bay city by ary amhir
bay city, a photo by ary amhir on Flickr.

seorang kawan ‘kabut’ bertanya kepadaku, apa yang kau hasilkan di tahun 2011? ‘kalau itu sebuah prestasi’, jawabku, ‘aku tak mengukir apapun yang berarti’. ya, tak banyak yang kulakukan di tahun 2011, kecuali sedikit ‘puing’ dan ‘tahi’ di sana-sini. bila kuungkap di sini, mirip pamer diri.

sedikit sampah telah kubuang, separo buku koleksi pribadi telah mengisi almari-almari perpustakaan anak dan desa. sampah yang lain, timbunan artikel, bundel skripsi, dan buku jaman kuliah, telah masuk mesin daur ulang. bagiku, membuang sampah ini sebuah prestasi. mengurangi kekotoran diri. tahun depan semoga separo koleksi buku yang lain, akan masuk perpustakaan anak di belahan lain.

bagi orang lain, menerbitkan buku mirip sebuah prestasi. bagiku tidak. buku pertama yang berkisah tentang TKI ilegal di Malaysia, mirip membayar hutang masa lalu. aku telah diselamatkan oleh kawan-kawan TKI ilegal ketika sakit parah di sana. maka aku ingin menulis tentang keberadaan mereka. kutahu tak ada penerbit yang tertarik, maka dana penerbitan berasal dari sisa sumbangan kawan-kawan semasa kuliah ketika aku sakit. buku ini tak meraup untung, semata buntung. tapi aku tak peduli, yang penting ada yang mendengar dan membaca tentang mereka, ‘orang indonesia yang bukan indonesia’ walau cuma beberapa puluh orang. biarlah..

buku kedua tentang sumatra pun mirip pembuktian diri, sekaligus penyembuh. lagi-lagi kuterbitkan sendiri. gaya menulis sepertiku, katanya mirip ‘tahi’. tapi ya sudahlah, dibaca satu ratus orang cukuplah. lagi, tak ‘ber-untung’. ada sedikit laba, untuk menutup bea yang tak ‘berbayar’. sedikit laba pun terpotong buat disumbang ke sana-sini.

akankah kutulis buku lagi? entahlah. tak ada sisa uangku. sebaiknya kutulis artikel di majalah saja. tak habiskan banyak waktu, sudah jelas bayarannya. duitnya bisa kuguna melakukan ini-itu lagi. berbagi kisah, cukuplah di kepala. atau menjadi penutur lokalan saja.

ada sedikit perjalanan kulakukan tahun 2011, ke barat yang tersia dan menyakitkan. lalu rekonsiliasi ke munduk walau sebentar, dan terakhir ke banda kepulauan. walau awal perjalanan penuh kesiaan, cuma membuang uang yang sudah tak banyak, dia akhir aku menemukan ‘cahaya’. banda terlalu indah tuk dilukiskan, terlalu pedih tuk ditelusur sejarahnya, dan rupanya ini bukan yang terakhir. mungkin malah sebuah awal.

kawan ‘kabut’ tadi kembali bertanya, apa cita-cita yang ingin kau capai tahun depan? sebuah mimpi? ah kawan, aku tak lagi punya mimpi, tak juga harap. biarlah yang terjadi mengalir begitu saja. aku tak lagi peduli, mirip mati rasa.

tapi kalau Tuhan masih memberiku umur, aku mau ke banda kepulauan sekali lagi. mau berbuat sesuatu di sana, menyumbangkan apa yang kumiliki, melepas kebendaan dan materi yang hanya menjadi pemberat langkahku. aku telah jatuh cinta pada tempat itu, bahkan sebelum melihatnya, dan saat merencanakannya di kepala.

aku juga ingin berjumpa ‘merchedez chavez‘, kusebut saja begitu. dia mentorku, penyemangatku. di saat kujatuh, dia mendorongku tuk terus menulis dan melanjutkan penelitian yang kuanggap mirip ‘mustahil’. tanpa dia, tanpa buku-buku yang dikirimnya, kurasa sudah lama aku karam. padahal aku belum pernah bertemu dengannya (kecuali di masa lalu yang tak membersitkan kesan).

tak ada lagi yang kuinginkan, sungguh. tak bisa lagi. sungguh aku amat berbatas di kekuasaannya yang ‘tanpa batas’. kalau nanti ada yang mirip ‘prestasi’ kulakukan, anggap saja bonus.

selamat menyambut tahun baru 2012