banda..

aku datang padamu, melepas rindu

peluk aku, jangan lepas lagi

sesatku akanmu derita tiada terperi

                               (pada sebuah dermaga, myra hary)

pada sebuah dermaga

Saya sedang menuju timur, menebus hutang lama, menunaikan sisa umur. Entah untuk berapa lama. Mungkin sejenak saja, mungkin beberapa minggu, mungkin juga tak pernah kembali. Saya tak tahu pasti. Hidup mengajarkan saya tak ada yang pasti di depan sana. tak ada. Maka saya tak berani bermimpi. Saya hanya punya ingin, lalu saya tunaikan ingin sebagai hidup yang mesti saya jalani.

Konon kabarnya di timur tak ada sinyal hp. Hanya satu tempat yang terhubung wartel telkom. Tak ada internet. Listrik hanya 4 jam dalam sehari. Itupun kalau si empunya generator berkehendak. Konon teve pun susah menancap. Kapal laut ada beberapa pekan sekali. Nyaris tak terjangkau teknologi dan sarana transportasi.

Namun di sana pernah terbangun pusat peradaban. Sebuah kebudayaan yang dikembangkan para imperialis. Kebudayaan rempah-rempah. Saya hendak kumpulkan kembali remah kebudayaan itu, bukan sejarahnya. (soal sejarah sih banyak yang menulis, meneliti. Tapi budaya, peradaban rempah-rempah, sungguh sulit ditemukan bukunya).

Ada yang bilang saya tak realistis. Umumnya orang suka menggali masa lalu karena keterkaitan tempat lahir, keluarga, sejarah, jalinan cinta. Orang Sumatra menulis tentang Sumatra, orang Banda menulis tentang Banda. Lalu saya jawab, jangan lupa kalau Zacot yang Prancis itu menulis tentang Orang Bajo, atau Pelras saudaranya menyelami Manusia Bugis.

Tapi kamu kan bukan antrpolog, sementara mereka itu antropolog, tingkat dunia malah! Balas teman saya. Ahih, benar juga. Saya bukan siapa-siapa, bukan pula apa-apa, dari segi ilmu maupun bekal materi. Dan tak memiliki ikatan apapun dengan yang saya minati. Saya hanya jelata yang merasakan betul kehausan, dahaga dalam akan pengetahuan. Bukan semata menjalankan sabda nabi, “tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina.”

Jadi saya akan ke timur. Mempelajari yang menarik hati saya. Entah nanti bakal jadi apa. Sementara saya pergi, blog ini akan berkisah tentang memoar-memoar masa lalu. Tentang Sulawesi, tentang kawan lama (ya, kawan ibarat embun, menguap segera begitu muncul surya). Terjadwal sudah. Andai saya tak kembali pun, blog tak akan sunyi sekali. Percayalah, andai mati di jalan, saya tak mati iseng sendiri. Saya mati bahagia, tatkala memuaskan diri akan kehausan pengetahuan dunia.

Salam 🙂

Advertisements