Tags

,

‘Maaf, aku tak bisa berteman denganmu,’ kata lelaki itu.

‘Tak apa, santai saja,’ jawab perempuan itu lalu menggigit bibirnya.

‘Aku tak bisa terus-menerus menjadi keranjang sampahmu.’ Lelaki itu menambahkan.

‘Pergilah!’ perempuan itu menahan tangisnya. Sekonyong-konyong dia membalikkan tubuhnya, membelakangi lelaki itu, lalu perlahan melangkah menjauh. Dibiarkannya air matanya memburamkan pandangannya, lalu jatuh menuruni pipinya, hingga menetes ke setiap tanah yang dipijaknya

‘Kalau kau tak bisa menjadi temanku, maka tak seorang pun bisa berteman denganku,’ katanya dalam hati.

Perempuan itu terus melangkah, di saat malam atau terang terik. Dia melangkah, kala hujan mengucur mirip pecut dari langit, menyamarkan tangisnya yang tanpa suara. Dia terus melangkah, tak pedulikan angin badai yang menyambar tubuhnya. Tak ada, tak ada sesuatu pun yang mampu mengejutkannya, membangunkannya dari kejatuhan abadi.

Kelak, di sebuah pondok tepi danau dia hentikan langkah. Bukan tuk kagumi bebuah dan sesayur yang tumbuh menjulur bebas. Bukan. Namun tuk berdiam memanen ilalang. Dibuatnya keranjang sampah dari batang-batang kering ilalang, dirangkainya mirip menjalin hatinya yang kosong. Keranjang sampah itu lumayan besar. Tingginya sepanjang pahanya, lebarnya satu setengah kali langkah kakinya.

Di pondok itu perempuan itu menghabiskan hidupnya dengan mengupas apa saja. Kadang kentang, wortel, bawang, atau labu siam. Kadang bahkan kayu keras. Kulit hasil kupasannya dibuangnya ke keranjang sampah.

Tiap kali amarah atau kesedihan melanda hatinya, tiap kali air matanya menitik mirip embun tanpa usai, tiap itu pula ia mulai mengupas semua yang ditemuinya. Dia penuhi keranjang ilalangnya dengan sampah kulit bebuah dan sesayur. Dia penuhi keranjang sampahnya dengan rajangan dedaun tak berguna. Biarlah duka menjadi sampah. Biarlah marah memburat sampah. Biarlah luka menggurat sampah. Perempuan itu telah menyerahkan hatinya seutuhnya pada keranjang sampah ilalangnya.

Advertisements