Tags

,


Pada sebuah desa bernama Kendung, ke sanalah kumenuju suatu pagi. Membelah keramaian kota, meluncur melejit di antara pusaran arus kendara. Perjalanan kami niatkan tuk mencari Kampung Semanggi, sebuah kampung dimana semua penjual makanan khas Surabaya itu berawal. Yang kutemui lebih banyak keluardugaan. Bagaimana kisahnya? Kuurai saja lewat percakapan di antara kami (aku dan teman), dan mereka.

dua jangkrik dan satu kotaknya plus bayam, lima ribu sahaja!

Ke arah mana kita? tanya kawanku.

Cari aja Jalan Moroseneng Raya. Nanti kita tanya orang sekitar. Jawabku.

Ooo.. nanti pertigaan, dekat pos polisi, sampeyan belok kiri. Itu jalan Kendung Raya. Jelas seorang penduduk tempat kami bertanya.

Dan.. memang paska belok ke kiri mirip masuk ke sebuah kampung. Namun tak nampak jejak sebuah desa di sana.

Benar ini Desa Kendung? Sememi? Itu tuh.. yang terkenal dengan Kampung Semanggi?

Mana ya kebon-kebon yang dipenuhi semanggi? Kok rumah melulu. Modern pula. Nggak kayak desa. Kawanku mulai tak sabar.

hamparan semanggi di halaman rumah

Memang sih ada pekarangan kosong di beberapa tempat, tapi…

Coba lurus saja, kita lihat tembusnya dimana, Cik. Usulku.

Lho Bu.. ini kan daerah Citraland, kakak saya tinggal di sini. Heran kawanku bersuara.

Oya, mari kita parkir di dekat pasar, sambil tanya-tanya.

Maka kami pun bersua penjual jangkrik. Ahahaha… di jaman robot begini, jangkrik pun laku dijual. Buat apa?

Buat menakut-nakuti tikus, Mbak. Ini saya jual dengan kotaknya, dua jangkrik sembilan ribu saja. Sekalian saya kasih makanannya, bayam. Dengan sabar, si bapak penjual menjelaskan.

tungku batu

Aduduhai.. sejak kapan jangkrik menjelma jadi popeye? Hahaha… tak urung kupotret juga si bapak dan bocah pembeli. Tapi membeli jangrik? Bagaimana ya? Kugaruk kepala yang berketombe. Kuingat bertahun lalu, si bungsu suka sekali menyembunyikan jangkrik di kamarnya. Masih SMP dia waktu itu, kasurnya yang tergerai di lantai, dipenuhi dengan jangkrik di sana sini. Katanya, dia tak bisa tidur kalau tak mendengar bunyi berkerik. Dan dia susah pejamkan mata, sebelum lampu warna-warni yang jumlahnya belasan ala pasar malam itu dinyalakan, berkelap-kelip.

Maaf Pak, dimana kami bisa temukan kebun semanggi? Putus asa mulai menjalari diriku saat bertanya kepada tukang tambal ban di pinggir jalan.

Nah.. nanti kalau ketemu rumah sakit, belok kiri saja. Itu kan kebun. Ada jalan kecil ke arah situ.

Lho.. ini sih jalan menuju kuburan. Tapi nggak papa deh, siapa tahu nemu semanggi. Adududuh.. banyak banget pohon mangga. Sepanjang jalan. Buahnya grandulan mpe nyaris sentuh tanah. Sayang nggak ada yang matang. Tapi aneh, kok nggak ada tangan usil sekitar sini ya.

berladang di tanah gosong

Bu.. bu.. tahu kebun semanggi nggak? Apa? Gang empat masuk ya? Ada orang tanam semanggi di halaman rumahnya? Oke, makasih bu. Lho, ibu lagi manen apa ya? Apa? Kacang hijau? Yang bener? Iya ya.. ini kan kacang hijau.

Perempuan tani yang sedang memanen kacang hijau di ladangnya yang setengah gersang melepas kami dengan senyum. Tanah seputar itu lebih mirip kebun gosong. Memang ada jagung, kacang hijau, mangga, dan pisang di sana-sini. Namun ada juga yang melompong gosong, hanya ditumbuhi rumput kering dan bunga liar.

Kami bergegas berbalik arah, nuju gang empat, perumahan ala kota yang tak biasa. Tak biasa? Bagaimana bisa disebut biasa juga di hampir tiap halaman rumahnya dihuni semanggi kecil, berpadu dengan ubi rambat, pisang. Menghampar serasi. Hijau melambai mata.

Lalu ada satu dua tungku terbiar di luar. Beberapa diantaranya masih panas bubuk abu kayunya. Iya.. ada tungku kayu mirip punya mbahku yang telah mengabu puluhan tahun lalu. Tak jauh dari situ onggokan kayu bakar setinggi lebih satu meter.

Saya masih menanak nasi pake tungku. Aku seorang ibu.

Oya? Setengah tak percaya kuminta bubuk hangat bekas kayu berwarna abu. Buat obat, keloid yang menjalar mengerikan di perut dalam. Ibu itu menghantarku masuk ke ruang dapurnya. Sebuah tungku batu berpadu tabung elpiji. Olala..

Sejak saat itu kuamat dalam kampung itu. Semuanya. Setiap detilnya. Bukan kampung biasa. Wajah desa masih bersisah dimana-mana. Termasuk di ramah wajah penghuninya. Senyum penuh. Pipi ranum. Gerak gesit. Dan.. hangat hati. Aku tertawa. Kami tersenyum.

Simpul-simpul kenangan menggurat erat. Kala abdikan bunga kangkung, kupu coklat, rumput, tegal gosong, daun semanggi, dan tungku batu di samping bunga sepatu warna kuning.

Pada sebuah desa di sudut kota. Kuakhiri perjalananku. Tepat terik mentari menyengat kepala.