Tags


suatu hari kau bertanya kepadaku, apa yang paling kusuka dari rawa aopa? jembatan aopa, itu jawabku. iya, jembatan sepanjang 30 meter itu sungguh ajaib di mataku. bukan hanya karena tiang pancangnya didatangkan dari australia. bukan juga berhasil membuka isolasi antara mokaleleo, tinanggea, lanowulu hingga kasipute. jembatan yang indah untuk melewatkan senja sambil duduk-duduk di atasnya itu sebuah perlambang. kisah si kaya dan miskin desa terpencil bermula dari sana.

tak percaya? baiklah kukisahkan sedikit. jembatan itu memisahkan dua desa, aopa dan mokaleleo. desa aopa dihuni oleh orang tolaki dan bugis, sementara di mokaleleo dipenuhi para pendatang dan transmigran. suatu senja, pernah aku melewatkan waktu menyusuri desa aopa. rumah-rumah sederhana dari kayu berjajar di sana. anak-anak kecil dengan hidung penuh ingus keluar dari rumah mereka. sebagian dibungkus baju ala kadarnya, sebagian malah tidak bercelana. semua memandangku, seorang pendatang yang dianggapnya berasal dari tanah jauh.

seorang lelaki mengundangku. hosanan namanya. sudah renta, jelang 70-an umurnya. dulu dia seorang pemburu buaya. di dalam rumahnya yang sempit, dikelilingi cucu-cucunya yang berjubel, dia berkisah tentang pengalamannya menjadi  ‘crocodile dundee’. riuh dia berkisah, bahagia wajahnya. mungkin dia merasa hidup kembali tatkala ada yang memperhatikannya. segelas teh panas sekedar manis keluar menemani kami. puas bertandang, aku pun pamit pulang.

malam menjelang. desa aopa menghitam. satu persatu lampu ublik menyala, berkelap-kelip. bersama tujuh kawan, kulalui jembatan aopa, bertandang ke kampung sebelah, mokaleleo. ah, betapa terang benderang suasana. listrik sudah masuk desa ini. sesekali irama dangdut berpadu dengan iron maiden dan megadeth berkumandang dari celah-celah rumah penduduk. parabola, teve, dan mesin dvd mengintip dari balik rumah bertembok kokoh dan berkayu mahal.

di rumah paling terang, pak membale si kepala jagawana memanggil kami. aha, ada sedikit perjamuan di sana. beberapa pemuka masyarakat datang. makanan lezat siap disantap. ramah-tamah yang remeh-temeh dimulai. perut kenyang, mata memberat, bertujuh kami pamit pulang. tak menuju pondok jagawana, tapi ke jembatan aopa.

memandang air rawa yang melaut, di kegelapan malam, mataku jatuh pada kerlap-kerlip danau. iya, seperti cahaya kunang-kunang di permukaan air. sepasang mata buaya. kuingat kisah hosanan tadi, tentang buaya jadi-jadian, bokeo. bokeo akan naik ke jembatan, menuju rumah-rumah dimana orang jahat, para pembohong, dan orang munafik tinggal. itu sebabnya orang harus menjaga ucapan di sini. bahkan ketika desa aopa diperlakukan tak adil dengan hanya dilewati kabel listrik tanpa menikmati alirannya, penduduk bungkam. kemiskinan mereka terima dalam diam, pasrah, malu yang terbungkus rapi. takut legenda bokeo mungkin, pikirku.

seorang kawan menepuk pundakku. “sedang memandang apa?” tanyanya. kutunjuk kerlap-kerlip kunang di tengah rawa. “Oo.. pantas, kemarin ada nelayan yang dimakan buaya. melawan pantangan. melaut di hari jumat,” jawabnya ringan. aku mendehem.

sepenggal kenangan sulawesi ’99

diambil alih dari note fb pada ujungsenja, 080111