Tags

, ,

‘Tuhan.. hapuslah ingatanku tentangnya!’ mohon perempuan itu.

Ingatan tentangnya telah membuat perempuan itu hidup dalam lautan nyeri. Dunia baginya hanya  kolam tangis. Tak ada ceria, apalagi bahagia. Hidupnya hanya diisi roti lara dan jus kesedihan. Pilu mengingatnya, pilu pernah mengenalnya, pilu telah pernah bersamanya. Tak ada lagi yang bisa dikerjakannya kecuali menjadi pabrik air mata. Semangat hidupnya perlahan padam. Jiwanya melompong nuju kekosongan. Maka perempuan yang ber-Tuhan itu pun berdoa. Doa sepenuh hati.

‘Tuhan.. hapuskanlah ingatanku tentangnya!’

Doa yang melantun bersama munculnya tunas pertama biji jambu air. Doanya berlagu, lima kali sehari. Tapi ingatan tentangnya tetap mengada. Dua puluh empat jam sehari. Dari hari ke hari, minggu ke minggu. Lalu beranjak bulan, dan tahun. Ingatan yang menyiksa itu terus hidup di kepalanya, di jiwanya, di laranya

Sementara Syzygium aqueum sudah semakin meninggi. Lebih tinggi dari tubuh perempuan itu sendiri, dengan cabang merayak kemana-mana, dedaun melebat mengulat, bahkan kini mulai wangi berbunga.

Perempuan itu tengadah, memandang si jambu air. ‘Mengapa Tuhan tak jua mengabulkan doaku, sementara Dia terus menumbuhkan pohon jambu ini?’ tanyanya dalam iri.

Dia lalu amati perilaku si pohon jambu air. Rindang dedaunnya mirip bersujud kepada Tuhan. Tanda takluk. Pasrah. Siang malam dia selalu begitu. Tak berubah. Walau dalam hujan atau terik. Walau dihembus angin atau badai debu. Seolah menyembah Tuhan. Memandangi Tuhan. Perempuan itu tergerak. Didekatinya si pohon. Ditorehkannya doanya pada kayu si jambu. Ukirnya tegas dengan  pisau lipat.  ‘Tuhan.. hapuskanlah ingatanku tentangnya.’

Perempuan itu berenang dalam telaga isak berhari kemudian. Tepat ketika si machom pupa ini berbuah, diambilnya jambu sebuah yang berwarna hijau keputihan. Dimakannya perlahan. Begitu manis. Manis yang bergerak menggerus ingatan tentangnya. Diambilnya lagi sebutir. Dikremusnya. Manis jambu merambat menghapus ingatan tentangnya. Dari kunyahan ke kunyahan. Dari manis di ujung lidah merambat ke ingatan

Beberapa hari kemudian, perempuan itu terbangun dari tidurnya dengan hati lapang. Tak tersisa ingatan tentangnya. Tak  mengendap kesedihan akannya. Tak terbentuk lagi kubangan pilu dan airmata. Sepasang matanya tak lagi lembab dan menghitam. Perempuan itu takjub, merasa menjadi orang baru. Dihampirinya pohon jambu. Diciumnya bagian dimana dia lekatkan doanya. ‘Tuhan.. terimakasih telah mengabulkan doaku,’ bisiknya.

Advertisements