiere– yang sedang menyisir rambutnya diintip oleh salah seorang tukang kuda. Mengapa? Tukang kuda itu miskin, tak mampu memiliki istri. Juliette menjadi obyek menariknya soal perempuan.

Ah, banyak lagi hal menarik yang dikisahkan Agustinus dalam bukunya ini. Mulai hancurnya patung-patung budha raksasa di Bamiyan, hingga Minaret Jam yang tersembunyi di buit-bukit cadas. Foto-foto yang diambilnya pun luar biasa, mampu menggambarkan bumi Afghan itu seperti apa. Meski ini pendapat pribadi, jujur saya katakan bukunya ‘Selimut Debu’ jauh lebih bagus ketimbang ‘Garis Batas’. Ini bukan buku traveling, tapi sastra perjalanan, sebuah eksplorasi akan tempat, budaya, dan kehidupan yang dikunjunginya. Bukan sekedar laporan pandangan mata yang narsis seperti banyak buku traveling yang akhir-akhir ini membanjiri pasaran. Bravo!