Tags

,


Ini kisah sebuah kampung di tengah kawasan taman nasional. Sebuah enclave, tempat mereka yang dianggap perambah liar dan perusak hutan dikandangkan. Mereka diberi tanah untuk digarap, sebuah rumah untuk dihuni, dan tunjangan beras setiap bulan untuk dimakan. Mirip program transmigrasi lokal.

Horodopi nama kampung itu. Berada di kawasan TN Rawa Aopa, 15 km dari Desa Aopa. Siang terik terdampar kami disanakarena sebuah kebetulan. Pagi itu kami berencana menuju Lanowulu, namun tertinggal Bus Damri. Terpaksa aku, Okto, Ronald, dan Abdi akhirnya harus berjalan sejauh 5 km lebih, sebelum mendapat tumpangan pick up yang turun di pertigaan ke arah horodopi.

Panas yang menyengat, jalan beraspal yang menyilaukan mata, dan keringat yang menguap dari sekujur tubuh, menjadikan Horodopi pilihan yang menarik. Menembus jalan setapak, menyusuri tahi anoa dan kerbau liar, masuklah aku dari satu kampong ke kampong sebelum mencapai enclave itu.

Dalam gontai kunikmati pemandangan tanah kosong dan tegalan kering. Kadang  menyeruak kebun coklat, merica, dan tanaman lokal yang entah apa namanya. Dangau-dangau di tengah tegal seolah melambai mengajak kami berteduh sejenak. Sempat  kami singgah di satu pondok kecil yang didirikan jauh di atas tanah itu,  minta beberapa teguk air dan ditawari sepiring ubi keras. Penunggunya, lelaki tua yang membawa parang sepanjang pinggang hingga mata kaki.

Merasa bugar pulih, kami berjalan kembali, berlomba dengan bocah-bocah berbaju merah putih yang baru pulang sekolah. Kaki mereka telanjang, hanya satu dua yang memakai sandal. Tertawa-tawa mereka melihat kami. “Setaan.. ada setan lewat,” begitu teriak mereka dalam bahasa setempat. Iya, empat setan yang menjunjung karier sepanjang hamper satu meter di siang yang tak bersahabat sungguhlah aneh. Apalagi kami merambat bak kura-kura sakit gigi.

Usai melalui sebuah sungai kecil dan jembatan, sampailah kami di tanah terlarang. Beberapa belas rumah panggung kecil berdiri rampak, dikelilingi taman bunga aneka warna. Itulah Dusun Anam Tapundo, dusun terakhir dari tujuh dusun di inclave yang berumur kurang setahun itu. Seorang lelaki keluar dari sebuah rumah layak pandang, dengan bunga warna semangka di depannya, mengundang kami tuk masuk. Di sanalah kami berbincang dengan Turusi, si tuan rumah, dan Tasman, kepala dusun, di ruang tamu bertembok kertas Koran dan majalah. Sementara hujan di luar mengguyur deras.

Tergagap penuh takut dan curiga, Tasman berkisah tentang dusunnya. Tentang inclave seluasnya 324 ha dibangun berdasarkan peraturan tahun 1982. Tentang 50 KK penghuninya. Tentang Suku Tolaki yang menjual rumah bantuan ke Suku Bugis karena mereka lebih suka hidup nomaden. Walau banyak yang diceritakan Tasman, namun kutahu lebih banyak lagi yang tak diucapkannya karena takut. Entah takut kepada siapa.

Hidup di enclave bukannya tanpa ancaman dan bebas konflik. Hidup terikat bagi Suku Tolaki, suku terasing yang masih tersisa di TN Rawa Aopa-Lanowulu, juga bukan pilihan menyenangkan. Kelak sepulang dari Lanowulu, ketika sampai di Jawa, baru kusadari terikut ruh pengantin perempuan. Wajahnya cantik, dan kepalanya dihias tiara. Rupanya kala pesta pernikahannya yang berlangsung beberapa bulan lalu, datang petugas membakar kampungnya atas nama mengusir perambah liar. Gadis Tolaki itu mati terpanggang, tepat sebelum malam pertama dimulai.

kenangan aopa ’99