Tags

, , , ,


Kalau Jacky begitu piawai menggambarkan suasana hati Andy, anak korban broken home, maka Di Camillo membuat haru kala menggambarkan perjalanan hidup Edward Tulane menemukan kembali tuan yang menyayanginya.

terbitan gramedia 2003, 176 halaman

Saya sudah naksir buku ini sejak pertama melihatnya. Judulnya unik, secara kasar ‘anak koper’. Oleh penerjemahnya, Novia Stephani dari GPU dialihkan menjadi ‘anak tanpa rumah’. Mungkin karena si tokoh utama jenis anak yang menenteng koper ke sana ke mari. Andrea West alias Andy Pandy, dalam buku ini adalah korban broken home yang harus hidup seminggu di rumah ibu dengan ayah tiri dan ketiga saudara tirinya, lalu seminggu kemudian tinggal dengan ayah dengan ibu tiri dan sepasang saudara kembar tirinya.

Jacky –panggilan akrab penulis- menuliskan kisah anak korban perceraian dari sudut pandang pertama, yaitu kacamata si Andy. Pengalaman, perasaan, kemarahan, iri, cemburu, pemikiran egois si Andy tentang keluarga baru dan kenangan serta impian terdalamnya dikisahkan dalam setiap subbab dengan inisial A sampai Z. Ini menurut saya sangat menarik dan orisinil.

Misal, pada B – bathroom, Andy melukiskan bagaimana dirinya lebih suka bersembunyi di kamar mandi kala berkumpul dengan keluarga baru ibunya. Di kamar mandi, dia dan bonekanya, Radish, merasa mendapat privacy.

Atau F – friends, mengisahkan hubungan antara Andy dan teman akrabnya, Aileen, yang mulai menjauh. Bukan saja karena rumah mereka tidak lagi berdekatan, tapi perubahan suasana dan hidup Andy membuatnya tertekan, nilai-nilainya jeblok, dan ini membuatnya ‘dijauhi’ teman-temannya. Andy menjelma menjadi anak aneh.

Saya suka sekali dengan Q – questions, karena menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi inti masalah bagi anak korban perceraian. Misal, Andy jadi suka membolos, nilai-nilai di sekolahnya memburuk, dia menjadi nakal atau berulah di rumah, dan sebagainya. Orang dewasa, khususnya orangtua, menganggap begitu palu ‘cerai’ diketuk, maka selesailah satu masalah dalam hidupnya. Namun tidak bagi Andy, beribu masalah baru bakal muncul, sebagai akibat perubahan hidup yang ‘drastis dan tragis’ ini.

Namun cerita dari sudut pandang Andy ini tidak melulu getir dan kelabu. Jacky mengemasnya dengan cantik, tentang kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang dijumpai Andy. Semisal dia menemukan sebuah taman di Larkspur Lake, tempat dia menjumpai pohon murbei seperti di rumahnya dulu. Dia mulai akrab dengan Graham, saudara tirinya. Dia juga menemukan kesenangan ketika adik tirinya, Zoe, lahir.

Kepiawaian Jacky mengungkap sisi buruk dan baik, kemuraman dan kegirangan baru dalam hidup anak korban cerai inilah yang menjadi kekuatan buku ini. Saya sebut ini optimisme, dan si Andy mampu melewati saat-saat berat dalam hidupnya, bisa menjalani perubahan dan mau berkompromi menerimanya. Sayang, tak semua anak korban cerai memiliki sikap seperti Andy, atau nasibnya seberuntung Andy. Apapun itu, buku ini layak dibaca dan pantas mendapat children’s book award.

penerbit gramedia 2006, 208 halaman

Dahulu kala, seekor boneka kelinci dari porselen bernama Edward Tulane, menikmati kehidupan nyaman bersama tuannya, gadis bernama Abilene di Egypt Street. Lalu dia ikut dalam pelayaran menuju London.

Pada suatu peristiwa, Edward tercebur ke laut, 297 hari dia tinggal di dasar laut. Sebelum ditemukan nelayan tua bernama Lawrence dan dipelihara istrinya, Nellie. Baru sejenak dia menikmati kasih sayang pasangan tua itu, Edward dibuang putri mereka ke bak sampah.

Maka dimulailah petualangan boneka porselin kelinci berikutnya. Pada hari ke-180, seekor anjing menariknya keluar dari timbunan sampah, membawanya kepada tuannya, Ernest si gelandangan. Edward pun ikut bertualang keliling negeri dengan Bull selama 7 tahun, hingga dia dilempar keluar gerbong kereta api suatu malam.

Edward ditemukan perempuan yang menjadikannya orang-orangan pengusir burung di kebun sayurnya. Tapi diselamatkan anak kecil bernama bryce suatu malam, untuk dihadiahkan kepada adiknya yang sakit keras, Sarah Ruth.

Enam bulan kemudian Sarah Ruth meninggal, Edward patah hati dan tak mau peduli lagi. Bersama Bryce mereka pergi ke Memphys, menjadi boneka yang bisa menari. Namun nasibnya buruk. Dia dihantam pemilik restoran hingga kepalanya remuk, dan terpaksa jatuh ke tangan Lucius Clarke, si tukang reparasi boneka.

Bertahun-tahun Edward tinggal di toko boneka Clarke, hingga suatu hari seorang gadis kecil menemukannya. Gadis itu rupanya, anak majikannya Abilene. Maka kebahagiaan si boneka porselen pun pulih kembali. Dia berkumpul dengan orang-orang yang menyayanginya.

Usai membaca buku ini, mata saya basah. DiCamillo mampu memasukkan ‘hati dan rasa’ pada setiap cerita Edward. Semisal Edward yang bangga dan tak punya hati tuk menyayangi kembali kala tinggal dengan Abilene.. Atau Edward yang mulai menyayangi Lawrence dan Nellie, dan Edward yang merindu hingga patah hati atas kematian Sarah Ruth. Andai Edward manusia, saya ikut transformasi dari seorang manusia tanpa hati dan enggan mencinta, menjadi manusia penuh kasih dan menikmati kasih sayang.

Kekuata DiCamillo dalam bercerita, pilihan kata-katanya yang sederhana dan tak menggurui, membuat buku ini tak hanya layak dibaca anak-anak, tapi juga orang dewasa. Sejauh ini selain Little Prince, The Miraculous Journey of Edward Tulane menjadi buku anak favorit saya.

*thank to c20 library yang sudah meminjamkan dua buku manis ini