bulan di atas kapal

kupandang laut lepas dari jendela kabin

menunggu yang tak bakal kembali

‘Selat Bali, nuju Jumat dini hari’

Malam dalam feri tuju Gilimanuk. Kuterpukau alunan sendu dari layar kaca di sudut bar. Sebuah lagu, syahdu menghanyut. Terurai halus dalam bahasa osing. Kisahkan cinta yang gagal. Seorang lelaki hanya bisa memandang gadis pujaannya dari jauh. Tumpahkan segala rasa. Kerna si gadis sudah berpunya.

ingsun mandengin sira… sira hangduweni

bar dan penumpang yang ngantuk

Duduk di bar. Dengan segelas teh panas seharga enam ribu. Kubeli suasana. Kubiarkan lepas segala beban pemberat hati. Kupandang kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Naik-turun. Terbawa ombak goyangkan kapal. Cahaya berayun. Tembang pun berayun. Hatiku turut berayun.

Puluhan kali kusebrangi Selat Bali. Berulang sensasi menerpaku. Kadang kuberdiri bebas di buritan, biarkan angin malam sibakkan anak rambut. Pernah juga kuhadang Gunung Raung dari kejauhan dengan gagah. Atau ekor berharap lumba-lumba kan menampar mukaku. Ini malam dendang patah hati menemaniku. Bersama asa-asa yang memudar. Aku mencari sisa kekuatan. Tuk bangun hidup kembali. Tuk bergerak menuju berarti. Tuk tahu ada yang dituju pada setiap penciptaan. Kehadiran. Pasti terkandung makna daripadanya.

lagu osing yang sendu itu

Orang-orang rebahkan badan di sandaran kursi. Sebagian dengan wajah memucat kelelahan. Sementara seorang kawan seperjalanan asyik jeprat-jepret permainkan kodaknya. Segelintir anak ceria bermain dan berlari ke sana sini. Tak tergurat kantuk tak terekam lelah. Malam rupanya masih saat bermain bagi mereka. Khusus malam ini.

Ingatanku melayang kepada kapal yang lain dalam penyebrangan menuju Tomok. Gondang Batak bertalu-talu, sebuah lagu mengetuk-ngetuk. Seorang lelaki memkul-mukulkan tangannya ke pintu kayu. Ikuti irama. Dendang cinta juga. Tentang kerinduan kepada kekasih di kampung halaman. Di Toba.

——-

Dalam kepulangan tuju Ketapang, aku mirip sial. Feri yang kutumpangi lebih besar dan nyaris melompong. Tak ada bar cantik atau musik tradisi ciamik. Cuma video yang memutar film ingusan. Jadi kupandang laut dari jendela kabin. Bertiup  angin kencang dingin. Sayup-sayup mengabarkan, “Kau menunggu yang tak bakal kembali.’

Ah.. lagu lama teralun sudah. Ingsun mandengin sira.. sira hangduweni

Note. sampai di rumah kudisambut sebuah catatan tak sengaja dari email tak berguna. “ya, kirim saja naskahmu ke ms yusi.” Ah.. soal naskah tahi saya bukan urusan Anda! Lagian sudah lama saya lupa mencipta naskah. Mungkin naskah itu ikut terkubur bersama mati saya nanti.

Advertisements