Tags

,


Saya selalu suka dengan ide bepergian naik kapal laut. Ide yang menantang sekaligus menyeramkan, khususnya jika bepergian seorang diri. Belum-belum berjuta kecemasan melanda. Bagaimana saya tidur di kapal nanti? Bagaimana dengan toiletnya? Bersih nggak airnya? Gatal nggak buat mandi? Bagaimana kalau bab? Bagaimana nasib barang saya kalau saya tinggal ke toilet? Aman nggak?

Tak mau cemas berkepanjangan, saya ikuti saja trik Musashi, si ronin Jepang yang mengikuti jalan samurai ketika mem-Banda. Apa itu? Musashi hanya membawa satu pakaian dalam selama pengembaraannya. Jadi saya pun tak mau repot-repot. Saya bawa 2 t-shirt, sebuah celana pendek, sebuah training karena celana lapangan saya sudah robek di sana-sini, sepasang pakaian dalam, sarung, sweater, kain pantai.

kapal laut murah meriah, banyak airnya

Sepengalaman saya, makanan yang dijual di kapal biasanya mahal jadi kalau bisa dihindari. Saya kantongi 6 mie gelas, 5 kopi instan, 5 milo, gula sachet hasil ngumpulin di rumah makan, seplastik gula-gula, sambal sachet, biskuat 2 kotak kecil sebagai bekal. Sudah itu saja, saya tak terlalu suka makan. Perhitungan saya, makanan tambahan itu cukup buat perjalanan empat hari empat malam lewat laut.

Oya, tak lupa saya membawa botol air dari plastik, gelas, dan sendok, dengan pikiran nanti di kapal ada air panas gratis. Ada beberapa buku sebagai tanda mata saya bawa. Semua barang muat di ransel ukuran semi sedang. Kamera saya tenteng di tas kamera kecil. Lensa 50mm dan kit 18-55mm jadi andalan. Saya emoh keberatan lensa. Bawa yang penting-penting saja. Saya anti dompet, uang tunai, atm dan ktp saya masukkan di saku baju bagian dalam. Susah dijamah orang walau kita sedang terlelap. Aman! Saya beli tiket langsung di loket pelni saat mau berangkat, menghindari calo dan harga mahal!

makanan pembagian kapal, kadang lebih buruk daripada makanan kucing

Bagaimana kenyataannya? Tidak semengerikan bayangan saya. Alasannya:

1. saya dapat kamar di dek 2, paling bawah, setelah berteman dengan seorang kakek dan  lelaki yang mau bersusah-payah mencari tempat untuk tidur alias barak.

2. walau kelas ekonomi, dek lumayan bersih, terutama di hari pertama. Setiap pagi selalu ada petugas yang membersihkan lantai dan kamar mandi, sekaligus membuang sampah. Masalahnya hanya pada asap rokok yang tak henti dihembuskan penumpang, padahal dek ber-AC dan ratusan kali petugas kapal menghimbau perokok untuk merokok di luar ruangan. Ini benar-benar menyebalkan.

3. tak mau kebagian toilet kotor, saya mandi setelah petugas kapal membersihkan toilet atau saat dinihari, ketika sebagian besar penumpang tidur. Cukup mandi sekali sehari.

keadaan di dalam kapal, meriah dan guyup

4. karena pakaian ganti saya terbatas, empat hari empat malam tak perlu ganti baju hehe. Biar bau nggak tercium juga. Kalah bau dengan laut dan oli di kapal.

5. makanan di kapal seperti dugaan saya, bahkan kerap lebih buruk. Dalam stereofoam ‘tak cinta lingkungan’ itu menggumpal nasi dan lauk ‘ikan setengah jari tangan’, kadang telur dadar selebar dua jari, sambal, sup yang isinya sebuah irisan wortel atau buncis. Maklum saja, penumpang kapal ribuan sementara dapur hanya satu. Kalau tak pintar pilih waktu, bisa lamaaa ngantri makanan, ikut barisan yang panjaaang mirip ular. Kalau sudah lelah begitu, saya sugesti diri, ‘Sudah bagus dengan tiket murah masih mendapat makanan pengganjal perut. Lima ratus ribu dari Surabaya ke Banda, mana ada angkutan semurah itu!’ Olala…

6. saya tak sempat bengong apalagi bosan. Terlalu banyak kenalan, acara ngobrol bertukar pengalaman dengan beragam orang dengan latar belakang etnis dan gaya hidup yang berbeda. Itu sangat menarik.

7. karena hobi berjalan naik turun kapal (bisa 10x naik ke lantai paling atas dalam sehari) saya jadi hafal bagian-bagian kapal. Mana itu bioskop, mana restoran, mana dapur, mana tempat mengambil air panas, mana musholla, mana tempat yang menerima charge hp dll dll. Ini menguntungkan, saya jadi  gaul.

8. kalau sedang jenuh, saya akan keluar, naik ke lantai 7, tepat di tangga bawah restoran. Sambil duduk di pagar kapal, saya bisa mendengarkan lagu Ebiet G Ade atau Iwan Fals yang mengalun dari restoran, kadang sambil membaca bukunya Mitch Albom yang berjudul ‘Have a Little Faith’. Rasanya nikmat sekali hehe..

9. hiburan paling mengasyikkan kalau kapal sedang berlabuh, entah di Makassar, Bau-bau, atau Ambon. Saya bisa motret dari geladak atau buritan, kadang turun ke darat sekedar mencari buah, nasi kuning atau ikan bakar yang harganya lebih murah dan nikmat rasanya. Sayang, ketika kapal merapat di Ambon, penumpang lanjutan dilarang turun. Namun memotret aparat dari atas kapal lumayan juga. Seram gitu!

10. saya suka berdiam di mushola, selain ruangannya dingin juga bisa ngecharge hp gratis. Saya tak peduli mayoritas penghuni musholla para jamaah khusus yang bertabir atau berjubah. Bodoh amat! Tuhan saja nggak protes, kenapa saya minder! Kalau usai shalat dhuhur plus ashar, pasti saya berlama-lama di musholla. Ngadem sambil setengah tidur. Bebas asap rokok sih!

11. ada peristiwa yang tak mungkin saya lupakan. Saya naik KM Ciremai di Pelabuhan Tanjung Perak bersamaan dengan terbakarnya KM Tiara IX jurusan Kalimantan pagi harinya. Saat itu ada 11 orang tewas terinjak-injak dan entah berapa yang tenggelam. Malam ketika kapal saya berangkat, masih saya lihat bangkai KM Tiara, jurnalis teve mondar-mandir, atau keluarga korban tewas yang sesenggukan.

Ketika saya tiba di Ambon ketika pulang dari Banda, lagi-lagi disambut kejutan. Ambon diguncang ledakan bom subuhnya. Malamnya sebuah bom meledak di pasar, tak begitu jauh dari hotel tempat saya bermalam. Saya anggap ini kenang-kenangan hehe..