Tags

Ini tulisan lama, tentang anak-anak penderita kanker dan kelainan darah se-antero Jogjakarta yang dirawat di RSUD Dr Sarjito. Tulisan tentang mereka, dan orang-orang yang peduli terhadap keberadaan mereka.

Aku bergegas memasuki pelataran parkir utara RS Dr Sarjito. Sudah hampir pukul setengah sembilan. Nyaris terlambat. Di ujung bangunan seorang perempuan setengah baya segera menyambutku. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Keramahan tumpah dari bahasa tubuhnya. Dialah Tante Kristi, wanita yang selama ini hanya kukenal lewat facebook. Sebuah kegiatan di masa lalu mengikatkanku dengannya, kegiatan yang melibatkan pengumpulan dana bagi anak-anak penderita kanker.

Tante Kristi segera memperkenalkanku dengan belasan anak muda di sana. Mereka sukarelawan Yayasan Tuna Bangsa. Semua berwajah ceria, penuh canda tawa, khas anak muda. Yang lelaki mengenakan baju batik, yang perempuan memakai rok batik. Ada yang memegang wayang karton, ada yang mengurai acaran yang bakal ditampilkan.

menghibur anak-anak yang terkena kanker

“Ayo kita bisa masuk ke rumah sakit sekarang, acara segera dimulai” ajak Tante Kristi. Kami pun dipecah ke dalam dua grup, menuju ruang Nuri dan Kepompong, tempat anak-anak di rawat.

Di Nuri sudah belasan pasien anak dan orangtuanya menunggu. Mereka memandang kami dari balik pintu. Sesekali terdengar gema tangis dan rengek kesakitan. Satu persatu anak dan orangtuanya dipersilakan masuk ruangan dan duduk di kursi yang disediakan. “Belum semua kumpul, masih ada anak yang diberi obat. Ada juga yang pub,” seorang sukarelawan memberitahu.

Kuperhatikan mereka satu persatu. Ada yang duduk dengan membawa tiang dan cairan infus, ada yang mata dan tangannya dibalut perban. Ada yang marah saat ayahnya mencabut jarum infus dari tangannya, ada yang cuek, seolah itu hal yang biasa. Semua tak sabar menunggu acara dimulai. Dan ketika mendongeng dengan media wayang akhirnya dimulai, semua anak pun menyanyi, menari, dan berkisah. Sejenak lupakan derita, sekejap hilangkan sakit dalam tawa. Gelak tak hanya mnghiasi bibir anak, tapi juga orangtua yang letih merawat anaknya.

Kanker memang tak harus dirasa. Kanker bisa diajak gembira. Apalagi bila anak-anak sasarannya. Mana peduli mereka sakit kanker. Makna kanker pun tak mereka pahami. Yang mereka rasa hanya badan lemah, lemas, kadang sakit, kadang tak enak makan, minum, atau bergerak. Hingga orangtua pun alpa bila anaknya sakit serius. Mereka anggap si bocah hanya demam dadakan, sekedar rewel, yang bisa langsung ditenangkan dengan vitamin atau gula-gula.

Ketika sakit si bocah tak juga sembuh, barulah orangtua membawanya ke rumah sakit terdekat. Saat itulah vonis dijatuhkan, anak mereka terkena kanker dan harus dikirim ke rumah sakit propinsi. Dari berbagai kota di pelosok Jogjakarta mereka datang. Mulai Klaten, Wonosari, Purworejo, Kutoarjo, Temanggung, Boyolali, dan lainnya. “Umumnya yang datang sudah dalam kondisi parah, stadium lanjut,” kata Tante Kristi.

Perawatan kanker pada anak tidaklah instan. Kerap mereka harus antri, menunggu ruang inap yang kosong sebelum dirawat. Kerap mereka harus bolak-balik ke rumah sakit. Bagi yang tinggal di kota Jogjakarta, tentu tak masalah. Namun yang tinggal di pelosok propinsi ini, sungguh menjadi neraka. Ongkos yang dikeluarkan untuk pulang pergi kerap lebih besar ketimbang harga obat. Mereka butuh rumah singgah sementara. Untunglah kini ada rumah singgah, memanfaatkan rumah Yayasan Kanker Indonesia di Sendowo. “Keluarga pasien bisa tinggal sementara di sana, bea perharinya Rp. 5000 dan ditanggung Tunas Bangsa,” seorang relawan menjelaskan.

Apa penyebab kanker pada anak? Mengapa cukup banyak penderitanya? Aku bertanya-tanya. Tak ada jawaban memuaskan yang kudapat saat ini. Yang kutahu mayoritas penderita kanker pada anak di RS Sarjito adalah leukemia. Beberapa anak bahkan taraf leukemia ini sudah sangat parah hingga telah memakan kornea matanya.

Masih ada masalah baru berkaitan dengan kanker pada anak. Beberapa keluarga pasien akhirnya berantakan, berpisah, bercerai, akibat tak bisa menerima kondisi anak mereka yang mengidap kanker. Suami istri saling menyalahkan siapa pembawa gen kanker pada anak, tak bisa menerima kondisi anak. “Beberapa istri ditinggalkan suaminya begitu saja sehingga harus merawat sakit anaknya sendiri saja,” cerita seorang relawan. Sungguh memilukan. Butuh kebesaran jiwa dan kekuatan fisik untuk menghadapi cobaan ini.

Menurut literatur yang kubaca, leukemia pada anak bisa disembuhkan asal dirawat secara teratur. Namun buat anak pelosok kampung yang ekonomi orangtuanya pas-pasan, mana bisa pengobatan secara teratur dilakukan. Beruntung ada masyarakat yang peduli seperti Yayasan Tunas Bangsa ini.

“Concern kami tak hanya leukemia, tapi juga penyakit kelainan darah seperti thalasemia dan hemofilia,” lagi-lagi Tante Kristi menjelaskan.

Untuk mengumpulkan dana buat pengobatan anak-anak ini, berbagai cara dilakukan. Misalnya dengan melakukan bazaar dan pasar murah. Media pertemanan maya seperti facebook dan twitter dimanfaatkan untuk mendapatkan sumbangan baju bekas, sepatu, tas, mainan, dan lainnya. Semua barang bekas ini kemudian dipoles dan dijual kembali. Dengan cara itu YTB bisa terus hidup dan menghidupi anak-anak penderita kanker di Jogjakarta.

Melihat keceriaan mereka pagi itu, mata mereka yang berbinar dalam lagu dan tawa, aku pun berpikir. Bukan salah mereka jika harus sakit. Bukan salah mereka pula jika harus menjadi beban sesama. Bukankah Tuhan selalu menguji manusia, lewat mereka atau lainnya. Sakit tak harus diratapi dengan sedih atau airmata. Biarkan ia menjadi suluh yang menguatkan hidup. Bersama mereka pagi itu aku serasa ingin hidup seribu tahun lagi, tak di alam ini ya di alam berikutnya.

Advertisements