Tags


Ini hari ketujuh kita, Kawan. Bersama di rawa luas, Rawa Aopa. Apa? Iya, masih berburu bangau jelek itu, si bluwok. Tapi kali ini kami mau naik truk menuju Puriala. Sebuah dusun di daerah hilir. Tak menuju markas buaya lagi. Mau ikut? Hayoo.. ada tujuh anak Mahacala di sini, pasti ramai.

Ini tepat sehari sebelum Pancasila yang mandraguna di peringati, Kawan. Ternyata naik truk bikin ngos-ngosan. Pijakan kakinya tinggi, mengharuskan badanku yang cebol ini melompat dua kali sebelum bisa duduk bersender di bak terbukanya itu. Sial, para mahacala hanya tertawa melihatku, bukannya menolong. Awas ya, di lapangan nanti kubuat kau jadi jongos setiaku. Haha..

aroweli ah..

Waduh.. di atas sini berjajar balok-balok kayu hasil pembalakan. Ada kayu yang hitam, kuat bagai cadas, dan pasti harganya mahal. Apa? Eboni namanya? Bukannya itu kayu langka? Iya? Masih banyak di sini? Ah.. aku tak peduli. Yang penting dapat tumpangan sampai Puriala, daripada jalan kaki 25 km. Sorry jek!

Gila, kenapa truk ini masuk hutan ya? Apa Puriala ada di dalam hutan? Apa? Mau ambil kayu di hutan? Oya? Bener.. itu seperti suara cainsaw.. keras banget, pekakkan telinga. Beberapa lelaki datang, berbicara dengan sopir truk. Sebaiknya aku turun, melihat sekeliling.

“Sedang apa Pak?” Aduh, aku tak begitu paham dialek bahasa mereka, tapi mereka menyebut tentang sagu, iya, sagu. Mereka sedang memotong pohon sagu dan memindahkan isinya ke dalam ember. Sebagian menyiapkan berkarung-karung sagu untuk dimuat ke dalam sagu. Tak kusangka… 700 meter ke dalam hutan ada pabrik sagu.

Kulihat sekitar. Ruang tempat kami berdiri dikelilingi batang-batang sagu yang melangit, menutupi kepala dan tubuh cebolku. Batang-batang yang siap dipotong. Tak jauh dari tempatku berdiri, bilah-bilah bambu mengerangkeng sebuah mesin, mirip cainsaw. Dengungnya memecahkan gendang kuping, mendengung bak kelebat sejuta tawon. Mesin itu merontokkan batang-batang sagu menjadi bulir-bulir yang siap masak. Hebat!

Di samping mesin itu berdiri sebuah pondok tertutup terpal warna biru dan jingga. Beberapa orang duduk baku cakap di sana. Kulihat seorang melambai ke arahku, lalu menunjuk langit biru. Sial, lima arowali meliuk indah di angkasa. Buruan kami itu seolah mencibir dengan hebatnya sambil berteriak, “Wahai manusia pemburu, ayo kejar kami sampai dapat. Siaaal!!”

Kulihat lawanan bluwok itu menuju ke arah Puriala. Gemas kami dibuatnya. Ujung kameraku hanya mampu menangkap bayang tipisnya. Kecewa. Seorang lelaki menepuk pundakku, “Cepat naik, truk mau berangkat! ” Bergegas, kutinggalkan pabrik sagu di Tanjung Mokaleleo, Lembuya, segera. Melompat ke dalam bak truk. Menuju Puriala.

penggalan ‘rawaaopa 300999’

diambil alih dari note fb pada puncakbetung, 030111