Tags

,

Bila kau berada dalam sebuah persoalan, Yani, pandanglah kehidupan dari sisi mana kau bisa tertawa. Dengan demikian, konon, pikiranmu akan bisa lebih jernih.

Itu pelajaran yang saya dapat dari membaca kumpulan cerpen karya sastrawan, Gus Tf Sakai. Belajar menertawakan kesulitan. Dan kini, saya sedang menikmati menertawakan kesulitan hidup. Apapun bentuknya.

Liburan akhir tahun saya lewatkan dengan melahap dua buku kumpulan cerpen karya penulis asal Payakumbuh ini. Buku ‘tiga cinta, ibu’ (gramedia, 2002) dan ‘kemilau cahaya dan perempuan buta’ (gramedia 1999). Bukan buku baru, hanya baru sempat terbaca kali ini.

Dalam tiga cinta, pengarang berkisah tentang perempuan pada ketiga cerpennya.

Cinta 1, lembah berkabut berkisah tentang Jun, orang asal Lembah yang jatuh cinta dengan Yani, yang ternyata satu suku dalam adat minang. Adat melarang mereka bersatu, walau keduanya dibesarkan dan bertemu di rantau. Jun yang mencoba menelusur leluhurnya dihadapkan pada pilihan, meneruskan niat atau menuruti adat yang sudah lama dilupakannya.

Cinta 2, riu bercerita tentang Riu, gadis suku Manyaan di Kalimantan Selatan. Hasbi mencintau riu, tapi ragu dan menunggu. Riu ternyata sudah ‘dijual’ bapaknya, samau, kepada lelaki pengusaha muda, Kanyu. Di saat yang sama Hasbi berkenalan dengan Victor, lelaki batak misterius yang nampaknya tahu betul tentang ritual ijambe yang sedang diikuti Riu. Di akhir kisah, Riu justru memilih Victor, lelaki yang belum sehari dikenalnya ketimbang Hasbi dan Kanyu. Mengapa?

Cinta 3, masih bagai butir mengalirkan pertautan antara Jap dan Ina, perempuan yang 3 tahun lebih tua dan lebih matang darinya. Bagaimana rencana kadang harus mengalah dengan ketakterdugaan. Karena apa guna rencana jika tak memiliki kesempatan? Jap pun harus belajar dari mak untuk memahami keinginan Ina, untuk tumbuh dari anak lelaki menjadi lelaki seutuhnya.

Satu hal yang saya amati, pengarang suka meliuk-liuk dalam berkisah. Ibarat dalam sebuah perjalanan menuju satu kampung, kita diajak menikmati setiap saat dan peristiwa di perjalanan tadi. Bukan fokus ke tujuan. Tema cerpennya pun penuh warna tradisi, terutama tradisi minang.  Buku ini memang oye, terutama jika Anda pecinta karya-karya model Oka Rusmini yang juga kental latar tradisi!

Bagaimana dengan buku kedua?  Perlu diketahui, buku ‘kemilau cahaya dan perempuan buta’ meraih berbagai penghargaan, antara lain penghargaan sastra lontar (2001), penulisan karya sastra pusat bahasa (2002), Sea write award dari Thailand (2004), lalu diterjemahkan ke Bahasa Inggris.

Ada 14 cerpen yg menghias buku ini, kesemuanya pernah dimuat di media (Kompas, The Jakarta Post, Republika, Media Indonesia, Matra) antara 1994-1999. Dalam buku, cerpennya terbagi ke dalam 4 bagian besar; gadisku, rumah masa lalu, sendiri, apatah bisu.

Paska membaca buku ini, saya berpendapat pengarang lebih suka menuliskan cerpennye dengan gaya simbolik dan surealisme, berbeda dengan buku sebelumnya yang lebih realis.

Sedikit ulasan, pada ‘santi’, pengarang berkisah tentang keraguan seorang gadis untuk menunjukkan diarinya saat wawancara kerja. Mengapa? karena diari itu penuh goresan pengalaman duku, hasil takikan nasib malang yang dialami Santi. Pada ‘susi yang sunyi’, lagi-lagi pengarang mengajak pembaca menyimak Susi yang lebih suka bermain dengan pikirannya, berdialog dengan topi jeraminya, sebelum akhirnya sang topi menghilang di suatu pagi.

