Tags

,


Tulisan ini dibuat jelang bedah buku ‘Serah Jajah’ di C2O library, Jalan  Dr. Cipto 20 Surabaya, pada 22 September, pukul 18.00

Sekitar dua tahun lalu seorang kawan memamerkan tulisannya. Sebuah thesis S-2. Kawan saya ini tidak pintar sangat, tapi tekun dan pandai memanfaatkan peluang. Saat bekerja di Warsi, tak disia-siakannya kesempatan untuk memahami kehidupan Orang Kubu. Obyek yang kemudian menjadi bahan masternya. Bahan yang kemudian menjadi inti buku  ‘Serah Jajah’ ini. Buku yang melukiskan dominasi Orang Melayu terhadap Orang Kubu di Jambi dan bagaimana Orang Kubu melawan dominasi itu.

Ada beberapa hal yang menarik dari bukunya. Diantaranya penggunaan terminologi Orang Rimba atau Anak Dalam  untuk mengganti Kubu demi kehalusan. Menurut penulis, kata kubu berkonotasi negatif, yang berarti bodoh, bengak, keras kepala, dan tak mau mengikuti aturan. Padahal, di masa lalu kata kubu merujuk kepada mereka yang tinggal di hutan. Mengubu berarti berdiam di hutan selama masa tertentu.

Mengutip Loeb, 1927, “..Kubu berarti orang-orang yang makan segalanya termasuk makanan yang tidak bersih, dimana mereka tidak hidup di dalam rumah, dan tubuh mereka tidak bersih sebagai akibat penolakan mereka terhadap air. Orang-orang yang mempunyai karakter yang rendah…”

cover buku 'Orang Kubu'

Siapa Orang Rimba itu? Dalam salah satu teorinya, penulis menyebutkan mereka sebagai keturunan Melayu juga, yang karena suatu hal (melawan Belanda) lalu melarikan diri dan tinggal di hutan. Ini menarik, dan sesuai dengan teori antropologi sebelumnya bahwa Orang Rimba berasal dari Ras Proto-Melayu, bukan Veddoid.

Inti buku ini membahas bagaimana Orang Rimba melakukan perlawanan terhadap dominasi dan diskrimanasi dari suku mayoritas Orang Melayu Jambi. Perlawanan ini antara lain dengan memilih hidup mirip Orang Melayu. Mereka menetap di sebuah kampung, memeluk agama Islam, bahkan mengganti nama mereka sesuai nama Melayu. Mereka pun lebih suka disebut sebagai Suku Anak Dalam atau dikenal juga sebagai kubu jinak. Namun ada juga yang memilih mempertahankan identitas aslinya sebagai Orang Rimba yang hidup di hutan dan mempertahankan nilai-nilai yang dianut nenek moyangnya.

Tentu saja konsekuensi pilihan ini menimbulkan masalah baru yang berkait erat dengan perubahan pola hidup, kebiasaan, ekonomi, dan lingkungan yang mereka hadapi. Apalagi, walau sudah meniru cara Melayu, bagi Orang Melayu mayoritas, Orang Rimba tetaplah Orang Rimba. Tak ada yang membuat mereka diterima sejajar, sederajad dengan Orang Melayu. Diskriminasi perlakuan ini masih mereka terima. Mungkin juga sampai sekarang (karena data dalam buku ini diambil penulis saat bekerja sekitar tahun 1997-2000).

anak rimba/foto. dok. Adi Prasetijo

Penulis mengisahkan pengalamannya ketika bersama pemandunya yang Orang Rimba bertamu di rumah Orang Melayu. Penulis bebas masuk ke dalam rumah, makan dan minum dengan piring dan gelas yang layak. Sementara si pemandu yang Orang Rimba tetap di luar rumah, duduk di lantai kayu, makan dan minum dari piring dan gelas plastik yang khusus disediakan tuan rumah untuk Orang Rimba. Keesokan harinya, tatkala si penulis hendak menggunakan gelas dan piring bekas Orang Rimba itu, penulis dilarang oleh tuan rumah.

Kisah lain tentang seorang perempuan Rimba bersama ketiga anaknya yang meminta nasi kepada warga kampung. Si Orang Melayu lalu menyuguhkan nasi di atas daun pisang, dan diletakkannya di atas tanah di halaman rumah. Keempat Orang Rimba lalu melahapnya begitu saja.

Membaca pembedaan perlakuan ini, tentu membuat miris hati. Pembedaan yang diperkuat sikap dan kebijakan pemerintah yang memandang Orang Rimba atau Kubu itu suku terasing yang harus dibina dan dijinakkan dalam kawasan pemukiman tertentu.

Kebijakan pemerintah ini kelak justru mendorong kuatnya dominasi Orang Melayu. Orang Rimba jadi makin terpinggirkan. Sementara di pihak lain, alam dan lingkungan hidup asli Orang Rimba, dalam hal ini hutan di kawasan taman nasional makin dijarah dan dihabiskan.

Buku ini menarik tak hanya karena menjelaskan siapa Orang Kubu alias Rimba, bagaimana mereka hidup dan bereaksi terhadap perubahan di sekitarnya, tapi juga konflik perebutan alam (hutan) yang dulunya dihuni Orang Rimba di antara banyak kepentingan. Kita diajak memahami konflik tentang kebun karet, sawit, atau nasib pohon rotan dan damar. Kita diajak merenungkan tradisi melangun yang sebetulnya berisi kearifan lokal, tentang penyuburan tanah paska digarap, hingga akhirnya berubah menjadi ajang perlindungan kawasan hutan Orang Kubu. Kita pun diajak  berpikir bahwa Orang Kubu bukanlah benar-benar bodoh, tapi bisa pura-pura bodoh untuk mempertahankan kepentingannya.

Apapun itu, buku ini layak dibaca. Sayang, dari sisi bahasa buku ini terlalu akademis. Coba dikemas dengan bahasa pop dan banyak foto atau gambar ilustrasi, tentu akan menarik pembaca awam. Bagi saya pribadi, buku ini jadi inspirasi membuat komik serial anak nusantara, khususnya yang berkisah tentang Anak Rimba.