Tags

playing in the ground

banda, islands of nutmeg, a set on Flickr.

Sementara Banda

Apa yang bisa kukisahkan tentang kepulauan permai di timur Indonesia ini? Pulau pangkal mula imperialisme di nusantara? Apa yang dapat kukatakan tentang kehidupan sunyi nan memukau di sana? Ketika manusia Jawa diajak kembali ke tahun 1960-an, ketika mobil cuma ada satu dua (itu pun di Neira, yang jadi ibukota kecamatan). Ketika hidup lebih banyak bergulat dengan kegiatan fisik (kemana-mana berjalan kaki, berenang, atau naik perahu motor dan kole-kole).

Mungkin ini perjalanan terberatku namun juga terindah, dan.. termurah. Hanya menghabiskan dana dua juta sekian dalam tempo hampir sebulan. Mungkin inilah surgaku sehingga aku hendak kembali lagi tahun depan sambil membawa sedikit bala bantuan. Sebuah tempat yang mengubah pemikiranku tentang apa itu wisata, jalan-jalan. Aku bukan sekedar turis yang menikmati tempat asing namun indah. Aku bukan lagi ingin belajar tentang budaya dan kearifan lokal. Aku bukan semata orang yang membuka mata dan telinganya 24 jam sehari guna mengamati tempat baru dan gerundelan orang-orang di sekitarku.

Tapi aku adalah bagian dari mereka. Aku melebur ke dalam hidup mereka agar memahami siapa dan bagaimana mereka. Aku mencoba mengambil bagian dalam setiap aksi mereka di sana, dan aku akan memberikan apa yang bisa kuberi (baik ilmu, pemikiran, buku, atau apapun yang kupunya), karena bukankah itu hakekat menjalin hubungan dengan sesama?

Aku takkan memanfaatkan mereka demi kenikmatanku semata, kesenanganku dan kehausanku akan pengetahuan dan dunia. Aku dan mereka sejajar dalam hal apapun, berbagi apapun, karena mereka adalah bagian dari diriku  dan sebaliknya, manusia yang saling membutuhkan dan terhubung.

Lalu apa yang kudapat selama perjalanan ini?

1. Persahabatan di atas KM Ciremai yang tulus.

2. Belajar dari kearifan lokal nelayan Bitung dan Papua yang kutemui di atas kapal. Dari Pak Haji Maruf yang membawa sirip ikan hiu dalam hitungan kwintal.

3. Belajar untuk terus bertahan hidup dari Pak Otje, kepala sekolah sebuah SD di Neira yang terpaksa  mengungsi dan memulai hidup di Kei kepulauan karena kerusuhan agama 1999-2002.

4. Ikut bersenang-senang memanen pala ala Banda menggunakan gae-gae dan tokiri,  dengan masyarakat Desa Lonthoir. Aku juga belajar filsafat pohon pala, bagaimana mengolah pala paska panen dengan teknologi paling sederhana yang diwariskan ratusan tahun.

5. Mencermati kasus tanah perkebunan pala yang dikelola PT Banda Permai vs petani penggarap kebun. Rasanya perlu dilakukan advokasi agar penggarap kebun lebih sejahtera hidupnya.

6. Mendokumentasikan benteng-benteng kuno peninggalan Belanda dan Portugis di 6 pulau (neira, lonthoir, ay, rhun,gn api, neilaka, hatta)

7. Naik Gunung Api di tengah hari (yang berakibat fatal karena kena migren, dehidrasi, dan hancurnya sebuah celana panjangku).

8. Memahami budaya pala (secara sosioteknis ala ‘Holy Rafika’ maupun sosiobudaya)

9. Ikut mencari kenari di pagi hari. Aku jadi tahu bagaimana kenari banda diproduksi, berbeda ‘sedikit’ dengan kenari Selayar maupun Seram.

10. Keliling 6-7 pulau yang eksotik, termasuk naik kole-kole menuju pulau Neilaka pada dini hari ketika purnama (kalau ingat ini, gila juga. Thanks to La Sardi!)

11. Memahami permasalah nelayan setempat, diantaranya murahnya harga ikan, tak adanya cold storage, langkanya transportasi, dan mencari solusinya.

12. Mengidentifikasi masalah energi (listrik tenaga surya) dan mencari solusinya. 80% energi listrik di Banda bergantung pada surya, sehingga banyak pulau hanya menikmati listrik 4 jam sehari. Selain itu mayoritas pulau-pulaunya belum menikmati sinyal HP, apalagi internet. Hehe..

13. Menginventarisasi rumah-rumah perek (perkebunan Belanda) sekaligus mengumpulkan kenangan indah dan kisah horor tentangnya

14. Mengumpulkan semua resep makanan ala Banda yang mungkin untuk dibukukan seorang teman (food lover).

15. Apalagi ya? banyaaaak, termasuk berangkat disambut terbakarnya km Tiara IX yang menelan korban meninggal 11orang. Mendarat di Ambon pun disambut dua kali ledakan bom.

16. Menyaksikan masjid tertua dan gereja tua di Ambon.

17. Mendokumentasikan bangunan tua seantero Neira.

18. Identifikasi masalah kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Jadi apakah aku ini seorang blind traveler, pejalan, atau pengelana? Ah.. rasanya kurang tepat. Aku tak sehebat itu. Aku hanya sedang bersenang-senang dalam hidup, mencoba memahami negeriku dengan lebih baik.

Sedikit gambaran tentang perjalanan ke Banda, bisa kau lihat pada penggalan kisah dan foto-foto  di sini. Sementara aku sedang sibuk tarik menarik dengan Izroil untuk mengulur waktu, semoga engkau menikmati dan memahami apa itu Banda Kepulauan dan mengapa tempat ini begitu istimewa? Tentu kau tak bisa bandingkan tempat di belahan bumi lain seperti Singapura, Hongkong, Hawaii, Jepang, China atau lainnya. Banda bukan itu.

Oke, aku akhiri dulu kisah ini. Semoga setelah ini kupunya cukup waktu berceracau tentang Banda. Saatnya  kini kuberjuang kembali. Lawan aku Izroil!

bergulat aku dengan izroil

mengulur waktu.. sedikit lagi

ada tugas belum purna

satu tugas, satu tarikan nafas

Salam!

Advertisements