Pada ‘lukisan tua, kota lama, lirih tangis setiap senja’ apik berkisah si pengarang, dengan deskripsi yang indah tentang sebuah lukisan bergambar perempuan, yang setiap siang si perempuan keluar dari bingkainya dan berjalan keliling kota baru, lalu kembali masuk lukisan jelang senja. Kelak perempuan berbaju ungu di lukisan itu menyelamatkan perempuan berblus biru korban perkosaan yang coba dibakar pemerkosanya. Indah!

Kisah  ‘kemilau cahaya dan perempuan buta’ walau dinyatakan cerpen terbaiknya, buat saya pengarangnya lebih mirip berfilsafat, mempertanyakan esensi hidup. Kenapa si buta lebih bisa ‘melihat’ hidup ketimbang si normal. Sedang pada  ‘permintaan sasa’ pengarang mempertanyakan bagaimana kepercayaan, tahyul masa lalu tak lagi menemukan rumahnya di masa kini, lewat makna kicau murai dan orang mati.

Lalu ‘semua tamu (tidak) harus pergi‘ adalah kerinduan akan kejujuran di tengah kehidupan yang serba munafik, dan itu didapat dari sikap teman masa kecil yang (kurang) beradab. Mungkin pengarang paling membumi saat menuturkan  ‘lasiem’, keturunan terakhir  buruh kontrak asal Jawa yang bekerja di kebun-kebun karet Deli Serdang, Sumatra. Lasiem terpaksa harus menjadi buruh penderes karet demi mempertahankan sebuah bedeng kayu untuk ditinggali keluarganya. Kesukaan saya mungkin bersifat pribadi, ayah dan keluarga dari ayah dulunya adalah buruh kontrak tembakau deli.

Dalam ‘boneka’ lagi-lagi kita diajak masuk ke dunia surealis atau fantasi? Ketika manusia memperlakukan boneka lebih baik ketimbang sesama. Pada   ‘tukang cukur’ dilukiskan cinta si aku, tukang cukur, dalam dunianya yang menjemukan, berulang-ulang, dan  monoton. Cinta pada seorang pelanggan yang disimpan dalam diam, dan akhirnya berakhir dengan ending yang mengejutkan, si tukang cukur menggorok leher korbannya ketika mencukur.

Namun saya suka pada ‘sungguh hidup begitu indah’ karena endingnya yang absurd. Si tokoh aku yang membenci siang, tergugah oleh lelaki tua yang menghargai hidup, bahkan mengurungkan membunuh lelaki itu di gedung bioskop, demi melihat indahnya purnama. Sungguh hidup begitu indah, itu saya rasakan saat membaca cerpen2 gus tf sakai.

Pada ‘lelaki hitam’, kita diajak bermain dengan realisme simbolik (kalau memang) ada aliran begitu. Sebuah bencana yang dihubungkan dengan keluarga tukang tenung, dan berakhir dengan pengusiran mereka yang dianggap pembawa wabah, kerap dijumpai dalam masyarakat.

Dalam ‘ular dalam sepatu’ lagi penulis bermain dalam simbolik, tentang birokrat yang mirip ulat, menggerogoti tatanan dan menghambat kehidupan. Lalu ‘ pahlawan’ mengajak pembaca mencermati para dombong, pelaku perampokan bus lintas Sumatra yang dianggap pahlawan oleh keluarga dan istri-istri mereka. Ini fenomena sosial yang berakar  pada kemiskinan dan ketakpedulian pemerintah tuk menanggulanginya.

Pada ‘situs’ lagi-lagi pengarang berangkat pada surealisme, indokom dipandang pada masa depan, sebuah negara korup di masa lalu yang malas rakyatnya, lebih suka menggadaikan wilayahnya ketimbang membangun sendiri. Dan pemerintahnya tak lebih dari penerima bunga. Ketika saya lihat, cerpen ini dimuat 1998, pas dengan gejolak reformasi saat itu.

Walau terkadang mesti berhenti sejenak, mengambil jeda, sebelum melanjutkan membaca kembali, saya anggap kedua buku ini ‘menarik’ buat dibaca. Cerpen adalah paduan imajinasi dan kata dalam sebuah kisah, batasnya tak jelas mana nyata mana maya. Tapi begitulah sastra diciptakan, buat menertawakan segala kepedihan dan kesakita. Selamat membaca!

Advertisements