Tags

,


Kekagumanku kepada Orang Buton kembali terbit kala kujumpa seorang kakek di atas kapal Ciremai. Kakek itu menyebut Makassar dengan lantunan ‘manggasai’. Terdengar seksi di telinga, dalam bunyi yang menyembul dari sela dua gigi atas yang tersisa. Dia ucapkan ‘manggasai’ sepenuh kenangan. Kakek itu, yang kupikir berumur jelang delapan puluh dan nyaris ompong mulutnya, telah berpuluh tahun menetap di Singkawang, tinggalkan tanah airnya, Pulau Butung alias Buton.

Buton dalam pandangannya adalah nama sebuah pulau beribukota Bau-bau. “Saya mo turung Bau-bau,” katanya ramah. Kepalanya yang nyaris gundul bertutup peci kecil putih mengangguk-angguk, mirip air laut yang bergolak tenang sore itu.

“Bapak tak lupa bahasa Butung?” tanyaku. Dia menggeleng. “Bisa bahasa Singkawang?” Dia tertawa. Kemana pun dia pergi, katanya, tak bisa menolak darah Buton di dalam dirinya. Sebuah identitas etnis yang dibawanya sampai mati. Keyakinannya, bagiku adalah sebuah kharisma yang mencuat di balik tubuh mungilnya. Ringkih nampak, namun mirip pohon yang berakar kuat di dalam tanah.

Keturunan Buton di Gunung APi

Perkenalan awalku dengan Orang Buton berawal dari ketaksengajaan ketika menyusuri jalan TKI di Malaysia. Begitu banyak kutemukan lelaki Buton bekerja di proyek konstruksi. Ada yang bekerja secara legal, tapi lebih banyak yang ilegal. (Untuk hal ini, kau bisa baca bukuku, ‘TKI di Malaysia, Indonesia yang Bukan Indonesia’ pada bagian Orang Buton).

Mungkin karena wajahku yang mirip ndeso, banyak lelaki Buton mendekatiku. Wajah yang diminati Orang Buton, kata temanku. Mungkin juga wajah prototipe ‘kuli’ perempuan, jawabku. Maka kumanfaatkan ‘kelebihan’ ini untuk memasuki dunia yang lama kuminati, dunia TKI ilegal.

Selalu mengindap dalam otakku sebuah tanya besar, kenapa Orang Sulawesi mirip Buton, Bugis, yang dikenal sebagai suku pelaut kini berubah menjadi suku TKI? Tak semua memang, namun TKI ilegal di Malaysia, di sektor konstruksi, lebih banyak dikuasai orang Sulawesi yang dengan bangga menyebut dirinya Orang Buton. Meski, ada juga Orang Flores, Madura, dan Jawa.

Keluarga TKI asal Buton di Malaysia

Kadang kupikir sebutan Orang Buton ini tidak tepat. Mereka tak selalu berasal dari Pulau Buton. Ada juga yang dari Pulau Muna, Talaga, Kota Kendari, bahkan Wakatobi. Toh dengan bangganya mereka menyebut diri Buton, seolah itu atribut yang gampang diingat dan melekat kuat pada diri mereka.

Orang Buton ini di mataku sunggu seksi, eksotik. Mereka tahan bekerja berjam-jam, terpanggang teriknya mentari.  Gagah mereka berdiri di bangunan tinggi, mengerjakan pekerjaan kayu. Tak nampak lelah, tak tersebut kesah. Matanya tajam, tubuh mereka ramping panjang, kuyup oleh keringat. Sepintas mereka mirip peranakan entah dengan hidung yang tinggi, bibir yang tebal kebiruan karena kerap menghisap rokok.

Rokok seolah sudah menyatu dengan kehidupan mereka. Mirip dengan ketergantungan mereka akan ikan. Harus ada ikan di dalam makanan setiap hari, tak peduli ada atau tak ada uang. Pernah aku salah membelanjakan uang mereka kala ke pasar, duit ikan kucampur dengan telur, tahu, dan lainnya. Untung tak kena gampar. Hehehe…

Sampul buku Orang Buton

Jika berhubungan dengan Orang Buton di Malaysia, jangan pikirkan menu lain seperti sayur, daging, dan telur. Cukup ikan, ikan, dan ikan. Walau telah bertahun merantau, mereka sangat bergantung dan setia pada makanan leluhur seperti parendre, lapa-lapa dan buras. Cukup dengan memakan penganan tradisional ini pada perayaan hari besar, sudah mengobati kangen mereka akan kampung halaman.

Setahuku Orang Buton sangat mengagungkan solidaritas. Apapun kondisinya, dengan teman sesuku mereka merasa bersaudara. Makan bersama jadi menu bersama, tak peduli ada uang atau tidak. Mereka ditandai dengan nama depan la pada lelaki (La jamu, La sardi, La muna, La ode), dan pada perempuan dengan wa (Wa gureh, Wa oda, Wa usu).

Peristiwa kedua yang menerbitkan ingatanku tentang Orang Buton adalah perjalanan ke Banda Kepulauan Oktober lalu. Pulau-pulau Banda yang berpenghuni ternyata dipenuhi orang keturunan Buton dan Jawa. Mereka adalah anak turun buruh perkebunan pala yang sengaja didatangkan Belanda berabad lalu. Namun tak banyak lagi yang mengenal bahasa ibu-bapaknya, Jawa-Buton. Mereka menggunakan bahasa pasar Maluku Tengah.

Memutar ingatan lama, membuatku terdampar dalam bacaan baru, ‘Orang Buton’  karya Abdul Rahman Hamid. Buku ini banyak berkisah tentang Orang Buton yang tinggal di Wakatobi sebagai penguasa laut dan pedagang. Adakah benang merah di antara beragam kisah Orang Buton yang kutemui? Dari pelaut pengembara menjadi kuli kembara di negeri orang? Aku masih mencarinya.