Ke Jakarta yuuk, lebaran kali ini. Ajakan kawan yang langsung saya sambut gelengan keras. Tidak. Tak akan lagi saya keJakarta, sebuahkotayang mengkhianati saya mirip nyaris mati.Kotayang membuat saya kehilangan harapan.Kotayang udaranya pun, berasa gas beracun di paru-paru saya.

Lebaran tahun lalu memang saya habiskan diJakarta. Beranjangsana dengan teman-teman yang hanya saya kenal querty-nya, bukan wajahnya. Beberapa diantaranya banyak menolong saya. Bila akhirnya ada manis di penghujung perjalanan, saya anggap itu bonus. Iya.. bonus. Karena berada di luar rencana besar saya.

yang jelas ini bukan batavia

Terakhir ke Jakarta, April lalu. Dengan tujuan khusus, melepas kepergian kawan. Namun segala sesuatu yang saya rencanakan jauh-jauh hari, biasanya meleset tak terkendali. Naik kereta api, terlempar ke kelas ekonomi yang berakhir dengan perpaduan ndeprok dan berdiri di satu kaki selama 15 jam. Sampai di tujuan, harus berimprovisasi karena kawan itu menjelma jadi bayangan. Jadilah saya menuju berbagai tempat mirip mata terpejam, a blind traveler, totally. It’s like a nightmare, but life itself is a kind of night morning mare. Halah!

Beruntung saya bisa menghindari Jakarta dalam banyak destinasi. Bila hendak ke barat, khususnya Sumatra, sudah ada penerbangan yang menawarkan paket langsung dari kota saya ke Medan. Sisa kota, bisa saya jelajah by bus atau perahu atau kapal. Ahahaha..

Kalau ke timur, saya justru tak ambil pusing. Mau menyulambesi alias ke Sulawesi, Maluku, hingga Papua, Jakarta jelas cuma dipunggungi. Namun.. bila saya hendak tunaikan janji kunjungi seorang kawan ke Negeri Sultan Bolkiah akhir tahun ini, mau tak mau, suka tak suka, mesti saya sambang Jakarta. Ah.. tapi saya tak hendak pikirkannya sekarang. Sedang paspor pun sudah kedaluwarsa dan belum sempat dibaruwarsakan. Takutnya kalau dibaruwarsakan, saya jadi ingin memburuh lagi. Lupa pulang hehe..

Andai ada satu pinta, saya ingin hidup di sebuah pulau yang, bila menengok ke kiri nampak gunung menjulang. Dan bila saya menoleh ke kanan, ada laut biru dan kapal-kapal telanjang di cakrawala. Saya jumpai pemandangan itu di Ternate, Tidore, dan mungkin juga Bandaneira. Aduh.. haruskah saya tinggal disana?

Advertisements